Secret [ Part 6 ]

Image

Donghae berjalan di atas puing-puing rumahnya yang tersisa dari lalapan api. Ia mengumpulkan barang-barangnya yang tidak ikut menjadi abu dan masih berbentuk. Jihyun duduk dengan tenang di bangku taman yang ada di depan rumah Donghae, Donghae berhasil menyogoknya dengan es krim agar ia mau duduk diam sehingga ia dapat mencari barang-barangnya.

Beberapa polisi dan tentunya agen dari KSA masih lalu lalang di sekitar lokasi, mencari tahu penyebab dari kebakaran tersebut.

“Bagaimana?”“Hmm, kami menemukan beberapa sisa korek api dan bekas siraman minyak tanah.” Seorang agen KSA yang menyelidiki TKP membicarakan hasil temuannya kepada Donghae dan Onew yang baru tiba di lokasi.

“Semakin jelas siapa pelakunya.” desis Onew pelan. Tangannya meremas kopi kaleng yang ada di genggaman tangannya sampai kaleng itu remuk. Donghae hanya bisa menghela nafas dan memejamkan matanya, lalu menatap langit biru yang terbentang luas tanpa awan.

“Kita harus secepatnya mencari tahu pemimpin Tiger Cat dan memusnahkan manusia laknat itu.” ucap Donghae. Urat-urat lehernya terlihat jelas, tangannya terkepal sehingga urat-uratnya muncul kepermukaan kulit. Ia mengalihkan perhatiannya dan melihat Jihyun sedang berjongkok di dekat puing memandangi sesuatu yang tergeletak di atas tanah. Dengan segera ia menghampirinya, karena tidak ingin Jihyun memegang kotoran yang ada di tanah.

“Jihyun ah, jangan memegang tanah, kotor ah.” Donghae ikut berjongkok di sebelah Jihyun dan mengangkat tangannya.

Oppa, ini apa?” Jihyun menunjuk suatu benda yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Donghae mengernyitkan dahinya, lalu mengenakan sarung tangan yang tadi disimpannya di kantung celananya, mengambil benda itu. Sebuah pisau dengan ukiran TC.

“Jinki, ada barang bukti baru, orang bodoh yang membakar rumahku dengan tololnya meninggalkan pisau ini, kita bisa melacak sidik jari yang tertinggal dan menangkapnya, lalu menginterogasinya agar ia buka mulut mengenai bosnya. Aku yakin bukan laki-laki tambun itu dalang dari semua ini, pasti ada orang lain.” Donghae bergegas kembali ke tempat Jinki yang masih berbicara dengan beberapa bawahannya. Meninggalkan Jihyun yang terbengong-bengong karena benda yang sedang diperhatikannya diambil begitu saja. Donghae menyerahkan pisau itu kepada tim penyelidik untuk diteliti lebih lanjut.

“Bagus, lebih baik kita cepat selesaikan semua ini, ngomong-ngomong mengenai rumahmu, perusahaan akan menggantinya, mengingat ini semua terjadi kerena pekerjaanmu.”

***

Kyuhyun duduk di sofa ruang tunggunya, bekas luka tembaknya masih terasa hingga sulit untuknya untuk terlalu banyak bergerak. Tetapi ada daya, sebagai penyanyi yang terkenal dan profesional ia harus tetap tampil di hadapan para penggemarnya. Tiba-tiba handphone yang tergeletak di sebelah tempatnya duduk bergetar, tanda ada SMS masuk. Matanya membulat lebar begitu membaca isi pesan tersebut.

“Sial.” Kyuhyun mendesis pelan, lalu dengan hati-hati namun cepat bangkit berdiri, mengambil barang-barangnya lalu segera meninggalkan ruangan tersebut.

Ia memacu mobilnya menuju sebuah rumah mewah yang sangat luas. Di depan pintu gerbang berjaga beberapa bodyguard bertubuh besar dan bertampang sangar, dengan mudah ia memasuki rumah tersebut. Sedikit berlari, ia menuju satu ruangan di dalam rumah, setelah meninggalkan mobilnya secara sembarangan di depan pintu masuk rumah.

