Lens [ Part 1 ]

Kacamata, tanpa 2 lensa yang berada di antara frame tak akan pernah berguna. Teropong tanpa lensa juga akan kehilangan kegunaan aslinya. Lensa, benda kecil yang sangat berguna bagi manusia. Dengan lensa mata yang min atau plus dapat melihat dunia dengan jelas. Benda yang berada dikejauhan dapat terlihat dengan bantuan lensa. Mungkin karena itu, lensa harus dipelajari oleh manusia, karena manusia masih menggantungkan diri mereka pada sebuah lensa. Memang tak semua tapi sebagian besar sudah bergantung 90% dengan sebuah lensa.

Tanpa menggunakan lensa, penyandang mata minus tak akan dapat melihat benda dikejauhan dengan jelas. Besar kecilnya minus di mata akan mempengaruhi titik jauh penglihatan mata kita. Tanpa kacamata tentu dunia akan berubah menjadi blur di mata mereka yang memiliki minus.

Lens, sebuah hotel yang awal mulanya berdiri di Korea. Diberi nama Lens karena sang pemilik ingin hotel ini dapat membantu tamu mereka, sama seperti lensa. Dari nol sang pemilik mendirikan sebuah hotel yang sekarang sudah dikenal dan diakui oleh dunia luas. Cabang- cabangnya sudah sampai menembus benua Amerika dan Eropa. Tak ayal 5 bintang sudah dikantongi sang pemilik.

Im Shinyoon, merupakan laki laki dibalik kesuksesan hotel Lens. Pemilik sekaligus pemilik jabatan tertinggi dalam sususan perusahaan Lens ini sangat pekerja keras dan sangat tepat waktu. Semua yang akan ia lakukan selalu dipikirakan matang-matang, hingga dapat berakhir sukses. Ia tentu sudah berkeluarga, istrinya bernama Kim Dayoung dan ia memiliki seorang anak perempuan bernama Im Yoona.

Im Yoona, anak perempuan yang sangat ia sayangi dan banggakan pada orang diluar sana. Ia tak mau anaknya itu mengalami pahitnya hidup sama seperti yang dulu pernah ia rasakan saat Lens tak sehebat seperti saat ini. Shinyoon selalu memberikan apapun yang diminta oleh Yoona kecuali satu hal, kebebasan. Untuk membuat putrinya senang, ia memberikan berbagai barang mahal. Sebut saja Prada, Celine, Tods, atau Hermes, sudah sulit dihitung berapa banyak barang yang ia berikan untuk putrinya tercinta. Tetapi tetap saja, bukan itu yang Yoona inginkan.

Sayang , karena rasa sayangnya yang terlalu besar, ia tdak ingin putrinya terluka, membuat Shinyoon memperlakukan Yoona layaknya tahanan rumah yang tak boleh ini itu, terikat pada peraturan yang tak boleh dilanggar. Hidup Yoona layaknya sebuah boneka Barbie, semua diatur. Hidupnya secara ekonomi sangat bahagia, tapi mental sangat menyedihkan bahkan memprihatinkan. Ia bagaikan burung merpati putih yang berada didalam sangkar, perbedaannya hanya dari fisik mereka, Yoona manusia sedang merpati itu hewan.

“Yoona ya, dengarkan appa, minggu depan kita akan bertemu dengan keluarga Cho. Kau mengerti kan? Appa menjodohkanmu dengan putra mereka.” ucap Shinyoon sambil mengelus rambut putrinya yang sangat halus dengan penuh kasih sayang.

Yoona mau tak mau mengangguk. Tak punya pilihan, tak punya jalan lain, batinnya berteriak kencang tapi mulutnya terkunci rapat, agar suara jeritan tangis batinnya tak terdengar hingga keluar.

***

“Kyuhyun ah, minggu depan kita akan bertemu dengan keluarga Im.” ujar Cho Hyunil, ayah dari seorang laki-laki berparas tampan dan bersuara indah.

“Im? Siapa mereka?” tanya anak laki-laki yang memiliki nama Cho Kyuhyun. Putra kedua dari keluarga Cho yang kaya raya. Ia merupakan tipe pria idaman, tubuhnya tinggi, wajahnya tampan, dan kemampuan otaknya tidak dapat diragukan lagi. Sayang ia agak sulit didekati, kelihatannya ia sangat dingin tetapi nyatanya sikapnya masih setara dengan anak kecil yang belum lulus TK sekalipun.

