Lens [ Part 2 ]

Pelangi, sebutan bagi kumpulan tujuh warna yang terlukis indah dilangit. Benda yang semula dianggap asing tapi mengaggumkan bagi anak kecil, menjadi hal yang mengagumkan saat beranjak dewasa. Warna yang dihasilkan memang hanya tujuh warna, tapi sebenarnya setiap warna memiliki banyak cabang. Muda dan tua.

Tangan kita memang tak bisa menggapai pelangi itu. Meloncat dari gedung tertinggi saja belum tentu tangan kita dapat menyentuh warna terakhir dari pelangi tersebut. Tapi tak ada yang tak mungin dalam dunia ini kecuali manusia memakan makanannya sendiri. Konyol memang, tapi kita bisa memegangnya, gambar saja dalam sebuah kertas putih polos ketujuh warna pelangi tersebut. Buat pelangi itu jadi bagian dari diri kita, bewarna warni. Hidup dalam dunia yang bewarna itu indah.

Yoona, seorang gadis yang tak pernah menemukan warna warni dunia. Terkurung dalam sebuah penjara yang membuatnya tak berkutik sama sekali. Hidupnya diatur. Bebas? Sebuah kata yang pernah sekali masuk kedalam otaknya tapi kemudian ia buang jauh jauh. Resiko yang ada didepan mata jika ia melepaskan diri dari aturan tersebut sangat berat.

Saat mendengar kata perjodohan, sebuah harapan langsung terniang di batinnya. Tentu saja harapan yang pernah ia buang jauh jauh, kebebasan. Walau sebenarnya hatinya menolak tapi ini satu-satunya cara mendapatkan sebuah kebebasan yang selama ini ia idam-idamkan. Mungkin saja, pria yang dijodohkan dengannya dapat membebaskannya dari segala aturan hidup yang melekat pada dirinya. Tetapi ia bagikan sedang berjudi sekarang. Hanya ada 2 pilihan, menang atau kalah. Mungkin saja pria ini malah akan memenjaranya, sama seperti sang ayah.

“Aku menemukannya. Cho Kyuhyun, orang yang appa bilang akan menjadi calon suamiku, orang yang akan menghidupiku.” ucap Yoona pada Shinyoon saat duduk diruang makan. Keadaan yang sunyi dan sepi seketika berubah.

Shinyoon yang semula sedang memasukan suapan makanan kedalam mulutnya, berhenti lalu memperhatikan buah hatinya yang memandangnya dengan tatapan tegas dan berani, tatapan yang sulit ditemukannya selama ini.

“Bagaimana? Kau suka dengannya?” tanya Shinyoon. Bohong, Yoona menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sang ayah. “Kalau begitu, pertemuan keluarga kita dengan keluarga Cho harus dipercepat.” lanjut Shinyoon.

Ini jalannya, jalan menuju sebuah tujuan konyol dalam hidup manusia, kebebasan. Walau hati menangis bukankah lebih baik memajang fake smile pada wajah kita. Karena dengan memasang fake smile, kita tak akan menjadi pusat perhatian orang banyak, tak membuat orang lain sedih dan bingung.

***

“Appa,” Kyuhyun memanggil seorang laki-laki tua yang duduk di sebuah sofa empuk yang menghadap televisi berlayar lebar. Laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Kyuhyun sendiri. Hyunil menoleh pada putra satu-satunya itu, jarang-jarang anaknya yang satu ini berbicara padanya.

“Wae?”

“Aku punya permintaan.”

“Hmm? Apa yang kau inginkan?” Hyunil merasa ini adalah suatu hal yang besar, biasanya bila Kyuhyun menginginkan sesuatu, ia tidak akan repot-repot meminta pada ayahnya. Ingin mobil? Dari pada repot-repot meminta pada ayahnya ia akan langsung memesannya dan melimpahkan tagihan kepada ayahnya, simple bukan.

“Aku ingin pernikahanku dengan Yoona. Secepatnya.”

Hyunil terdiam setelah mendengar permintaan Kyuhyun. Bingung, tentu saja. Setahunya putranya itu sangat tidak suka diatur apalagi disuruh. Ia saja sedikit ragu Kyuhyun akan menurut saat ia akan menjodohkannya dengan putri partner bisnisnya. Tetapi mengapa sekarang anak ini dengan sukarela meminta untuk menikah dengan gadis itu?

“Kau…. serius?”

