Secret [ Part 2 ]

Seorang anak perempuan berlari menuju seorang namja yang siap menarik pelatuk pistol yang ia arahkan ke kepala seorang namja paruh baya. Tubuh mungilnya mendekat dengan gemetaran tanpa menggunakan pengaman yang melekat pada tubuhnya. Mungkin seluruh keberaniannya ia kumpulkan hanya untuk melakukan hal bodoh itu, mendekati seorang yang jelas-jelas memiliki nafsu untuk membunuhnya.

“Jangan bunuh appaku!” Teriak anak perempuan itu dengan suara melengking.

Namja berpistol itu sama sekali tak memperdulikan anak perempuan yang menabrak kakinya.

Jaebal, jangan bunuh anak ku, bunuh aku saja. Taeyeon ah.. Kembalilah ke kamar bersama kakakmu.” ucap namja paruh baya tersebut yang merupakan ayah dari gadis mungil itu yang dalam posisi ‘mati’, tak berdaya untuk melakukan apa pun.

“DOR.”

Namja itu dengan mudahnya menarik pelatuk dari pistol yang ia genggam. Seketika tepat ditengah-tengah, sebuah peluru mendapatkan ‘rumah’ barunya. Darah mengalir deras dari kening laki laki tua yang menjadi sasaran pistol. Tubuhnya yang sudah lemah jatuh ke lantai menimbulkan bunyi berdebam

“Tae..yeon ah.. lari..” ucapnya, perkataan terakhir yang keluar dari mulutnya.

Ia tak berlari, ia tetap diam di posisinya, sambil menangis kencang ia melempar segala macam barang yang ada di dekatnya. Pria pembawa pistol itu mendekat hingga akhirnya Taeyeon mati langkah. Ia hanya menangis menatap namja itu dengan penuh amarah.

“DOR.”

Andwae!

Yoona yang sedang memasak sebuah masakan yang baru saja ia pelajari dari buku resep, langsung meninggalkan dapur menuju kamar sang oppa.

Oppa gwaenchana?” Tanya Yoona khawatir.

Dilihatnya Heechul yang sudah dalam keadaan duduk di tempat tidurnya. Menggenggam sebuah pistol warna hitam miliknya erat-erat. Pistol yang ia bawa dari kecil dan selalu ia jaga baik-baik. Keringat membasahi tubuhnya, nafasnya terengah-engah seperti habis berlari.

“Kau bermimpi tentang orang yang membunuh appa dan adikmu lagi?” Tanya Yoona.

Heechul mengangguk, menjawab pertanyaan yang diajukan Yoona.

Beberapa detik kemudian Yoona duduk mendekati Heechul. Bukan hanya duduk tapi juga memeluk tubuh Heechul yang tak begitu besar.

Oppa, disini sudah ada aku. Aku tahu ini terdengar egois, tapi…, lupakan kejadian itu, you have to move on oppa…” ucap Yoona yang dalam keadaan memeluk Heechul.
Seketika jantung Heechuk kembali berdetak dengan normal. Keringatnya tak lagi mengalir deras dari tubuhnya. Airmatanya juga sudah berhenti turun dari matanya.

***

“Aku mau ice cream!” Pinta Yuri.

Kebetulan Kyuhyun sedang ada syuting sebuah acara music, Donghae menemani Jihyun yang ditinggal oleh kedua orangtuanya keluar negeri dan Changmin sedang sibuk pindah rumah. Hanya Eunhyuk lah yang tersisa untuk mengawal Yuri, sekaligus menjadi babu Yuri.

“Beli saja sendiri.” balas Eunhyuk yang duduk disebuah kursi sambil membaca buku milik Yuri.

“Aish, kaukan bodyguardku. Ayo lah, belikan aku ice cream.” rengek Yuri. Ia mencoba bertingkah imut agar Eunhyuk mau menuruti permintaannya.

Mata Eunhyuk langsung melirik Yuri tajam. “Kau kan sudah besar, beli lah sendiri. Dasar gadis manja.” omel Eunhyuk.