Hyunil pun duduk disamping anaknya. Sesama lelaki mereka bicara to the point. “Kau sudah ku jodohkan dengan anak mereka yang bernama Im Yoona. Jangan menolak atau kau akan menyesal.” ujarnya, sambil menaruh selembar foto seseorang yang Kyuhyun yakini adalah Yoona. Ia lalu menepuk pudnak Kyuhyun sebelum akhirnya bangkit berdiri dan kelaur dari dalam kamar.

Begitu ayahnya dipastikan telah keluar ruangan, Kyuhyun yang semula tak tertarik dengan foto itu, dengan secepat kilat mengambil lembaran foto itu. Ekspresinya tak dapat di deskripsikan dengan kata kata. “Im Yoona, nama yang bagus,” decak Kyuhyun dengan mata fokus menatap wajah Yoona yang tercetak di lembaran foto itu.

***

Memandangi tabel grafik dan diagram, sebuah pekerjaan yang paling dibenci oleh seorang Lee Donghae, tapi entah mengapa ia memilih sebuah pekerjaan membuatnya ‘berkencan’ full time dengan 3 hal tersebut. Tanda tangannya juga seakan murah, hanya dengan memberikan seberkas dokumen kalian bisa mendapatkan tanda tangannya.

“Maaf tuan Lee, apa anda kenal dengan tuan Lee Hyukjae? Ia menunggu anda didepan, ia mengaku teman baik anda.” ujar Taeyeon yang merupakan sekertaris pribadi Donghae. Wajahnya cantik, senyumnya manis, ramah dan sopan terhadap semua orang.

“DAK.”

“Donghae ah, sekertarismu ini tidak percaya, padahal sudah ku bilang aku ini temanmu!” Tubuh Eunhyuk yang menjulang tinggi membuat tubuh mungil Taeyeon seakan tenggelam. Alhasil Eunhyuk berhasil menerobos masuk kedalam ruangan Donghae.

Dengan gaya bengal dan nakal ia berjalan ke arah Donghae. Walau bersahabat satu sama lain, keduanya benar benar berbeda. Seperti laut dan daratan.

“Kau ada waktu tidak? Temani aku makan!” Tangan Eunhyuk langsung merangkul pundak Donghae yang masih duduk di kursi singgasananya.

“Taeyeon ssi, aku akan keluar sebentar, jika ada yang mencariku bilang aku sedang ada urusan diluar!” ujar Donghae sambil bangkit berdiri.

Eunhyuk langusng bernyanyi bersorak sorai, sang sahabat bersedia menemaninya makan. Mereka berdua pun langsung menuju lift untuk turun dari lantai 18. Gedung Lens mempunyai 19 lantai, termasuk 2 lantai basement untuk parkir, 1 lantai untuk lobby yang sangat luas serta beberapa restoran mewah, 1 lantai untuk café dan spa, gym serta kolam renang outdoor dan indoor. 10 lantai untuk kamar pengunjung, 3 lantai untuk suite dan penthouse dan 2 lantai untuk kantor. Hotel ini baru 3 kali melakukan renovasi sejak pertama kali dibangun. Kokoh dan kuat, kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan Lens.

Pintu lift bewarna silver mengkilat terbuka. Bagian dalam berbentuk balok berlantai marmer dan bertembok kaca yang sepertinya selalu di digosok sampai mengkilat setiap harinya. Di dalam nampak seorang gadis yang ingin keluar dalam balok yang disebut lift tersebut.

“Nona..” Donghae pun menundukkan tubuhnya hampir 90 drajat. Mungkin gadis itu gadis vip class atau punya strata diatas Donghae.

Gadis itu mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk kebawah. Melihat sosok Donghae yang menunduk kepadanya ia langsung menundukkan kepalanya singkat kepada Donghae. Sedang Eunhyuk masih terpana dengan kecantikan gadis yang ada didepannya sekarang. Seakan di hadapannya ada kolam penuh air setelah ia berhari-hari tidak menemukan air di padang gurun.