“Tentu saja! Aku tidak akan main-main kalau menyangkut pernikahan. Itu komitmen seumur hidup.” ucap Kyuhyun mantap. Persetan dengan segala halangan yang ada di hadapannya. Perasaannya telah mantap mengatakan bahwa gadis itulah orangnya. Gadis yang akan ia lindungi seumur hidupnya. Gadis yang akan ia sayangi, yang akan hidup bersama dengannya.

“Baiklah, apapun yang kau inginkan. Appa kabulkan. Baguslah, aku tidak perlu susah susah menyeretmu ke depan altar.” jawab Hyunil dengan senyum yang tak hentinya mengembang.

***

Pukul 9 pagi di dalam sebuah ruangan berbentuk persegi, sekitar 10 orang duduk disebuah meja melingkar. Mereka duduk memandang sebuah layar yang akan menjadi tempat mendaratnya gambar yang diproyeksikan dari mesin proyektor. Seharusnya umat manusia baru keluar dari rumah mereka yang nyaman dan melakukan aktifitas. Tetapi ruang rapat ini telah dipenuhi beberapa orang yang akan membicarakan proyek mereka. Time is money benar-benar berlaku. Seorang laki laki menggunakan pakaian seadanya berdiri di depan, menghadap ke 9 orang lainnya

“Baik, hari ini kita akan membicarakan konsep untuk acara fashion show nona Jessica yang cantik dan baik hati ini. Pearl, sebuah benda yang ada didalam kerang. Benda mahal yang mengganggu kerang dalam siklus hidupnya. Dan satu fakta lagi bahwa sebenarnya pearl atau mutiara berasal dari kotoran yang diubah oleh kerang menjadi mutiara. Benda ini akan menjadi konsep kita.” ucap Eunhyuk, laki laki yang berpakaian seadanya tersebut.

Telunjuk tangan Eunhyuk langsung menekan menekan tombol enter pada laptopnya yang tersambung kabel proyektor. Kemudian gambar dilayar langsung berganti. Para manusia yang berjumlah 10 orang termasuk Eunhyuk langsung membalik sebuah tumpukan kertas yang sudah di rekatkan satu sama lain dengan menggunaka stapler.

“Catwalk kali ini akan dibuat dari beberapa lempeng kaca bening yang akan direkatkan membentuk balok, didalamnya diisi air bewarna biru marine sehingga terlihat bersinar. Dibagian belakang terdapat kerang besar yang terbuka yang akan menjadi tempat masuk dan keluarnya model. Jika susah dibayangkan bisa kalian lihat di gambar yang saya gambar.” jelas Eunhyuk, tangannya menunjuk nunjuk gambar yang ia gambar dan sudah diperbanyak oleh mesin fotocopy agar para peserta rapat kali ini dapat mengerti apa yang ia bicarakan.

Dari 9 peserta rapat, ada seorang gadis yang melipat tangan dengan anggunnya. Matanya masih menatap pada kertas yang merupakan gambar perkiraan stage atau catwalk yang digambar oleh Eunhyuk menggunakan tangannya sendiri. Matanya terus mencari-cari sesuatu yang dapat dimengerti oleh otaknya. Hasilnya nihil, ia sama sekali tak mengerti gambar yang digambar oleh Eunhyuk.

“Maaf tuan Lee Hyukjae yang tidak sombong, bisakah kau gambar ulang dengan perhitungan dan penggunaan garis yang tegas. Mataku sakit melihat gambar sketsa yang kau gambar! Oh ya, kalau boleh saran sebaiknya kau ikut dalam kelas menggambar. Gambarmu seperti gambar anak kecil yang tak lulus TK.” ejek gadis itu dengan angkuhnya.

“Nyonya Jessica, maaf jika gambar saya jelek. Harus diingat saya hanya punya waktu 5 jam untuk memikirkan konsep runway anda. Dan satu lagi, kalau kau mau gambar yang bagus, kau gambar saja sendiri. Tak ada yang tak mengerti gambarku, hanya dirimu saja.” balas Eunhyuk dengam bahasa sesopan mungkin yang memang untuk mengejek Jessica.

Gadis yang bernama Jessica, si empunya acara ini mengepalkan tangannya, meredam rasa kesalnya terhadap Eunhyuk yang membuatnya terlihat bodoh dihadapan banyak orang. Ia pun memilih diam, posisinya ada di tempat yang serba salah sekarang.