“Changmin ah..,”

Kyuhyun berdiri di ambang pintu ruang makan, Changmin menoleh ke arahnya dengan tangan bertopang di dagu. Mata Kyuhyun menatap tajam sesosok perempuan yang tergeletak di lantai dengan darah bersimbah membasahi lantai. Mayat pelayan keluarga Kwon itu ditemukan tergeletak di dekat meja makan dengan luka tusukan di perut yang sangat dalam.

“Di mana Yuri?” tanya Kyuhyun setelah mengalihkan pandangannya dari mayat itu. Kepalanya terasa pusing menghirup wangi darah yang menyengat memenuhi seluruh ruang makan.

“Sudah diamankan, Siwon dan Eunhyuk membawanya ke hotel agar lebih aman, seluruh rumah ini harus di periksa.” jawab Changmin dengan mata menatap lurus kedepan. Ia lalu menyodorkan sebuah kertas pada Kyuhyun tanpa melepaskan pandangannya. Kyuhyun menerimanya dengan dahi berkerut.

‘Ini hanya appetizer, Kwon Yuri. Aku akan menikmati makanan utama yang lezat, darah-mu yang merah pekat dan harum. Tunggulah, Kwon Yuri. Ingat, semakin kau mengelak, semakin banyak pula korban yang jatuh.’

Kyuhyun bergidik pelan setelah membaca surat dari orang yang diyakininya pemimpin Tiger Cat tersebut. Bulu kuduknya berdiri dengan sempurna saat ia membayangkan apa yang kira-kira akan terjadi.

Beberapa petugas forensik sibuk memeriksa keadaan mayat.

“Donghae hyung dimana?” tanya Kyuhyun seraya berjalan meninggalkan ruang makan, ia berniat menuju tempat Yuri berada. “Memeriksa keadaan rumahnya, bersama dengan Jinki. Ia sibuk mencari pelakunya agar kita bisa segera menghentikan pergerakan Tiger Cat, sebelum makin banyak korban jatuh.”

“Periksa seluruh sudut rumah ini, jangan sampai ada 1 titik pun yang terlewatkan. Mungkin saja pelaku menempelkan alat penyadap atau kamera!” Suara menggelegar Changmin menggema di dalam ruang tengah keluarga Kwon yang luas menyerupai ballroom hotel bintang 5. Di depannya berjejer para agen KSA yang siap memeriksa seluruh penjuru rumah. “Siap.”

***

“Ia tidak mau keluar dari dalam, dari tadi ia hanya meringkuk di bawah selimut.”

Siwon melirik pintu di belakang tubuhnya, kamar tempat Yuri bersembunyi dari segala ketakutannya. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa kamar suite yang disewanya untuk Yuri. Kamar hotel mewah dengan pemandangan kota Seoul dari ketinggian yang spektakuler sepertinya tidak bisa membuat rasa terancam Yuri hilang.

“Seulmi yang terbunuh sudah seperti kakaknya, umur mereka tidak berbeda jauh dan walaupun ia hanya pelayan, Yuri sangat menyayanginya.” Siwon menjelaskan mengapa Yuri sampai kehilangan semangat hidup seperti itu.

“Ia tidak berhenti menangi sedari tadi, dan saat akhirnya ia berhenti, ia malah terlihat seperti mayat hidup. Tatapan matanya sangat kosong.” Siwon mengacak rambutnya frustasi, Kyuhyun, Eunhyuk dan Changmin tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Apapun cara yang harus mereka tempuh, Tiger Cat harus dimusnahkan.

“Jinki meminta kita berkumpul di markas KSA.” Eunhyuk yang sedari tadi berdiam diri akhirnya membuka mulutnya setelah menerima pesan dari Jinki.

“Untuk sementara sepertinya di sini aman, di depan hotel sudah diamankan oleh beberapa agen tanpa seragam.” ucap Kyuhyun sebelum Siwon sempat bertanya. “Baiklah, tolong selesaikan semua ini.”