Yuri mengerucutkan bibirnya tanda kesal pada Eunhyuk. Dengan kesal ia mengambil dompet miliknya lalu bersiap untuk pergi membeli ice cream sendiri.

“Jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa pada ku!”

Kedua bola mata Eunhyuk langsung berputar dan melebar. Perkataan Yuri seakan menjadi ancaman besar baginya. Jika terjadi apa-apa dengan Yuri maka bukan hanya ke 3 temannya yang akan memarahinya tapi atasannya, Lee Jinki pasti menguburnya hidup-hidup.

“Baik lah Yuri-ssi kita beli bersama sama. Adil bukan?” tukas Eunhyuk setelah meredam emosinya.

Sampailah mereka berdua disebuah toko ice cream. Keduanya sama-sama membeli 1 scoop ice cream.

Perasaan Eunhyuk mulai tak enak. Rasanya seperti ada berpasang-pasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya dan Yuri. Tak mau kecolongan matanya melihat ke setiap sudut ruangan. Tidak luput secenti pun bagian dari ruangan itu diperhatikannya.

“Eunhyuk-ssi waeyo?” Tanya Yuri. Ia menyadari tatapan mata Eunhyuk yang sedikit aneh dan menjadi waspada, tidak seperti tadi.

Aniyo, lebih baik kita cepat pergi dari sini..,” Eunhyuk langsung menarik tangan Yuri keluar dari toko ice cream tersebut dengan tergesa-gesa.

Dengan cepat Eunhyuk menghempaskan Yuri dengan kasar ke dalam mobil. Tergesa-gesa Eunhyuk menyalakan mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Dalam hitungan detik mobil sport Eunhyuk sudah meluncur di jalan raya.

“Eunhyuk-ssi wae? Apa yang terjadi?” Tanya Yuri bingung.

“Yuri.. Bisakah kau diam dulu? Dibelakang ada 2 mobil mengikuti kita berdua.” Ujar Eunhyuk frustasi. Matanya sibuk memandang jalanan di hadapannya dan kaca spion tengah untuk memantau kedua van hitam yang mengikutinya.

Mata Yuri kemudian mengarah pada kaca spion tengah yang berada didalam mobil. Dari kaca yang mencerminkan bagian belakang itu, terlihat 2 mobil van hitam yang terus mengikuti mobil Eunhyuk.

“Kau telpon Changmin! Pakai handphone ku!” Ujar Eunhyuk panik. Ia melempar handphonenya ke tangah Yuri dengan satu tangan, satu tangan lagi sibuk mengendalikan laju mobil. Matanya menatap lurus ke jalan raya.

“Ne~,” jawab Yuri patuh. Dengan sigap ia mencari nama Changmin di dalam contacts dan menghubunginya.

Yoboseyo Changmin-ssi, ini Yuri..” Eunhyuk langsung merebut handphone miliknya dari tangan Yuri begitu telefon tersambung.

Pertama-tama ia mengambil nafas kemudian, “Changmin ah.. Tolong aku, tadi aku membeli ice cream bersama Yuri dan dibelakang mobilku ada 2 buah van hitam yang mengikuti kami.” Jelas Eunhyuk.

“Aku mengarah ke Incheon, aku kehabisan akal.” Lanjut Eunhyuk.”Ah, ne, ara, ara” Eunhyuk langsung menutup sambungan telponnya secara sepihak.

Langsung saja ia menginjak rem secara tiba tiba. Tubuhnya dan Yuri sedikit terpental ke depan, beruntung ada seat belt yang mereka kenakan. Benar saja dugaan Eunhyuk bahwa ada 2 van yang mengikuti mereka dari belakang.

Dari bawah kolong kursinya, ia mengeluarkan benda hitam berbentuk seperti bumerang, sebuah pistol. Lalu ia memberikannya kepada Yuri. Dan mengambil barang yang siap untuk ia pakai.

“Ini untuk jaga jaga. Kalau mereka macam macam, tarik saja pelatuknya, jangan lupa arahkan ke mereka.” Ujar Eunhyuk.