“Okay, bagaimana? Ada saran atau pertanyaan?” tanya Eunhyuk sambil memandang semua orang.

“Ada!” seru Jessica sambil menegakkan posisi duduknya.

“Apa kau jamin ini akan terlihat elegant? Dengar aku designer terbaik di Korea. Jika bentuk runwaynya saja sudah tidak jelas, maka namaku akan tercemar!” tanya Jessica.

Eunhyuk tersenyum. “Tentu saja, kau ini kan seperti ice princess jadi akan ku buat seelegant mungin sampai melihatnya pun akan sulit. Kau tak perlu kawatir, aku tak pernah mengecewakan klienku.” Ucap Eunhyuk.

Kemudian Hening. Tak ada lagi yang bicara.

“Baik lah! Sampai disini rapat kita. Pembuatan catwalk akan dimulai hari ini juga untuk mempersingkat waktu. Kalian boleh keluar.” ucap Eunhyuk.

Jessica tetap tinggal di tempat. Begitu pula Eunhyuk yang masih di kursinya, merapikan barang-barangnya yang tadi dipakai untuk rapat. Ia sadar masih ada satu orang yang duduk di meja rapat tapi ia berusaha untuk tidak memperhatikannya. Seusai membereskan barangnya, ia langsung beranjak keluar, tanpa mengucapkan satu kata pun.

“Yak!” teriak Jessica.

“Yak, Lee Hyukjae! Hey, bodoh berhenti ditempat.” teriak Jessica sambil berusaha mengejar Eunhyuk. Heels Manolo Blahnik yang baru dibelinya belum lama ini menghambat langkahnya.

Merasa lelah mengejar Eunhyuk yang tunjung berhenti, ia melepas heels-nya. Ia menggenggamnya, lalu diayunkan ke belakang dan sedikit menyimpan tenaga. Kemudian wush… heels itu melayang dengan indahnya menggunakan gaya bebas ke arah kepala Eunhyuk.

“AWW.” Tepat mengenai sasaran. Jika di taman bermain, Jessica akan mendapatkan hadiah sebuah boneka yang imut.

“Yak! Nenek sihir! Berani-beraninya kau melemparku dengan sepatu buluk mu ini!” teriak Eunhyuk.

Dan akhirnya Eunhyuk menganggap Jessica ada setelah ia berusaha menghindar dan menganggap Jessica hanya angina lalu, karena ia sedang tidak punya mood untuk bertengkar. Urat sabarnya seakan terputus sekarang. Dan Jessica adalah orang yang harus bertanggung jawab.

“SEPATUKU BULUK? Hey! Tuan tanpa manner, ah, tidak, kau bahkan lebih pantasku panggil monyet! Heels itu Manolo Blahnik model terbaru, kau akan dihajar oleh pecinta fashion bila mereka mendengar kau mengatainya buluk! Aku ini berniat baik ingin berbaikan denganmu tapi kenapa kau malah mengacuhkanku dan sekarang mengatai heelsku buluk!” teriak Jessica.

“Nenek sihir! Jangan buat alasan! Aku tau kau dendam padaku bukan? Membuat dirimu malu didepan orang banyak?” tanya Eunhyuk dengan nada suara sedikit dinaikkan.

“Apa wajahku nampak berbohong? Dan berhenti memanggilku nenek sihir!” tanya Jessica, kali ini dengan lebih menantang.

Seorang security yang sedang melakukan tugasnya, menjaga keamanan di gedung yang menjadi tempat rapat tadi, yang tak lain adalah Lens, merasa terganggu dengan kehadiran Eunhyuk dan Jessica. Mereka membuat suasana yang tadinya dan seharusnya memang tenang dan damai menjadi ribut dan tak terkendali. Ia segera menghampiri kedua orang tersebut.

“Kalian jika ingin bertengkar diluar saja.” ucap sang security dengan tegas.

Kedua orang yang dimaksud langsung menatapnya dengan sadis, tatapan membunuh yang tak bisa di deskripsikan. “Diam! Jangan mengganggu!” seru keduanya bersamaan.

Sang security pun mundur beberapa langkah, nyalinya langsung ciut. Ketegasannya tadi menghilang secara mendadak karena tatapan membunuh dua mahluk tadi. Ia merasa gagal menjadi seorang security. Ia merasa curiga kedua mahluk di hadapannya merupakan titisan iblis dari neraka. Pada saat mundur, tak sengaja ia menabrak sang atasan yang paling ia takuti. Ya, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae.