“Pasti, Siwon ssi.”

***

“Sampai kapan orang tua anak ini pergi sih? Kenapa jadi hampir setiap hari kita yang menjaganya.” Jessica memandangi Jihyun yang asik memainkan beberapa dress yang tergantung di rak dorong. Yoona hanya tersenyum geli melihat ekspresi wajah Jessica. “Tak apalah, ia berguna juga untuk pekerjaanku. Dari tadi ia terus mengoceh tentang baju-baju yang sedang kukerjakan ini.” balas Yoona sambil tersenyum.

Walaupun masih anak TK, sepertinya Jihyun mempunyai jiwa terpendam sebagai seorang stylist, sama seperti Yoona. Yoona merasa tidak terganggu dengan kehadiran anak kecil itu di lokasi pekerjaannya, karena anak itu seperti asistennya sekarang. Jessica menghela nafasnya pelan mendengar jawaban Yoona.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau dengan Donghae?”

Jessica kembali mengungkit satu hal yang sedang tidak ingin dipikirkan Yoona saat ini. Mengingatnya hanya membuat hatinya sakit dan semangat hidupnya turun. “Seperti biasa.” jawab Yoona dengan senyum getir. Sekuat tenaga ia menjaga nada suaranya agar tetap stabil.

“Dari pada membicarakan hal itu, apakah kau berhasil menggaet Changmin?” Sebelum Jessica membuka mulut dan membicarakan hal itu lebih jauh, Yoona segera mengalihkan pembicaraan menjadi Changmin. Sesuai dugaannya, Jessica langsung tersipu-sipu dengan pipi memerah. “Ahh, saat ini masih biasa saja, belum terjadi sesuatu yang special.” jawab Jessica dengan malu-malu. Mengingat wajah Changmin, membuatnya sulit berhenti untuk tersenyum. Saat kasmaran, manusia terlihat seperti orang gila yang tak henti-hentinya tersenyum hanya karena membayangkan wajah seseorang yang mereka cintai.

***

“Namanya Shin Donghee, biasa dipanggil Shindong. Seperti dugaan Donghae, ia bukan pemimpin Tiger Cat. Ia adalah orang yang mengatur sindikat penjual senjata ilegal, tetapi kelompok tersebut tidak ada hubungannya dengan Tiger Cat. Sepertinya ia bekerja sama dengan bos Tiger Cat ini untuk menjalankan aksinya. Kami masih belum berhasil menyelam lebih dalam mengenai organisasi mereka.” Jinki menjelaskan dengan panjang lebar sebuah foto laki-laki yang terpampang jelas di layar. Kyuhyun, Donghae, Eunhyuk dan Changmin duduk di meja rapat dengan santai, tetapi mata mereka menatap layar dengan wajah serius.

Eunhyuk dengan tatapan tajam menatap wajah tersebut. Wajah orang yang sudah menyebabkan mobil-mobil tercintanya menginap di bengkel dalam jangka waktu yang tidak diketahui.

“Mengenai sidik jari di di pisau yang ditemukan, errr, anak kecil itu, siapa namanya, abaikanlah. Kami berhasil melacaknya, Park Juwon. Ia mantan narapidana kasus pencurian, bebas 2 tahun yang lalu. Beberapa agen berhasil menangkapnya di kediamannya 2 jam yang lalu, sekarang ia mendekam di sel KSA, menunggu kalian yang akan menginterogasinya.”

Mata Donghae terlihat berbinar mendengar pelaku pembakaran rumahnya telah tertangkap. Ia akan membalas perbuatan orang yang telah menghancurkan peninggalan, satu-satunya hadiah yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

***

“Jadi, kau tetap tidak mau buka mulut mengenai siapa bosmu?” Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, Changmin mondar-mandir di depan Juwon. Wajahnya terlihat tenang, berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Juwon yang terlihat marah. Sementara Changmin membuang waktu di dalam, mempermainkan emosi Juwon, Kyuhyun, Donghae dan Eunhyuk memantau dari balik kaca yang dilapisi kaca film.