“Aku belum pernah menggunakan benda ini.” ujar Yuri polos.

Eunhyuk mengangguk, lalu tersenyum pada Yuri. “Aku tau, tapi sekarang kau harus menggunakannya semua demi kebaikan mu, okay?” ujar Eunhyuk.

“Tunggu dulu didalam, jika kau melihat aku sudah KO, ingat! Bawa mobilku lari. Mobil ini sangat mahal harganya..,” Ujar Eunhyuk sambil memakai sarang tangan kulit hitamnya.

Bukan tanpa alasan ia memakai sarung tangan semua ia lakukan agar tak ada bercak-bercak lingkaran cap jari atau singkatnya sidik jari tertinggal di pistol itu.

Wish me luck, Kwon Yuri!” Eunhyuk langsung membuka pintu kemudinya.

Pertama-tama ia menarik nafas dalam, kemudian dengan gagahnya ia berjalan menuju van yang berhenti dibagian depan. Matanya sedikit melirik tajam si pengemudi. Dan aksinya pun dimulai.

Pintu pengemudi terbuka, orang disamping pengemudi keluar membawa benda hitam panjang. Eunhyuk mulai mengambil langkah mundur, mengambil ancang-ancang.

“Berikan yeoja yang ada di dalam mobilmu!” ucap sang pengemudi.

“Langkahi dulu mayatku!” ucap Eunhyuk garang.

Si teman pengemudi itu mulai menendang perut Eunhyuk dengan keras, ya cukup keras hingga Eunhyuk terpental ke belakang. Tak mau kecolongan Eunhyuk membalas tendangannya sama keras, ani lebih keras dari orang itu.

“Kau beraninya menendang ku,” seru orang tersebut berang. Ia menggertakkan giginya dengan penuh amarah.

Pertengkaran hebat terjadi, orang yang berada didalam van kedua turun. 4 orang banyaknya. Jumlahnya semakin banyak hingga membuat satu lawan 6. Situasi yang tak menguntungkan Eunhyuk sama sekali.

“Sial!” desis Eunhyuk.

Jalanan yang sepi, tak ada yang dapat dimintai bantuan. Berusaha sendiri adalah jalan satu satunya. Melindungi seseorang, menjalakan profesinya secara profesional.

Dalam waktu bersamaan keenam namja penumpang van, melayangkan berbagai serangan fisik dari berbagai arah ke tubuh Eunhyuk.

Beruntung dengab sigapnya Eunhyuk melumpuhkan ke 6 namja tersebut. 1 dengan tangan kanan yang menghantam perut. 2 dengan kaki, sengkatan kecil. 1 dengan menggunakan lutut yang diarahkan ke bagian vital seorang namja. Dan 2 lagi, kerah baju mereka ditarik, mengarahkan kepala 2 korbannya itu berhadapan lalu mengadu mereka layaknya banteng, hingga kepala mereka terbentur 1 sama lain. Kedua orang tersebut langsung jatuh karena sakit kepala yang hebat akibat kepala mereka beradu.

“Pengecut selalu kalah.” desis Eunhyuk sinis.

Tanpa mememastikan musuh yang bergeletakan masih mampu melawan atau tidak, Eunhyuk pun berjalan kembali ke arah mobil sambil membetulkan kerah bajunya.

“Yak!”

Eunhyuk pun berbalik kepada mereka lagi.

BEG.

“Akh..”

Seorang dari mereka yang masih mampu mengeluarkan sebuah pisau. Pisau yang cukup tajam. Perut Eunhyuk berhasil menjadi sasaran pisau itu. Perlahan tapi pasti Eunhyuk tergeletak di jalanan dengan tangan memegangi bekas luka yang ditinggalkan pisau tersebut. Darah mulai mengalir, pelan tapi pasti, semakin lama semakin banyak.

“Eunhyuk ssi!” Yuri pun keluar dari mobil milik Eunhyuk.