Menabrak seorang Lee Donghae adalah kesalahan besar. Nasibnya buruk bukan?

“Ah, Donghae nim, mianhae, jeongmal mianhae. Jangan pecat aku!” ucap security tersebut. Wajahnya kusut berparas menyedihkan, seakan meminta untuk dikasihani oleh atasannya.

“Lain kali hati hati.” ucap Donghae singkat padat dan jelas serta ketus. Sang security langsung menabur bunga karena ia berhasil menyelamatkan pekerjaannya. Dan tentu saja 1 pertanyaan masih terlintas di otaknya adalah ‘Ada apa dengannya?’. Tetapi tanpa membuang waktu, karena takut sang atasan tiba-tiba berubah pikiran ia langsung mengambil langkah seribu.

“Nenek sihir!”

“Monyet!”

Donghae yang semula ingin masuk kedalam lift tak sengaja mendengar teriakan seorang laki laki dan seornag perempuan. Iapun mencari asal muasal suara suara tersebut. “Kalian berdua berhenti!” teriak Donghae.

Eunhyuk dan Jessica yang sedang dalam keadaan bertengkar secara fisik, tangan Jessica menjambak rambut Eunhyuk dan tangan Eunhyuk mencubit pipi Jessica, memberhentikan aktivitasnya seperti sedang di pause oleh Donghae. Hebatnya keduanya bertengkar didepan ruangan yang dapat dilihat oleh orang banyak. Mungkin keduanya sudah lupa akan harga diri masing-masing yang mereka junjung tinggi.

“Berhenti, dan berlakulah normal.” ucap Donghae tegas.

Jessica pun langsung melepaskan jambakannya di kepala Eunhyuk dan menyingkirkan tangan Eunhyuk yang mencubit pipinya. Kemudian membenarkan tatanan rambutnya serta make up yang sedikit luntur, lalu meninggalkan Donghae dan Eunhyuk. Ia langsung berubah kembali menjadi Jessica, the ice princes. Tanpa berbasa basi, ia membungukkan tubuhnya ke arah Donghae dan pergi meninggalkan kedua sahabat itu.

“Hyuk ah! Ia klien mu. Berlakulah sopan.” omel Donghae pada temannya. Ingin rasanya ia mencekik Eunhyuk sekarang, karena Jessica merupakan tamu kehormatan Lens, mengingat kontribusinya dalam pemasukan dana hotel selama ini.

“Dia duluan yang mulai!”

“Aish, kau ini kekanak-kanakan sekali! Dewasalah!”

***

Dentingan nada-nada membentuk sebuah lagu dari sebuah piano dan gesekan senar biola yang halus menimbulkan harmoni yang indah, memenuhi restoran Prancis mewah dan mahal. Lilin-lilin menerangi ruangan yang sengaja dibuat agak gelap agar terkesan romantis. Mereka lebih menekankan pada penggunaan lampu-lampu kecil. Dindingnya dicat dengan cat bewarna peach tua bercampur coklat muda. Yoona hanya dapat duduk di depan meja sambil meremas-remas dress Christian Dior model terbaru—yang baru diberikan oleh ayahnya— dengan gelisah. Konyol memang, demi satu hal yang sangat diidam-idamkannya sejak dulu, ia mengorbankan perasaannya begitu saja.

“Tenang saja, mereka tidak akan menggigit kita.” ucap Shinyoon

Sebuah Bentely hitam mengkilap berhenti sempurna didepan restaurant Prancis mewah di kawasan Seoul. Dari dalam mobil turun satu keluarga dengan anggun dan gagah. Orang yang dianggap sebagai kepala keluarga berjalan di depan sambil menggandeng sang istri, diikuti kedua anak mereka dibelakang. Mereka berdandan sangat rapi dan anggun Tentu saja mereka sudah membuat janji dengan seseorang.

“Kyu, ingat, berlakulah normal!” ucap Ahra, si anak pertama sebelum mereka masuk ke dalam.

Noona, tanganku sama sekali tak bisa berhenti bergetar.” ucap si anak kedua, siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Ia memegangi tangannya sendiri agar berhenti bergetar.

Hyunil dan istrinya pun tak bisa menahan tawanya. Kyuhyun yang mereka anggap sangat dingin dan tak punya rasa takut pada siapapun berubah menjadi Kyuhyun yang salah tingkah saat ingin bertemu dengan seorang wanita. Ia benar-benar terlihat bodoh dihadapan keluarganya sendiri, menyedihkan.