Donghae dilarang menginterogasinya karena takut jiwa setannya akan bangkit dan Juwon akan masuk rumah sakit beberapa menit kemudian, kemungkinan terburuknya, Juwon akan masuk ke dalam liang kubur.

“Sudah 30 menit, dan ia belum bicara sepatah kata pun. Apa yang harus kita lakukan? Changmin belum bosan mengatakan hal yang sama dari tadi? Biar aku yang turun tangan saja!” Kesabaran Kyuhyun sudah mencapai batas akhir, ia bosan melihat pemandangan di depannya. Ia ingin membuat Juwon membuka mulutnya dan membuatnya bicara, dan menyesal karena telah diam.

“Sabar, kita tidak bisa gegabah. Kalau kau turun tangan, bisa mati duluan ia sebelum bicara. Dia satu-satunya penghubung kita dengan Tiger Cat sekarang,” ujar Eunhyuk. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan besar terhadap Kyuhyun. Mengingat orang ini ada hubungannya dengan luka di perutnya dan pastinya dengan kehancuran rumah Donghae menjadi abu, mereka berdua pasti menyimpan dendam besar pada Juwon.

Kyuhyun hanya bisa mendecak kesal sambil kembali menatap ke balik kaca, Changmin masih mondar-mandir di hadapan Juwon. Keadaan masih tetap sama, Juwon tetap menutup rapat mulutnya.

“Kita bisa berlumut kalau menunggu ia bicara disini, lebih baik kita menjaga Yuri, hanya ada Siwon bersamanya saat ini.” Donghae angkat bicara karena jujur, ia sudah hampir 1 jam berdiri memandangi 2 manusia di balik kaca. Rasa bosan tidak mungkin tidak menghampirinya di situasi ini.

***

Donghae membuka pintu rumah Yoona dengan hati-hati. Sudah tengah malam dan ia yakin semua orang sudah tidur. Ia tidak ingin membangunkan siapa pun. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki di dalam rumah. Terlihat lampu ruang tengah masih menyala, Heechul duduk membelakanginya. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Donghae karena konsentrasi terpusat pada sesuatu.

“Kalian akan menyesal karena telah membunuh ayah dan adikku keluarga Kwon, lihat saja, akan kubuat kau menyaksikan kematian putrimu sendiri, Kwon Yujin.”

Donghae terkesiap, jantungnya berpacu setelah mendengar ucapan penuh kebencian yang keluar dari bibir Heechul. Keringat mulai membasahi dahinya. Ia menyenderkan tubuhnya di tembok yang membatasi antara ia dengan Heechul.

Ia tidak menyangka sama sekali, seseorang yang sudah dikenalnya sejak lama, seorang yang diketahuinya sebagai teman ternyata adalah musuhnya saat ini. Ia yang menyebabkan teman-temannya terluka. Ia yang membuat rumah kesayangannya rata dengan tanah.

Handphone milik si pengintip, Donghae bergeta di saku celananya. Sebuah pesan singkat masuk kedalam handphonenya itu. Si pengirim tak lain adalah sang sahabat karib dan kerjanya Shim Changmin.

‘Kim Heechul, pimpinan dari Tiger Cat’

“Oppa!”

Sebuah suara membuatnya sedikit terkejut. Ia takut ketauan manusia yang berada di ruang rengah. Donghae pun menarik si pemilik suara itu sedikit menjauh dari ruang tengah. Sayang sekali gerakannya kurang cepat dengan Heechul. Mereka, atau lebih tepatnya Donghae tertangkap basah oleh Heechul.

Matanya sedikit melebar ke arah Donghae, tak ada mata Heechul yang menunjukan kedamaian seperti biasanya. Saat ini matanya mendelik marah pada Donghae. “Kau sudah mendengarnya?” tanya Heechul.