Namja yang menikam Eunhyuk dengan pisaunya, langsung tersenyum. Orang yang ia cari akhirnya muncul dengan sendirinya layaknya binatang buruan yang masuk ke dalam perangkap.

Annyeong Yuri ssi,” ujarnya sambil melangkahkan kaki pelan ke arah Yuri.

Langkah mundur kebelakang diambil oleh Yuri. Ia tak sadar pintu mobil Eunhyuk yang terbuka, memberi hambatan untuknya berjalan mundur. Ia terjebak diantara namja itu dan pintu mobil.

“Mundur kau!” Yuri pun mengarahkan pistol pemberian Eunhyuk ke arah namja tersebut.

“Jangan bermain main denganku Yuri ssi,namja itu mengacungkan telunjuknya ke arah Yuri, seakan melarang Yuri bertindak gegabah dengan pistol hitam tersebut.

Jarak mereka semakin dekat hingga akhirnya, namja itu berhasil merebut pistol dari tangan Yuri.

“Aku tak mau bermain kasar Yuri ssi, ayo ikut aku1″ namja itu langsung memegang pergelangan tangan Yuri kencang dan menggeretnya dengan paksa.

Andwaaee!” jerit Yuri.

BUG!

“Changmin ssi..,

Mata Yuri seakan terpana memandang malaikat penolong datang. Dari balik tubuh Changmin juga terlihat Kyuhyun dengan menggunakan penyamaran dan Donghae yang sedang melumpuhkan musuh yang masih sanggup berdiri dan mengajaknya berkelahi.

Gwaenchanayo?” Tanya Changmin yang baru saja memukul namja yang menggeret Yuri. Namja itu sudah tergeletak diatas aspal.

Anggukan Yuri sudah berarti jawaban bagi Changmin. “Tapi Eunhyuk oppa…” Changmin langsung memandang namja yang tergeletak tak berdaya di jalanan beraspal dengan tangan memegangi perut. Darah menggenang di sekitar perutnya.

Changmin dan Yuri langsung menghampirinya.

“Hyuk ah~ hyung!! Bangun lah!!” Panggil Changmin sambil memangku kepala Eunhyuk.

Selesai mengurusi para pelaku, Kyuhyun membuka penyamarannya lalu berlari ke arah Eunhyuk bersama dengan Donghae.

“Dia masih hidup!” ujar Kyuhyun sambil memegangi nadi di tangannya.

Tanpa aba-aba Changmin langsung membopong tubuh sahabatnya itu ke dalam mobilnya. Yuri dengan Donghae menggunakan mobil Eunhyuk dan Kyuhyun menggunakan mobil miliknuya, mengikuti mobil Changmin melaju.

***

“Yoona ya~, aihh, siapa ini lucu sekali.”

Yonna langsung menengok ke belakang menatap temannya yang tiba-tiba saja datang.

“Hi Jess! Ah dia, murid Donghae oppa yang ditinggal pergi orang tuanya ke luar negeri dan ia dititipkan pada Donghae.” Jelas Yoona.

Yeoja yang biasa disapa Jessica, membulatkan mulutnya, membentuk angka ’0′ di bibirnya. Kemudian mengambil posisi duduk didekat Yoona, yang sedang berada disebuah taman.

“Lalu mana dia?” Tanya Jessica.

Molla, katanya dia sedang ada urusan. Jadi aku menggantikannya menjaga anak ini sampai urusanny selesai.”

Sekali lagi ia membulatkan mulutnya. Kemudian mereka berdua saling membisu sambil memandangi setiap gerak-gerik Jihyun yang asik bermain pasir di taman.

“Bagaimana hubunganmu dengan Donghae?” Jessica langsung menatap Yoona, menunggu jawaban dari bibir manis Yoona.

Kepala didongakkan ke atas memandang langit. Yoona sedikit memikirkan jawaban dari pertanyaan Jessica. Jawaban yang paling sulit ia jawab.

Menjawab pertanyaan yang tidak punya jawaban yang ‘pas’ tak semudah mengedipkan mata. Mungkin sesusah menjawab soal matematika, tapi masih tidak bisa dijawab karena soal itu sebenarnya salah.