Sampailah mereka didepan meja dimana keluarga Im sudah duduk. Mereka langsung mengatur posisi untuk duduk dan memastikan Kyuhyun dan Yoona duduk saling berhadapan. Dengan sedikit paksaan, mereka berkenalan secara resmi.

“Shinyoon ah, ternyata perjodohan yang sudah kita rencanakan sejak kita SMA dulu dapat terlaksana. Kita akan menjadi satu keluarga.” ucap Hyunil dengan bahagianya. Tawa kedua pemimpin keluarga tersebut membahana memenuhi ruangan restoran.

“Jadi kapan mereka berdua bertunangan. Aku tak sabar punya adik perempuan.” tanya Ahra. Kyuhyun dengan wajah malu memerah menginjak kaki Ahra. Ia benar benar salah tingkah saat ini. Ahra yang merasa kesal balas menginjak kaki Kyuhyun, balasan yang setimpal.

“Bagaimana kalau 1 minggu lagi kita laksanakan pertunangan?” usul Shinyoon.

Dan benar saja, Kyuhyun langsung tersenyum bahagia setelah mendengar ucapan ayah Yoona. Sepertinya ayah Yoona tau apa yang Kyuhyun inginkan, seakan ia dapat membaca pikiran Kyuhyun. Kyuhyun pun menatap Yoona untuk melihat ekspresi wajah Yoona. Terkejut. Ia tak menyangka wajah Yoona bahkan sama sekali tak menunjukan kebahagian, ia terlihat lesu dan nampak mimik sedih.

Gwaenchana?” tanya Kyuhyun dengan nada pelan.

Ne, aku tidak apa apa…,” jawab Yoona dengan senyum yang jelas terlihat sangat dipaksa. Rasanya ia seperti berada di lingkaran api yang siap melahap tubuhnya.

Yoona bangkit berdiri dan ijin untuk pergi ke toilet. “Maaf, aku ke toilet dulu.” Bukan, tujuannya bukan untuk buang air atau sekedar membetulkan riasannya, tetapi untuk melarikan diri dari kenyataan hidupnya. Hidupnya yang menyedihkan dan tidak punya tujuan, menurutnya. Memang benar, ia tidak pernah memilih sendiri jalan hidupnya. Apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Tidak pernah.

Kyuhyun dengan segera ikut pamit, mengejar Yoona.

“Yoona ssi, tunggu.” Yoona tetap berjalan dengan cepat walaupun heelsnya cukup menyusahkannya untuk berjalan, tetapi karena ia sangat ingin menyendiri sekarang ia terus berjalan.

“Sial.” Kyuhyun mengumpat begitu pintu toilet di hadapannya tertutup. Tidak mungkin ia masuk ke dalam, ia bisa ditendang keluar dari dalam restoran karena dianggap pengintip wanita di toilet. Tetapi…, sepertinya sel-sel otaknya sudah sedikit error sehingga ia dengan nekat malah membuka pintu toilet….

“Yoona ssi, aku mau berbicara, bisakah?”

Yoona seakan sedang dikejar oleh malaikat maut, sampai toilet pun diikuti. “Kau sudah gila? Ini toilet perempuan!” jerit Yoona panik. Kyuhyun tidak mempedulikan ucapan Yoona, ia malah sibuk memandang pantulan dirinya di kaca toilet yang berbingkai emas, terlihat mewah.

“Maka dari itu, keluarlah dahulu. Aku mau membicarakan sesuatu denganmu.”

“Aish, baiklah!”

Yoona pun akhirnya melangkah keluar. Ia sama sekali tak menangis seperti yang dibayangkan oleh Kyuhyun. Ia hanya tampak lesu, tak bernyawa. Kyuhyun tersenyum padanya berusaha mencairkan suasana. “Akhirnya kita bertemu secara resmi Im Yoona ssi.” ucap Kyuhyun

Kepala Yoona menengok kanan kiri, memandang tempat dimana mereka berada. “Bertemu secara resmi di dalam toilet wanita? KEREN SEKALI.” tanya Yoona dengan nada sedikit tinggi seakan-akan ia marah. Padahal sebenarnya ia sedang malu sekali, bagaimana kalau tiba-tiba ada tante-tante masuk ke dalam toilet dan ia langsung histeris melihat Kyuhyun, memukulinya dengan high heels sambil menyeretnya keluar?