“Hyung, aku tak menyangka kau sekeji ini.” Donghae pun sedikit maju dan memposisikan Jihyun dibelakang kakinya, tinggi anak itu belumlah mencapai pinggang Donghae.

“Ini hidupku, hanya aku yang bisa menentukan apa yang harus kulakukan dan apa yang kupikirkan. Lee Donghae, andai saja kau tak ada dipihak yang salah. aku tak akan membakar rumahmu itu.” Jelas Heechul.

Donghae pun terdiam. Ia tak tau harus bagaimana. Jika ia marah pada Heechul sama saja ia seperti manusia yang melawan singa di kandangnya sendiri. Jika ia langsung memberi pukulan pada wajah Heechul, sama artinya ia memberi tontonan dewasa pada Jihyun yang masih duduk di taman kanak-kanak.

“Hyung, aku mohon berhentilah. Aku tak mau kau mendekam di balik jeruji besi.” ucap Donghae dengan nada memohon.

“Lee Donghae, dengar, aku tak mau bermain kasar dengan orang yang sudah ku anggap dongsaeng sendiri. Aku mohon padamu keluar lah dari KSA, kau pasti sudah mengetahui semua seluk beluk masalah Kwon Corp. Bergabunglah padaku, aku adalah pihak yang dirugikan bukan mereka.” ucap Heechul.

Perkataan Heechul memang benar adanya, ialah yang dirugikan. 2 anggota keluarganya meninggal karena dibunuh oleh orang suruhan perusahaan Kwon Corp. Tapi Donghae lebih berpikir rasional, saat ini pihak Yuri lah yang dirugikan. 2 temannya bahkan dirinya sendiri menjadi korban.

“Maaf Hyung, aku tak bisa.”

Heechul tertawa basa basi sambil membuang wajah ke arah kanan dengan ekspresi meremehkan perkataan Donghae.

“Kudengar Donghwa, sedang sakit. Bahkan ia berada di ICU. Aku memberi penawaran padamu, tawaran pertama kau keluar dari KSA dan bergabung denganku. Tawaran kedua kau tetap memihak Kwon Yuri, dan Donghwa akan segera lenyap dari kehidupanmu.” kata Heechul.

Otak dan jantung Donghae seakan disuntik narkoba, mereka bekerja sangat cepat setelah mendengar perkataan atau lebih tepatnya tawaran yang sangat susah baginya. Tawaran yang sama sama membuat dirinya dalam posisi ‘salah’, jika tawaran pertama ia pilih, Yuri menjadi korban dan jika tawaran kedua ia pilih, Donghwa lah yang ia korbankan. Nyawa 2 orang yang saat ini menjadi orang penting dalam hidupnya akan menjadi korban pembunuhan yang akan mati sia sia.

Tak sabar, Heechul menarik Jihyun dari balik tubuh Donghae yang dapat dibilang sedikit lebih besar dari Heechul. Ia mengambil pisau saku yang tergeletak di sebuah meja. Jihyun tidak berteriak sama sekali, fobianya akan benda tajam membuat suara teriakannya tertelan begitu saja.

“Cepat jawab, atau korbanmu akan bertambah 1.” Pisau itu di dekatkan pada leher Jihyun mungil, membuat Donghae ingin menyuntikan suplemen pada otaknya yang sudah lelah berpikir.

“Aku pilih Donghwa. Hyung jebal jangan bunuh Donghwa hyung. Dan lepaskan Jihyun sekarang.” ujar Donghae lirih.

Ia tak tau apa yang ia jawab. Mulutnya seakan berpikir sendiri tanpa ada kesepakatan dengan hati dan otaknya. Mau tak mau ia harus mengikuti apa yang Heechul ucapkan sekarang. Setiap kata yang keluar dari mulut Heechul harus ia lakukan, walaupun itu akan membuatnya berhianat pada Yuri atau pun teman temannya.