“Aku mencintainya. Tapi, mungkin dia tidak.” jawab Yoona tidak pasti. Jessica mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Yoona.

BRUK.

“Hueee.” Terdengar suara tangisan anak kecil. Yoona dan Jessica langsung menoleh kearah bak pasir tempat Jihyun bermain pasir.

Jihyun terjatuh, Yoona dan Jessica langsung menghampirinya, memastikan tak ada luka serius ditubuhnya.

“Jihyun ah.. Mana yang sakit?” Tanya Yoona.

“Kenapa bisa jatuh, huh?” Lanjut Jessica bingung, pasir rata, tidak ada batu yang tergeletak tidak pada tempatnya atau potongan kayu yang jatuh dari pohon, bagaimana anak itu bisa jatuh?

Bukan menjawab ,dengan mulut yang sibuk mengeluarkan suara tangisan, hanya tangan yang tersisa untuk menjawab pertanyaan yang diluncurkan oleh Jessica dan Yoona.

Telunjuk mungilnya menunjuk-nunjuk lututnya yang memerah, banyak pasir yang menempel sehingga sedikit lecet. Yoona langsung mengeluarkan botol minum yang ada di tasnya, lalu menyiram bagian yang ditunjuk-tunjuk dengan air minumnya. Tujuannya hanya membersihkan pasir-pasir dari lututnya, ia takut ada lecet disana.

“Sudah jangan menangis. Ayo, kita cari ice cream dan balon saja.”

Jihyun mengangguk sambil mengusap cairan yang keluar dari hidungnya. Mau tak mau, Jessica mengubrak-abrik tasnya untuk mencari tissue, lalu mengelap cairan itu perlahan sehingga wajah Jihyun bersih kembali.

“Dasar anak kecil..,”

***

Tempat tidur beroda milik rumah sakit, meluncur dengan cepat menuju ruang UGD sebuah rumah sakit besar nan royal di Seoul. Seorang namja berbaring lemah akibat tusukan pisau yang membuat bagian perutnya mengeluarkan darah tak henti.

“Hyuk ah~ jangan mati.” ucap Donghae sang mengikuti jalannya tempat tidur itu dari belakang. Air mata tak berhenti mengalir dari kedua matanya. Walaupun ia namja, hatinya selembut wanita…, efek bekerja sebagai guru TK.

Changmin dan Kyuhyun hanya bisa berpasrah pada keadaan. Mereka tahu luka yang Eunhyuk dapatkan tak seringan luka-luka yang biasa ia dapatkan saat menjalankan tugas, tapi jika mereka menangis seperti Donghae dan Yuri, harga diri mereka akan jatuh ke dasar bumi.

“Kyuhyun ssi, bagaimana kalau Eunhyuk tak bangun lagi?” Tanya Yuri sambil menangis. Wajahnya terlihat sangat ketakutan sekaligus panik, untuk melindunginya seseorang harus mempertaruhkan nyawanya.

Kyuhyun mengeluarkan evil smirk khasnya. “Jiwa namja itu tak mungkin sebodoh itu meninggalkan tubuhnya. Ia tak mungkin mati, tenang saja, ia terlalu cinta pada hal-hal duniawi. Apalagi pada mobil-mobilnya tercintanya yang terparkir indah nan rapi di garasi rumahnya.” Ucap Kyuhyun.

“Tenang saja, Eunhyuk tak selemah itu.” Lanjut Changmin menenangkan Yuri.

Tap Tap Tap

Terdengar suara langkah yang menggema di lorong rumah sakit.

Seorang namja beralis tebal berlari ke arah Yuri. Ia memandang Yuri dari ujung kepala sampai kakinya. Memandang setiap jengkal tubuhnya dengan teliti, memastikan tidak ada luka setitik pun di tubuh Yuri. “Syukurlah kau tak apa apa.” ujar namja itu dengan wajah sedikit

“Siwon ssi…, yang terluka itu Eunhyuk bukan pacarmu..,” sela Donghae dengan suara yang tak begitu keras dan jelas akibat tangisannya.

