Lens [ Part 3 ]

Rumah keluarga Cho, terlihat sudah memulai aktivitasnya. Ini masih pukul 8 pagi dan entah mengapa semua terlihat sangat sibuk. Ada yang menurunkan koper dan beberapa barang lainnya dari sebuah mobil. Semua itu dibawa masuk kedalam rumah keluarga Cho.

“Seohyun ah,” teriak Ahra saat melihat kedatangan seorang perempuan berwajah sangat cantik. Ia segera berlari kecil dari pintu masuk rumahnya

“Eonni, mana Kyuhyun?” tanya Seohyun.

“Dia? Ada di dalam, otaknya sedang error sampai-sampai ia lupa kalau kau datang hari ini.” jawab Ahra sambil menemani Seohyun berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Dia lupa? Tumben sekali, biasanya ingatannya sangat bagus sampai terkesan menyeramkan.” komentar Seohyun sambil terkekeh. Ia ingat saat Kyuhyun dapat mengingat di mana letak buku milik Ahra yang terakhir terlihat setahun yang lalu. Bahkan Ahra sendiri sudah lupa judul buku itu.

“Ya, efek jatuh cinta ternyata sangat fatal.” gerutu Ahra. Seohyun menoleh menatap Ahra yang tetap berjalan dengan mata membulat.

“Ia sudah punya pacar?”

“Hmm, tidak bisa dikatakan pacar. Tapi dia dijodohkan dan sepertinya ia sudah tergila-gila dengan gadis itu.” jelas Ahra. Mata Seohyun makin melebar.

“Ia bisa jatuh cinta?” tanya Seohyun penasaran. “Bisa lah, ia kan manusia juga.”

“Kukira robot yang terkadang galau.” jawab Seohyun asal. Memang Kyuhyun itu hampir seperti robot, tetapi terkadang sikapnya seperti anak kecil. Sulit untuk dipercaya bahwa ia sudah tua.

“Kyuhyun ah.”

Kyuhyun menoleh dengan mulut dipenuhi roti. Ia menatap Seohyun yang memanggilnya dengan mata membulat, lalu ia cengar-cengir sendiri menatapnya. “Hi, Seohyun ah. Aku lupa kau pulang hari ini.”

“Kok ada sih gadis yang mau denganmu?”

Ucapan Seohyun begitu melihat Kyuhyun sangat tidak terduga, membuat Kyuhyun memandangnya dengan terbengong-bengong. Tawa Ahra langsung meledak, ia tertawa seperti tiada hari esok. Kyuhyun merasa harga dirinya jatuh ke dasar neraka karena diejek seperti itu.

Ia ingin berteriak bahwa tentu saja banyak gadis yang sedang mengantri untuk bersama dengannya. Tetapi karena terlalu shock ia tidak bisa membalas ucapan Seohyun. Baru sekali ini ia diejek seperti tadi.

“Te..tentu saja banyak. Kau buta!” Akhirnya Kyuhyun membalas ucapan Seohyun.

“Ngomong-ngomong, kau akan menginap di sini?”

“Tentu saja, aku kan kangen dengan kalian, Ahra eonni dan kau juga Kyuhyun ah!” balas Seohyun sambil mencomot roti milik Kyuhyun yang diabaikannya.

“Sana kau pulang! Seperti tidak punya rumah saja!” Kyuhyun dengan kejamnya mengusir Seohyun, sebagai pembalasan dari ejekannya tadi.

“Jangan dendam begitu dong Kyuhyun ah. Jangan mentang-mentang kau sudah punya pacar, kau menjadi kejam padaku. Nanti akan kubocorkan kejelekanmu pada pacarmu!” ancam Seohyun. Kyuhyun langsung mati kutu karena ancaman Seohyun. Imagenya yang belum jelas di mata Yoona bisa langsung hancur sebelum ia sendiri mulai memperlihatkan kepribadiannya.

Seohyun tersenyum puas karena Kyuhyun kalah telak dalam pembicaraan ini.