“Jihyun ah~ gwaenchana?” tanya Donghae pada Jihyun yang baru saja dilepaskan setelah statusnya menjadi sandera dadakan Heechul. Jihyun pun menggunakan anggukan untuk menjawabnya. “Dengar, jangan ceritakan hal inipada siapa pun! Janji?” tanya Donghae sambil menyodorkan kelingking miliknya kehadapan Jihyun. Dengan rasa ragu Jihyun menyambut dan membalas kelingking itu dengan kelingking kecil mungil miliknya.

***

Pagi ini Yoona benar-benar dikejutkan dengan perilaku Donghae yang berbeda dari biasanya. Sikapnya berubah drastis dalam waktu semalam. Ia melamun sepanjang sarapan pagi, tak ada ucapan ‘good morning’ atau ‘apa kabar’ dari bibir milik Donghae. Setelah sarapan Donghae lebih memilih untuk keluar menemui Changmin dan teman temannya yang lain.

“Jihyun, oppamu kenapa?” tanya Yoona.

Jihyun menggeleng. Ia sudah berjanji, sebagi anak kecil yang alim dan sangat baik serta menurut pada oppanya yang sangat ia sayangi itu, ia tak akan mengingkari janjinya pada Donghae. Yoona pun menghela nafas, kecewa tak mendapat jawaban dari Jihyun, yang ia anggap sangat dekat dengan Donghae. Terpaksa ia melanjutkan aktivitas paginya, mengingatkan Heechul untuk sarapan.

Saat di kamar Heechul, Yoona sedikit terkejut dengan kasur yang sangat berantakan. Kamarnya seperti kapal yang porak poranda akibat bom dari kapal bajak laut. Lampu meja yang sedahulu terpajang rapi sekarang terjatuh di lantai dengan lampu didalamnya pecah tak berbentuk. Fotonya dengan Yoona tergeletak didekat tubuh Heechul yang terduduk didekat kasurnya.

“Oppa, kau ada masalah?” tanya Yoona.

“Yoona, oppa ingin sendiri. Keluarlah.” ucap Heechul

“Tapi oppa..”

“KELUAR!!”

Yoona yang sedikit kaget sontak keluar dari kamar Heechul dengan detak jantung yang tak beraturan layaknya sebuah musik classic yang tiba tiba berubah menjadi musik rock. Heechul tetap diam diposisinya sambil menatap langit-langit di kamarnya. Setiap malam, mimpi tentang kehidupan lamanya kembali datang. Bukan pertama kalinya, tapi sudah hampir 3 hari mimpinya sama sekali tak berubah. Dan semua itu membuatnya depresi.

“Hyung, kau kenapa?” tanya Kyuhyun yang datang entah dari mana.

Ia duduk di samping Donghae yang ada di dalam kantor KSA. Disana ia tak sendiri, Siwon dan Yuri juga berada disana. Mereka tak saling berbicara, Siwon dan Yuri hanya duduk diam memperhatikan Donghae yang seperti kehilangan nyawanya. Kyuhyun satu-satunya orang yang berani duduk disamping Donghae setelah hampir 1 jam Donghae duduk disana dan tentunya banyak orang yang lalu lalang di depan Donghae.

Pertanyaan Kyuhyun sama sekali tidak di dubris oleh Donghae. Donghae asik dengan pikiran dan imajinasinya. “Ada apa sih? Yang harusnya merenung itu aku Lee Donghae, bukan kau!” ucap Kyuhyun sambil merangkul leher Donghae. Donghae tidak bergeming.

“Cho Kyuhyun, kalau kau diberi pilihan, teman atau keluarga, mana yang akan kau pilih?” tanya Donghae.

Kyuhyun langsung membenarkan posisi duduknya dengan hati-hati agar lukanya tak terasa nyeri. Ia sedikit berpikir, mencari jawaban yang tepat untuk Donghae. “Kau bertanya dari sisi mana? Karena aku tak begitu dekat dengan keluarga tentu saja aku memilih teman.” jawab Kyuhyun.

“Kau pilih teman mu yang mati atau keluargamu yang mati?” tanya Donghae lagi.