“Lee Donghae ssi, aku baru saja ingin menemuimu untuk membicarakan acara fashion show-ku yang akan kuadakan di hotel ini. Tapi sepertinya kau sedang mau pergi.” ucap gadis itu.

“Bagaimana kalau kita bicarakan diluar saja. Kebetulan saya dengan teman saya akan makan siang.” ujar Donghae dengan senyum yang dapat membuat wanita kehabisan oksigen.

Gadis itu mengangguk lalu menekan tombol ‘’ di dalam lift agar pintu tetap terbuka. Donghae beserta sahabatnya masuk ke dalam lift dan ikut turun ke basement untuk mengambil mobil.

“Ah, nona lebih baik anda ikut dalam mobil saya saja.” ujar Donghae dengan sopan. Dan 1 hal yang ada di otak Eunhyuk saat ini adalah ‘Temanku berwajah dua’.

“Cih, apa ini juga termasuk service dari Lens?” ucanya gadis itu sedikit menyindir Donghae dalam konteks yang baik.

Donghae pun membuka pintu mobilnya untuk gadis yang ia hormati itu. “Anggap saja begitu!” balas Donghae sambil tersenyum.

“Yak! Aku duduk dimana?” tanya Eunhyuk saat pintu yang dibuka Donghae sudah tertutup. Donghae menunjuk kursi belakang untuk tempat dimana Eunhyuk duduk. Mau tak mau Eunhyuk mengikuti arahan Donghae.

***

Sebuah bunga edelweiss jika diambil dari tempat tinggalnya, ia akan tetap hidup walau warnanya memudar. Seekor merpati putih akan tetap terbang walau hanya di sangkarnya. Tapi manusia tak akan pernah bisa bertahan hidup jika hidupnya dipenuhi aturan dan kesepian. Sama seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air, ia akan mati secara perlahan dengan penderitaan karena tidak dapat bernafas.

“Yoona ya, kau mau ikut appa ke hotel?” Tanya Shinyoon pada anak perempuannya yang duduk sendirian dibangku taman halaman rumahnya.

Mendengar ucapan dari appanya ia langsung bahagia, ia tahu jika ke Hotel ia tak akan merasa kesepian. Ia bisa melakukan hal yang paling ia sukai, melangkah keluar rumah. “Ikut!” ucapnya semangat.

Annyeonghaseyo!” sapa Yoona saat ia melangkah masuk Lens dan salah satu petugas membukakan pintu kaca baginya. Senyum manis menghiasi wajahnya, menebarkan hawa bahagia bagi siapa pun yang melihatnya.

Kesan bahagia dari dirinya membuat semua orang memandangnya sebelah mata. Walau dibagian luar ia terlihat bahagia, belum tentu di dalamnya juga bahagia bukan?

“Taeyeon eonni!” panggil Yoona saat melihat sesosok Taeyeon yang berjalan dari arah lift menuju pintu kaca yang menghubungkan dunia luar dengan Lens.

Taeyeon tersenyum saat melihat Yoona tersenyum sambil melambai ke arahnya. “Yoona ya~ aii, apa kabar?” tanya Taeyeon.

“Baik, Taeyeon eonni, aku merindukanmu.” balas Yoona sambil memeluk Taeyeon dengan erat. “Appa, boleh aku jalan jalan dengan Taeyeon eonni?” tanya Yoona pada Shinyoon.

Shinyoon mengangguk sambil tersenyum. Dan sedetik kemudian Taeyeon dan Yoona menghilang dari balik pintu kaca. Awalnya Shinyoon tak mengijinkan Yoona dekat-dekat dengan karyawan tapi apa daya Yoona selalu mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengan Taeyeon ataupun Donghae.

Eonni, untung aku melihatmu, kalau tidak aku akan terjebak dalam penjara lensa itu.” ucap Yoona dengan nada riang pada Taeyeon.

Benar, hanya Taeyeon yang menjadi temannya setelah ia lulus kuliah. Taeyeon begitu setia dan tidak memanfaatkan posisi Yoona yang merupakan anak dari seorang pemilik hotel ternama di Korea, ia tidak memandang kekayaan yang dimiliki Yoona untuk berteman dengannya. Dan orang lain yang setia pada Yoona adalah Donghae, kepala manager keuangan yang memiliki hak untuk mengatur keuangan dan pengadaan acara besar di Lens. Mereka bagaikan matahari bagi Yoona, orang-orang yang menyinari hidupnya yang kelam.