Siwon mengangguk lalu duduk disamping Yuri. Memengang tangannya sekedar menenangkan sang pacar yang masih menangis, merasa bersalah.

OMO! Untung kalian pacaran, aku jadi ingat harus menemani Seohyun pacarku yang sangat cantik, nonton fashion show” Kyuhyun menaruh tangan kanannya layaknya orang kaget dalam drama drama.

Donghae langsung menatapnya sinis, matanya yang berair menutupi mata marahnya. “Kau masih bisa mementingkan pacarmu itu? Teman mu itu sedang sakit!” Omel Donghae.

“Aish ara aku batalkan janjiku!” Decak Kyuhyun kesal.

Orang berpakaian medis keluar dari UGD, tak lain dan tak bukan ia adalah dokter yang menangani Eunhyuk. Sarung tangan penuh darah ia kepal di kedua tangannya. “Maaf siapa anggota keluarganya?” tanya Dokter itu.

“Saya!” Donghae langsung mengangkat tangannya.

“Baik ikut saya~” Dokter itu langsung berjalan ke ruangannya. Donghae yang mengaku aku sebagai keluarganya pun mengikuti dokter tersebut.

Mencari kesempatan dalam kesempitan. Changmin langsung menarik Siwon menjauhi para manusia manusia yang ada. Mencari tempat yang cukup sepi untuk berbicara. “Siwon ssi, apa kau tau TigerCat itu apa?” tanya Changmin to the point.

Molla tapi aku bisa mencari tau. Waeyo?” tanya Siwon.

Changmin menaruh tangannya didagu. “Salah satu dari mereka punya Tattoo bertuliskan ‘TigerCat’. Pisau yang mereka pakai juga bertuliskan ‘TC’.” Jelas Changmin.

“Baik lah aku akan mencari tau tentang TigerCat. Tentang kejadian 10 tahun lalu, aku bertanya pada appa ku tentang kejadian itu. Sebenarnya kejadian 10 tahun itu adalah pembunuhan, ani itu bukan sebuah pembunuhan tapi pembantaian sebuah keluarga yang konon ceritanya pemilik Kim Corp yang sudah lama bangkrut itu. Semua anggota keluarga Kim meninggal” jelas Siwon.

Changmin tersenyum seakaan mendapat pencerahan. “Aku mulai mengerti tentang khasus yang melibatkan pacarmu Choi Siwon”

***

“Maaf tuan, kami gagal dalam melaksanakan tugas.” ucap namja-namja penusuk Eunhyuk. Mereka semua menundukkan kepala di hadapan seorang laki-laki.

“BODOH!!” Teriak namja bertubuh besar itu.

Namja bertubuh besar yang merupakan bos mereka, langsung mengambil handphone miliknya untuk menelpon atasannya. Melaporkan perkerjaan anak buahnya yang tak tuntas.

“Baik lah, saya mengerti.”

“Shindong nim.. Mianhae, jaebal, maafkan kami.” teriak para namja pelaku penusukan.

Shindong, begitulah panggilan mereka pada namja bertubuh besar yang berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ia beranjak dari tempatnya untuk menaiki mobil miliknya. Ia duduk dibangku belakang atau bangku penumpang. Sebelum berjalan kaca mobil itu diturunkan. Dengan kepala lurus kedepan ia mengucapkan 2 kata tanpa menatap anak buahnya yang sudah berdiri di depan kaca mobil.

“Bunuh mereka.”

Seorang laki laki, tersenyum sinis didepan layar monitor computerya. Setelah menerima telpon dari Shindong sang bawahan. Ia harus berpikir keras, memutar otaknya untuk menyusun sebuah strategi baru. Ia menatap monitornya sekali lagi ia memandagi orang yang menjadi targetnya.

“Kau harus membayar kematian keluargaku Kwon Yuri”

***

TBC

6 thoughts on “Secret [ Part 2 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s