“Aku akan memilih diriku sendiri yang mati, aku rela mati untuk mereka asalkan orang-orang yang kucintai tetap dapat menghirup oksigen dengan baik.”

Jawaban Kyuhyun yang diluar dugaan membuat Donghae terdiam. Ia kembali memikirkan keputusan yang telah ia buat semalam. Keputusan yang sepertinya sangat keliru untuk diambil.

“Hei hyung, kok bengong lagi?”

Donghae sadar saat Kyuhyun menusuk pipinya dengan telunjuknya. Ia muncul kembali ke permukaan setelah tenggelam dalam pikirannya tadi. “Aniya. Gwaenchana.”

“Jadi namanya Kim Heehcul?” tanya Kyuhyun, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Donghae mengangguk, anggukan pelan membuat Kyuhyun semakin putus asa pada hyungnya yang sangat aneh ini. Akhirnya ia memainkan game di hpnya, sambil menunggu kedatangan Eunhyuk dan Changmin.

“Apa kau marah jika teman mu berhianat pada mu?” tanya Donghae lagi.

“Tentu saja, mana ada orang yang mau dihianati. Kau ini kenapa sih hyung, bicaramu melantur” jawab Kyuhyun frustasi.

Drrtt

‘Bawa Yuri ke depan minimart didepan KSA’

Tulisan tulisan itu membuat Donghae sedikit tercengan. Ia terdesak, ia benar benar harus melakukan apa yang diperintahkan si pengirim sms yang tak lain dan tak bukan adalah Heechul.

“Yuri ah~ mau menemaniku tidak?” tanya Donghae

Yuri yang semula bemesraan dengan Siwon, langsung memandang Donghae. “Mau kemana oppa, ya sudah dari pada bosan disini!” jawab Yuri girang dengan mulai bangun dari duduknya.

“Kajja!” Donghae langsung menarik tangan Yuri dengan erat keluar dari ruagan.

Siwon dan Kyuhyun saling berpandnagan, Donghae dapat memasang wajah riang pada Yuri tapi  dengan mereka tidak sama sekali. Tak ada rasa kawatir di hati mereka berdua, mengingat yang membawa Yuri keluar adalah Donghae, bukan orang luar yang misterius.

Di bagian lift gedung KSA, Donghae berusaha menenangkan dirinya. Ia mulai memikirkan Donghwa, bagaimana bila ia tak menjalankan tugasnya maka Donghwa akan mati sia sia karena tindakan bodoh dirinya. Di bagian otak sebelah lain, Donghae juga memikirkan apa yang akan Heechul lakukan jika Yuri ada ditangannya. Dibunuh, satu kata yang semakin terniang di otak Donghae.

“Kita mau kemana?” tanya Yuri.

“Mini mart didepan gedung ini.” Yuri langsung membuat simbol ‘O’ di mulutnya.

Di minimart sudah terlihat sesosok namja berpakaian serba hitam. Ia adalah Choi Minho yang merupakan salah satu anak buah dari Heechul. Tak ada kecurigaan bagi orang orang di mini mart pada Minho, wajahnya yang sangat tampan membuatnya sama sekali tak terlihat seperti orang jahat tapi malah dianggap sebagai model.

“Aku cari permen dulu ya.” Yuri langsung menuju rak yang penuh dengan permen.

Minhopun perlahan mendekati Donghae. “Lee Donghae ssi, bius Yuri sekarang” ucap Minho dengan suara berat. Tangannya mengeluarkan sebuah sapu tangan dengan obat bius dosisi sedikit besar. Obat bius itu akan bekerja setelah sang korban menghirup wangi atau bau obata setelah 3 detik. Sapu tangan itu langsung diberikan pada Donghae.

Perlahan Donghae mendekati Yuri yang sedang berbahagia mencari cari permen di rak rak permen. Langkahnya tiba tiba menjadi berat seakan tak tega pada Yuri. Beberapa langkah sebelum mencapai Yuri perkataan Kyuhyun terniang niang di kepalanya.