“Sudah ku bilang kan, kalau kau bosan berada dirumah telepon aku saja, atau panggil namaku 3 kali aku akan menjadi genie-mu yang dalam 30 detik berada di hadapanmu untuk menemani mu.” ujar Taeyeon sambil tersenyum.

Yoona terkekeh mendengar ucapan Taeyeon. “ Baiklah eonni, lain kali aku akan menelponmu. Jangan matikan handphone mu agar aku bisa menelponmu kapan saja.” balas Yoona.

“Donghae oppa, dia dimana?” tanya Yoona.

“Dia bilang ‘jika ada yang mencariku bilang aku sedang ada urusan diluar!’ begitu.” ujar Taeyeon sambil mengikuti gaya Donghae berbicara yang khas. “Sudah jangan bicarakan tentang laki-laki dingin seperti dia. Ayo kita isi perut kita yang sudah berteriak teriak!” Taeyeon langsung menarik Yoona ke sebuah restaurant yang menurutnya sangat menarik hati.

Dalam sebuah restaurant bernama Jiu, semua makanan bertema Jepang. Dan tak disangka sesosok orang yang menjadi topic pembicaraan mereka berdua, berada di restaurant yang sama. Yap benar, Donghae, ia berada di dalam restaurant yang sama dengan Taeyeon dan Yoona. Dari kejauhan Donghae terlihat dengan seorang gadis cantik, dan bila disandingkan mereka berdua bagaikan sepasang kekasih. Sayangnya disana ada seorang pengganggu yang terus menampakan wajahnya.

“Oo, itu sekertarismu !” teriak laki-laki yang menjadi pengganggu antara Donghae dengan seorang gadis cantik.

“Sial. Kenapa ada dia?” umpat Taeyeon.

Donghae langsung menolehkan kepalanya ke arah dimana tangan Eunhyuk menunjuk. Taeyeon langsung menunduk pada Donghae, begitu pula Yoona. Donghae pun membalasnya dengan anggukan kecil yang menandakan balasan anggukan.

“Dia itu putri pemilik Lens bukan? Bukannya sebaiknya ia juga ikut makan disini?” tanya gadis cantik yang bersama Donghae.

Sedetik kemudian Donghae langsung berjalan ke arah Taeyeon dan Yoona. Perasaan Taeyeon makin tak enak saat Donghae benar-benar sudah berada didepannya dengan wajah datar nan sadis.

“Kalian bergabung saja.” ucap Donghae singkat.

“Ah ne.” balas Yoona.

Yoona dan Taeyeon pun mengikuti Donghae dari belakang. Mereka langsung duduk di bangku dan meja yang baru saja disambungkan oleh Eunhyuk. Entah mengapa ia perannya saat ini seperti menjadi pembantu Donghae.

“Yoona ssi, senang bertemu denganmu.” ujar Jessica pada Yoona. “Selama ini aku tak pernah melihatmu di Lens, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda. Perkenalkan nama saya Jessica Jung. Salah satu pengunjung setia Lens, tentu kau sudah dengar dari Donghae atau ayah anda.”

Hanya senyuman yang nampak pada wajah Yoona. Dalam dirinya ia sama sekali tak pernah tau menahu tentang Jessica sama sekali, entah dari appanya ataupun dari Donghae. Ia merasa gagal menjadi pewaris utama Lens.

“Donghae ssi ,aku sudah bicara pada bos mu, Shinyoon mengenai hall mana yang akan kupakai untuk fashion show ku. Aku akan memakai Pearl Hall, aku ingin ruangan itu di design sesuai dengan namanya.” Ucap Jessica.

Donghae langsung menginjak kaki sahabatnya yang asik memakan, makanan pesanannya yang masih panas. “Jessica ssi, kalau urusan design silahkan rundingkan berdua dengannya.”

Arah mata Jessica langsung mengarah pada Eunhyuk yang masih asik makan. Tatapan jijik bercampur iba dari Jessica langsung membuat Eunhyuk memberhentikan aktivitasnya, begitupula kunyahan dimulutnya, ia langsung menelan semua makanan yang ada dimulutnya sambil menatap balik Jessica.