“Abaikan tempat ini, kau benar-benar ingin menikah denganku? Atau ini hanya karena paksaan?” tanya Kyuhyun lagi.

Hening, Yoona tak bergeming. Bahkan ia bagaikan patung tak bernyawa, patung tidak bernyawa yang menyedihkan. Seakan ada sel di otaknya yang lepas. Tapi kemudian seperti ada yang tersambung kembali dalam otak Yoona, ia tersenyum lalu menganggukan kepalanya kepada Kyuhyun. Dan entah mengapa Kyuhyun merasa ‘menang’. Ratusan kembang api seakan ditembakkan, menyala-nyala di sekitar mereka berdua.

“Kalian, ke toilet lama sekali.” ucap Ahra yang tiba-tiba sudah berada di depan mereka. “Dongsaeng ah, nyalimu besar ya. Kau sudah tumbuh dewasa!” ejek Ahra. Ia lalu menyeret dongsaengnya kembali ke meja makan. Sedangkan Yoona mengikutinya dari belakang. Kali ini ia sedikit memiliki harapan akan Kyuhyun, berharap ia dapat membuatnya lepas dari segala sesuatu yang mengurungnya dari dunia luar.

“Hujan..,” desis Yoona dengan mata menatap jendela restoran yang memperlihatkan langit malam.

Dari luar jendela nampak tetesan air kecil dalam jumlah banyak turun dari langit. Mereka turun seperti tak ada yang menyaring ataupun menghentikannya, layaknya terjun payung. Dan semuanya sama sekali tak disadari seorang sekertaris muda cantik. Ia merasa bodoh karena lupa membawa payung, biasanya payungnya itu tak pernah lupa ia bawa. Dan sekarang akibat ketidak telitiannya ia harus menunggu hujan berhenti agar dapat mencapai halte bus tanpa basah kuyup. Beruntung ia bekerja di hotel yang pastinya buka 24 jam.

“Taeyeon ssi, kau belum pulang? Ini sudah hampir jam 9.” tanya seseorang yang ternyata setelah ia perhatikan baik-baik, orang itu adalah sang atasan yang terkenal sangat seram.

Mata Taeyeon membulat kaget, tubuhnya yang semula menyandar pada tembok kembali tegak. Apa yang ia lakukan seperti mendapatkan kekuatan listrik berkekuatan tinggi. “Di luar hujan, aku tak bisa ke halte bus.” ucap Taeyeon, telunjuk tangannya menunjuk-nunjuk jendela luar yang juga mulai ikut basah karena hujan semakin lebat.

Donghae menganguk paham. “Hujan diluar sangat lebat, lebih baik kau kuantar saja.” ujar Donghae.

Sekali lagi listrik berkekuatan tinggi seakan menyetrum otak Taeyeon. Ini pertamana kalinya dalam sejarah Taeyeon bekerja menjadi sekertaris pribada Donghae, sang atasan bersikap manis padanya. “Donghae nim, apa yang anda makan siang ini? tanya Taeyeon. Ia merasa tingkah Donghae sangat aneh saat ini.

Mata Donghae langsung menyipit, memandangi Taeyeon. “Dengar, kau ini masih dalam tanggung jawabku. Bagaimana jika kedua orangtuamu khawatir jika kau belum pulang jam segini? Aku hanya ingin menghindari telepon protes dari kedua orangtuamu.” ucap Donghae.

“Kedua orangtuaku ada di Jeonju…,” ucap Taeyeon datar.

“Baik lah, aku tak tega melihatmu seperti bunga layu di pojokan tembok seperti ini. Ayo kuantar! Jarang-jarang atasanmu ini berbuat baik!” Dengan paksa Donghae menarik Taeyeon menuju mobilnya yang terpakir di bagian depan Lens. Genggaman tangan Donghae begitu keras dan kencang membuat Taeyeon tak bisa berbuat apa apa, terpaksa menurut pada atasannya yang menurutnya salah minum obat. Mungkin saja Donghae berniat memperbaiki image nya yang sangat buruk di mata bawahannya, manager yang galak dan seram, tatapan matanya seakan memancarkan sinar laser yang dapat melelehkan tubuhmu. Image yang sangat jelek bukan?