“Aku akan memilih diriku sendiri yang mati, aku rela mati untuk mereka asalkan orang-orang yang kucintai tetap dapat menghirup oksigen dengan baik.”

Dan beberapa detik kemudian ia berusaha menghilangkan semua ucapan Kyuhyun tersebut. Ia berfokus pada apa yang ia lakukan saat ini. Memikirkan Donghwa yang sakit adalah obat yang membuat nyalinya keluar untuk berhianat  pada orang terdekatnya.

“Yuri” panggil Donghae.

“Ne~ Wae… hmppph” Donghae langsung membekap Yuri dengan sapu tangan milik Minho tersebut.

Setelah Donghae memulai aksinya, Minho seakaan join atau membantu Donghae. 3 detik Yuri langsung kehilangan kesadaran, dan tangan Minho langsung menangkap tubuh ramping Yuri. Minho langsung mengelabuhi sang kasir dengan berpura pura bahwa Yuri pingsan. Dan setelah berada diluar Yuri dengan kedaan terlentang dimasukan ke dalam Mobil jeep hitam yang sudah terparkir disana.

Donghae diminta ikut oleh Minho, Heechul lah yang menyuruhnya.

“Kenapa kedua manusia itu lama sekali?” tanya Kyuhyun.

Didalam sudah datang Eunhyuk dan Changmin disertai Onew yang saat ini sibuk membolak balik berkas berkas yang Siwon dapat dari rumah Sungmin.

“Sudah tunggu saja mereka pasti kembali.” Ujar Siwon.

DRTT

Handphone Siwon bergetar. Pahanya terasa geli akibat getaran yang sangat kencang dari handphonenya. Ia segera membuka sebuah pesan yang masuk kedalam Handphonenya. Di dalam pesan itu bukan hanya tulisan tapi juga gambar terlampir.

“Yu… Yuri..” Siwon tercekat melihat foto Yuri yang terlentang dengan keadaan pingsan.

‘Menyerah lah. Orang yang kami mau sudah ada ditangan kami’ begitulah pesan dari nomer hanphone Yuri yang dikirimkan untuk Siwon. Tentu bukan Yuri yang mengetik sms itu tapi Donghae.

Kyuhyun dan Changmin langsung memandang hanphone Siwon. “Sial!” desis keduanya secara bersamaan.

Semua berhamburan keluar dari gedung KSA dengan menggunakan mobil mereka masing masing dengan lokasi handphone Yuri menjadi petunjuk arah.

***

Disebuah dermaga yang penuh dengan berbagai gudang besar berumur tua, berhentilah sebuah mobil Jeep hitam. Dua orang namja sibuk menurunkan seorang yeoja dalam kondisi pingsan ke dalam Gudang tersebut. Saat mencapai pintu utama gudang itu beberapa orang langsung membukakan pintu bagi mereka berdua.

“Ikat dia” Minho salah satu dari dua orang tadi, memerintahkan beberapa orang yang membukaan pintu baginya.

Yeoja itu,atau sebut saja Yuri langsung dimasukan ke sebuah ruangan dengan diikat disebuah kursi dalam keadaan duduk.

“Sebentar lagi dia akan sadar, sudah hampir 1 jam.” Ucap Minho.

Donghae mengangguk kecil. Ia merasa bersalah pada Yuri dan teman temannya saat ini. Tak lama Heechul muncul dari balik pintu yang menhubungkan ruangan besar yang sebenarnya difungsikan sebagai penyimpan barang ke sebuah ruangan kecil didalam gudang. Pada saat itu juga mata Yuri terbuka, terbuka secara perlahan.

“Diamana aku?”

“Annyeong Kwon Yuri ssi~ selamat datang di Tiger Cat”

-TBC-

9 thoughts on “Secret [ Part 6 ]

  1. bellsparkyu says:

    lanjut donk thorr!! gak sabar nihh
    heechul kejem amat ya, si donghae ampuuuun
    pokoknya lanjut! 5 jempol buat author *ehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s