“Yak! Bisakah kau makan dengan tata krama yang baik? Mulutmu belepotan seperti itu, jorok!” ujar Jessica ketus. “Kemarikan mulutmu.” Jessica langsung mengambil serbet di atas mejanya dan mengelap mulut Eunhyuk yang belepotan.

“Kau, kukira kau seorang ice princess ternyata lebih tepat menjadi nenek sihir yang hidup dalam aturan tata krama yang menumpuk.” ejek Eunhyuk.

Jessica bersiap melempar sebuah piring ke wajah Eunhyuk, tapi tak ia lakukan alasannya satu, menjaga nama baiknya di depan umum. Tak jadi melempar Jessica langsung menginjak kaki Eunhyuk tanpa ada rasa ampun sekali pun. Ujung heelsnya berada tepat diatas ibu jari kaki kanan. Mengetaui posisi kakinya itu Jessica langsung menambah tekanan pada injakkannya.

“Nona Jessica yang baik hati dan tidak sombong, bisakah kau singkirkan kakimu dari kakiku? Jariku akan putus jika heels-mu itu tak dipinggirkan.” ujar Eunhyuk sambil menahan sakit. Suaranya bergetar dan wajahnya memerah, seperti memaksakan sesuatu keluar dari dalam tubuhnya.

“Baiklah, asalkan kau tidak menghina ku lagi.”

Sedetik kemudian heels Jessica menjauh dari kaki Eunhyuk. Dan pada detik itu juga Jessica berubah menjadi ice princess seperti sebelumnya. Saat menjadi ice princess Jessica akan menjadi orang yang dingin dan menjunjung tinggi harga dirinya.

“Donghae nim, sepertinya kami berdua mengganggu.” ucap Taeyeon, yang kemudian dilanjutkan dengan anggukan Yoona.

Mata Donghae yang semula menatap Eunhyuk dan Jessica langsung berubah menjadi menatap Taeyeon dan Yoona. “Jika kalian melangkahkan kaki keluar dari restoran ini sekarang, aku pastikan kalian keluar hanya tinggal nama” ujar Donghae.

Bukan hanya Yoona dan Taeyeon, tapi Eunhyuk dan Jessica pun ikut merinding mendengar ucapan Donghae. Donghae akan berubah menjadi ganas dan menyeramkan jika ada orang yang tak mengikuti apa yang ia katakan. Mengetahui hal ini ke empat manusia tadi langsung saja mengalihkan pandangannya pada makanan yang tersaji.

Acara makan makan selesai, Donghae dan Eunhyuk beserta Jessica langsung masuk ke mobil. “Yoona ssi, bukan kah kau lebih baik masuk ke dalam mobil juga. Masa ada anak pemilik hotel terbaik di dunia jalan kaki.” ujar Jessica dari dalam mobil.

Mendengar ucapan Jessica, Eunhyuk langsung keluar dan membawa masuk Yoona kedalam mobil. “Kau, jalan kaki saja ya, mobilnya tak muat.” ucap Eunhyuk pada Taeyeon.

Setelah Eunhyuk masuk ke mobil Donghae langsung menginjak gas mobilnya dengan kecepatan penuh. “Dasar bos tidak tau diri!” teriak Taeyeon kesal. Terpaksa ia harus menggunakan kedua kakinya untuk kembali ke Lens.

***

Dalam sebuah ruang kerja yang masih berbau cat, seorang laki laki berwajah tampan duduk termenung memandangi jendela yang berada dihadapannya. Dari ekspresi wajah yang dinampakan olehnya sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Kyuhyun ah~ ayo! Kita harus ke Lens, ada dokumen yang harus noona berikan ke Donghae, manager keuangan mereka. Kau berjanji untuk menjadi supir pribadi noonakan? Sudah jangan termenung begitu!” Ahra langsung menarik kerah baju dongsaengnya yang menurutnya gila karena duduk memandangi jendela. Ia sudah melakukan kegiatan itu selama 2 jam dan ia belum beranjak sedikit pun.