Mesin mobil menyala, tetap saja tak ada bahan pembicaraan. Taeyeon masih saja tidak mempercayai apa yang terjadi saat ini. Donghae atasnnya yang sangat sangat ditakuti dan dingin berubah menjadi perhatian. Tak adanya bahan pembicaraan membuat hawa di mobil menjadi dingin seperti di kutub.

“Donghae nim. kenapa tidak jalan?” tanya Taeyeon mencoba mencairkan es kutub dalam mobil Donghae.

Donghae menengok ke arah Taeyeon. Perlahan badannya sedikit condong ke arah Taeyeon, tangannya seperti ingin menggapai badan Taeyeon. Sontak Taeyeon menjauhkan badannya dari tubuh Donghae, menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Sedang Donghae tetap saja melanjutkan aktivitasnya menggapai sesuatu ditubuh taeyeon. Wajah mereka berdekatan, dan Taeyeon semakin menjerit ngeri dalam hatinya.

“Kau kenapa?” tanya Donghae. Tangannya menarik seatbelt dan memakaikannya pada tubuh Taeyeon demi keselamatannya.

“Aniyo” jawab Taeyeon lega.

Mobil akhirnya berjalan, kecepatannya semakin bertambah pada saat sudah keluar dari Lens. Donghae sebenarnya tak tau arah mana yang benar menuju rumah Taeyeon. Ia menggunakan instingnya untuk mencari jalan menuju rumah Taeyeon.

“Didepan sebelum lampu merah ada halte, aku turun disitu saja.” ucap Taeyeon.

“Ah baik” ucap Donghae. Dan entah mengapa ia sekarang seperti supir yang menurut pada majikannya.

Benar, Donghae benar berhenti di halte yang dimaksud oleh Taeyeon. Mobilnya berhenti benar benar tepat didepan halte itu, sedikit memudahkan Taeyeon untuk turun dan mengurangi air hujan yang jatuh ke tubuhnya. Taeyon turun sambil berlari kecil ke arah halte bus, mobil Donghae langsung bergerak dengan cepat ke depan. Menunggu lampu merah yang terkenal cukup lama, dengan handphone kesayangannya Donghae membuka jadwal bus yang akan berhenti di halte dimana Taeyeon turun.

Taeyeon berdiri di halte, menunggu sebuah bus berhenti di haltenya tersebut. 5 menit, 10 menit, 15 menit ia berdiri. Sama sekali tak ada bus yang berhenti di halte bus itu. “Aish sial sekali aku. Hujan berhentilah!” semakin ia berteriak hujan semakin lebat turun. Dan hebatnya petir juga ikut muncul.

20 menit. Taeyeon masih berharap ada sebuah bus yang berhenti dan hujan yang turun berhenti. Tapi kedua harapannya sama sekali tak terkabul. 25 menit akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti didepannya. Mobil hitam mewah yang familiar baginya. Mobil yang semula menurunkannya di halte tersebut. Kaca mobil itu terbuka ke bawah, “Taeyeon ssi, masuk lah ku antar kau sampai rumah!” teriak si pengemudi.

Tanpa pikir panjang Taeyeon langsung masuk kedalam mobil tersebut. Ia butuh tumpangan pulang, itu saja yang ada diotaknya. “Kemana arah rumah mu?” tanya si pengemudi.

“Moonlight Apartment.” ucap Taeyeon.

Donghae langsung menyalakan GPS di mobilnya, memasukan Moonlight Apartment pada search box. Beruntung Moonlight Apartment masih terbaca oleh GPSnya. Langsung saja ia melajukan mobilnya untuk menuju tujuannya, Moonlight Apartment.

“Donghae nim..”

“Pangil Donghae saja, ini diluar hotel”

“Ah ne, Donghae ssi, kamsahamnida. Kalau boleh tau kenapa kau kembali menjemputku lagi?” tanya Taeyeon hati hati.

Wajah Donghae terlihat bingung, tapi ia berusaha tetap terlihat cool dihadapan Taeyeon. “Aku, tak tega melihatmu disana.” jawab Donghae.

“Ah, lain kali aku memasang mimik melas saja setiap hari. Aku dapat tumpangan gratis.” bisik Taeyeon pelan.

Percuma ia berbicara dalam volume pelan, Donghae memiliki pendengaran tajam. “Tumpanganku tak gratis!” ucap Donghae.

“Telinganya tajam sekali..,” keluh Taeyeon dalam hati.