Dalam perjalanan menuju Lens, Kyuhyun diam seribu bahasa selagi menyupir. Semua kebisuan Kyuhyun membuat Ahra bingung dengan kelakuan adiknya yang menjadi abnormal. Bukannya biasanya ia normal, tetapi ia sangat berbeda dari biasanya.

“Ya.. Kau ini kenapa sih?” tanya Ahra.

Noona, apa disana ada Yoona? Ini memalukan, tapi aku mohon jangan tertawakan aku. Aku gugup, jantungku berdebar tak beraturan.” aku Kyuhyun.

Tak menunggu waktu lama, tawa Ahra langsung terdengar disetiap sudut mobil. Ahra bahkan tak bisa berhenti menertawai ucapan dongsaengnya. “Kau ini, seperti baru pertama kali bertemu wanita saja.” ucapnya sambil menahan tawanya, dan ternyata setelah berbicara tawanya tak bisa lagi dibendung dan malah keluar semakin menjadi jadi.

“Aish noona.. jangan tertawa dan jangan mengejek ku.” Bela Kyuhyun.

“Ok, noona tidak akan menertawai mu. Kalau masalah Yoona ada atau tidak, noona tidak tau.” Ucap Ahra, menyudahi tawa meledek Kyuhyun.

Gedung Lens yang menjulang tinggi dengan angkuh berada tepat didepan wajah Kyuhyun. Hebat Kyuhyun malah berlaga seperti orang bodoh didepan orang-orang yang berada di Lens. Tubuhnya kaku dan gerakan yang diperlihatkan seperti robot yang kehabisan oli. Keringat dinginnya keluar membasahi wajahnya.

“Maaf, ruangan Lee Donghae dilantai berapa?” tanya Ahra pada receptionist yang bernama Kwon Yuri, dilihat dari name tag yang menempel pada seragam yang dikenakannya.

“Apa anda sudah membuat janji dengan Lee Donghae?” Tanya Yuri.

Ahra mengangguk menjawab pertanyaan Yuri.

“Ia berada di lantai 18. Silahkan lewat sini.” Yuri keluar dari benteng receptionist-nya untuk menunjukan lift yang akan mengantar mereka menuju ruangan Donghae.

Kyuhyun masih saja belum bisa menormalkan gerakannya. Ia masih menjadi robot yang kehabisan oli. Dan apa yang dilakukan Kyuhyun hanya membuat Ahra malu. “Bersikaplah normal Kyuhyun ah~,” ucap Ahra sambil menyikut perut Kyuhyun.

“Noona, kenapa ruangan laki laki itu tinggi sekali. Lantai 18…” Tanya Kyuhyun dengan gugup, hatinya dipenuhi oleh perasaan cemas. Cemas jika ia bertemu dengan Yoona, ia belum mempersiapkan mentalnya.

Tangan Ahra langsung memegang dahi Kyuhyun, takut jika adiknya demam dan demam itu membuat otak adiknya konslet karena terlalu panas. Sayang dugaannya salah, Kyuhyun sangat sehat. Dan ia harus menerima kenyataan bahwa dongsaengnya itu sedang dimabukkan oleh cinta.

“Ting.”

Pintu silver metal tersebut kembali terbuka. Ahra dan Kyuhyun segera turun menuju sebuah pintu yang mereka yakini adalah pintu dimana Donghae menghabiskan hari-harinya bekerja. Tangan Ahra pun mengetuk pintu besar yang berada di hadapannya.

“Masuk!” sahut laki laki dari yang berada di luar ruangan itu.

Saat pintu terbuka sedikit kaget memang, tetapi Ahra tetap melangkah masuk. Di dalam masih terdapat 3 manusia yang pergi bersama Donghae tadi, Jessica, Yoona dan sahabat baiknya Eunhyuk duduk di sofa yang ada di ruangn Donghae.

“Kyu, kau duduk dengan mereka dulu ya!” ucap Ahra sambil mendorong tubuh Kyuhyun ke arah sofa dimana disana ada Jessica, Eunhyuk dan Yoona duduk.

Saat langkahnya sudah hampir mencapai sofa. Kyuhyun terpaku pada makhluk berwujud wanita berambut coklat panjang. Rambutnya terlihat sangat halus seakan jika tetesan air jatuh mengenai rambutnya, ia akan mengalir begitu saja. Jantungnya seakan berhenti dan nafasnya serasa tersumbat batu besar, darahnya yang dipompa dari jantung membeku mendadak.

“Im Yoona ssi.” panggil Kyuhyun.

“Ne.” Yoona pun yang semula duduk membelakangi Kyuhyun, memutar badannya ke arah Kyuhyun. Ia sedikit bingung karena setahunya ia tidak mengenal pria di hadapannya ini.

Matanya bersinar bagaikan matahari menyinari bumi di pagi hari. Senyumnya semanis lollipop yang dijual di toko permen. Suaranya merdu semerdu suara flute yang mengalun dengan lembut. Nampaknya Kyuhyun sudah menemukan surga dunianya. Dan khusus bagi dirinya, waktu seakan berhenti, bumi berhenti berputar dan berhenti mengitari matahari. Tak disangka ia harus bertemu orang yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya secepat ini. Gadis yang dalam hitungan detik merubah dunianya. Gadis yang berhasil menghancurkan sel-sel otaknya sehingga untuk berpikirpun menjadi sulit.

“Ada apa?” Tanya Yoona

Aniyo, hanya memastikan kau itu Im Yoona.” balas Kyuhyun singkat. Ia tak mau nampak seperti robot kurang oli lagi. Ia berusaha menjadi manusia normal, menjadi Cho Kyuhyun yang bagaikan pangeran tampan dan gagah dari negeri dongeng.

Hanya tersisa tempat untuk duduk didekat Eunhyuk, segera Kyuhyun duduk disana. Duduk disana malah menambah penyakit. Ia duduk berhadapan dengan Yoona. Mungkin ia sudah gila, jatuh cinta pada selembar foto yang kemudian berubah menjadi nyata. Ini bukan fairytale, tapi Kyuhyun berharap semua menjadi fairytale dimana tak ada sad ending didalamnya.

“Kyu, ayo noona sudah selesai.” seru Ahra.

Tampa membalas ucapan Ahra, Kyuhyun langsung bangkit dari duduknya dan kemudian mengikuti noonanya dari belakang, seperti bebek yang berjalan mengikuti induknya. Meninggalkan seisi ruangan yang menjadi bingung dengan kelakuan pria yang tidak jelas posisinya.

“Dia siapa?” tanya Eunhyuk dengan mata menatap pintu yang sudah tertutup rapat.

“Namanya Cho Kyuhyun, dia anak laki-laki keluarga Cho, partner Im sajangnim.” Donghae menjawab pertanyaan Eunhyuk. Eunhyuk mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Yoona tertegun, ia baru menyadari bahwa laki-laki itu adalah orang yang akan dijodohkan dengannya.

Laki-laki yang akan memasuki hidupnya. Laki-laki yang akan membawanya keluar dari lubang kelam yang diciptakan oleh ayahnya, atau sebaliknya, laki-laki yang akan menariknya masuk ke dalam lubang kelam itu lebih dalam.

***

“Kenapa kau?”

Noona lihat tadi? Im Yoona?”

“Iya, lalu?”

“Aku akan menjadikannya milikku.”

TBC

13 thoughts on “Lens [ Part 1 ]

  1. musketeer says:

    HUWAAAAA,
    jebal eon, kyuna yah… kyuna…

    eon itu kata-katanya keren banget. belajar darimana???
    pengen banget deh bisa ngerangkai kata-kata sebagus eon.
    FIGHTING EON!! harus kyuna pokoknya.
    kkk~ keep writing eon 😀

  2. kintachan says:

    Kyaaa 😀
    maaf baru baca jadi baru comment juga
    Waaah~ Kyuhyun bakalan sama Yoona ya? Biasanya Yoona sama si Donghae
    😀
    daebakk! Detail ceritanya keren thor! 😀

  3. ladymikha says:

    Annyeonghaseyo chingu!!
    Ini udh kedua kalinya aku baca ff ini, (yg pertama kali di smtownfanfiction). And I really love it!!!
    Awalnya baca ini karna aku suka sama cast (Yeaah I’m Kyuhyun-Yoona Shipper) dan pas baca aku suka sama cara nulis kakak yg rapi.
    Kak kenapa nggak coba nulis di wattpad ? Hehe
    Sayang bgt kalo cerita bagus gini jarang ada yg baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s