Perjalanan mereka seakan secepat kilat. Belum sampai 10 menit mereka sudah sampai didepan Moonlight Apartment, GPS memang memberi jalan pintas yang sangat tepat. Taeyeon pun turun dan segera berlari ke tempat dimana ia bisa berteduh dan melakukan 3 kali bungkukan tanda terima kasihnya pada sang atasan walau di otaknya masih ada 1 dari 1001 pertanyaan yang masih belum terjawab.

***

Matahari pagi datang menyinari negara tempat pertama kalinya Lens didirikan, Korea. Matahari itu tak punya lagi rasa malu, ia menunjukan dirinya seutuhnya pada dunia. Sinarnya semakin terlihat di bumi semakin panas, panasnya bukan main saat ia berada tepat di tengah-tengah langit biru. Beruntung sekarang masih pagi, umat manusia belum perlu menyiapkan 1 botol air minum agar mereka tak dehidrasi.

“Kyu, kau sudah bangun?” tanya Ahra yang sibuk dengan peralatan dapur.

“Kalau aku belum bangun, kau bicara dengan siapa?” tanya Kyuhyun sambil menuang susu sapi putuh digelas keramik yang ia ambil di dalam laci penyimpanan gelas didekat kulkas dapurnya.

Kemudian hening. Mereka tidak bicara satu sama lain sampai Ahra mengingat sesuatu. Sesuatu yang pasti membuat Kyuhyun terkejut dan kaget. “Seohyun, temanmu itu sepertinya sudah mendarat di Korea. Kau tidak menjemputnya?” Kyuhyun langsung menyemburkan susu yang ada dimulutnya dan hampir mengenai handphone kesayangannya sendiri.

“Jangan bilang kau lupa ia mendarat hari ini….” Kyuhyun mengangguk tanpa dosa.

Dongsaengku ini, semakin dewasa ingatannya semakin menyedihkan.” ejek Ahra.

Incheon, tak pernah terlihat sepi. Terbukti saat ini banyak pesawat mendarat dan terbang dari landasan. Di setiap sudut selalu terdapat banyak manusia yang saling bercengkrama satu sama lain. Seorang gadis cantik yang baru saja mendarat dari sebuah negara nan jauh disana, Amerika. Ia berjalan dengan indahnya seperti jalan di runway. Sekilas ia seperti supermodel yang sangat piawai dalam berjalan. Kacamata hitam merk Chanel membingkai wajah cantiknya yang bak gadis sampul.

“Nona Seohyun. Mari lewat sini.”

Gadis itu berjalan menuju arah yang ditujukan sang penjemput. Jalannya berhenti saat tepat di depan mobil sedan putih mewah. Sang penjemput yang berprofesi sebagai supir, membukakan pintu bagi Seohyun, ya gadis itu adalah Seohyun. Seohyun pun masuk dan duduk di bangku belakang.

“Kita akan menuju kemana nona?”

“Nowon. Rumah keluarga Cho.”

Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, mobil langsung bergerak, menembus keramaian kota Seoul.

TBC

Comment ya~ tinggalkan jejak kalian~

11 thoughts on “Lens [ Part 2 ]

  1. lidia says:

    kyaaaaaa, ini keren banget ceritanya, thor… 😀
    EunSica, sumpah bikin ngakak…
    HaeYeon, so sweet bangett…
    KyuNa, gak bisa blg apa-apa lah buat pasangan KyuNa… 🙂
    itu Seonni ada hubungan apa sama Kyuppa?
    lanjutt, thor..
    part 3nya update soon ya! *puppy-eyes*
    keep writing! hwaiting!^^

  2. musketeer says:

    eon, asli, ngakak pas baca bagian HyukSica berantem.
    kkk~ gokil parah…

    asyik ada Kyuna lagi. banyakin Kyuna momentnya dong eon *puppy eyes*
    TaeHae??? emm, not bad lah.
    pokoknya ffmu selalu daebak eon…
    aku suka banget ff eon yang You and I. moga-moga endingnya juga kaya ending di You and I. *kyuppa sama yoong unnie*
    kkk~
    keep writing eon!! FIGHTING!!

  3. Deery00ng says:

    UnN , ,
    crita.x tmbah mnarik ajja , ,
    unN,buat y0ongnie jg cnta ma kyupPa unN, ,
    kan nnti tmbah mnarik , ,
    q ska cra pnggambaran smua krakter dsni , ,
    pk0k.x daebbakKK, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s