“Ahh, aku ingin bertemu dengan gadia itu. Gadis menyedihkan yang harus bersama denganmu…,” Seohyun kembali mengejek Kyuhyun. Ahra kembali tertawa keras.

“Tak perlu bersama Kyuhyun hidupnya sudah cukup menyedihkan. Kau tahu Im Yoona kan?” kata Ahra setelah menghentikan tawanya. Kedua alis Seohyun langsung terangkat.

“Im Yoona? Pewaris hotel Lens kan? Dia? Kasihan sekali…,” gumam Seohyun dengan wajah penuh ekspresi belas kasihan.

“Berhentilah mengejekku. Aku tidak seburuk itu, malah sebaliknya, hidupnya yang menyedihkan akan segera kubawa menuju kebahagiaan!” tukas Kyuhyun penuh percaya diri. Wajahnya yang penuh tekat membuat Seohyun tersenyum tipis. Sahabatnya ini telah berubah menjadi seorang pria dewasa yang penuh tekat dan tanggung jawab, karena satu hal, cinta.

***

Pearl Hall, sebuah ruangan yang dapat dibilang luas dan dapat menampung sekitar 2000 orang. Terletak disebuah hotel mewah dikawasan Seoul, Lens. Hall yang paling sering digunakan untuk mengadakan berbagai macam acara, dibandingkan Emerald Hall yang juga berada di hotel Lens.

Setelah rapat berlangsung, para petugas segera masuk ke dalam hall untuk memasang tiang-tiang untuk lighting. Tiang yang dipakai berwarna silver mengkilat, hampir menyerupai kaca, membuatnya terlihat anggun dan mewah.

“Seluruh staff dimohon lebih cepat bergerak, kita dikejar oleh waktu!” teriak Eunhyuk dari tengah-tengah stage yang sudah terisi air sejak kemarin. Hari ini mereka hanya harus menyelesaikan lighting untuk stage saja dan memperbaiki beberapa detail yang dirasa masih kurang.

Seorang pekerja menghampiri Eunhyuk, tangannya menepuk pundak sebelah kanan Eunhyuk. Dan pada saat Eunhyuk menengok ke arah dimana sang pekerja menepuk pundaknya, ia terkejut pada seorang gadis yang dibawa oleh staff itu.

“Aaa, nenek sihir, jangan sihir aku!” teriak Eunhyuk yang merupakan sebuah ejekan bagi gadis itu. Yap siapa lagi kalau bukan Jessica.

“Hey, monyet, aku kesini bukan untuk beradu mulut. Bagaimana stageku?” tanya Jessica mencoba menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja karena mahluk di hadapannya ini.

“Kau lihat saja. Bagaimana? Ada yang kurang?” tanya Eunhyuk sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling hall yang telah disulapnya menjadi lokasi runway.

Jessica mengangguk puas dengan hasil kerja para pekerja, bukan untuk Eunhyuk tentu saja. Satu hal yang membuat Jessica menghentikan senyuman manisnya. Sekumpulan lampu sorot masih tergeletak di lantai secara tak beraturan.

“Lampu- lampu itu baru akan dipasang. Sudah ada yang dipasang tapi hanya sedikit.” jelas Eunhyuk, yang mengerti apa yang Jessica pikirkan saat melihat lampu lampu sorot masih tergeletak. Ia lalu menunjuk beberapa lampu yang telah terpasang. Jessica mengikuti arah pandang Eunhyuk dan menganggukkan kepalanya.

“Oh, okay, aku ingin berkeliling.” ucap Jessica.

“Perlu kutemani?”

“Tidak perlu.”

Jessica langsung mengibaskan rambutnya lalu berlalu meninggalkan Eunhyuk. Ia terpaku pada posisinya melihat kelakuan Jessica yang benar-benar seperti seorang putri. Bukan kagum, tetapi heran. Tak mau membuang waktu, ia langsung mengamati pekerjaan para pekerjanya.

Dengan langkah perlahan, tak mau heels Louboutin-nya terkena barang-barang yang dapat merusaknya, Jessica berjalan mengelilingi stage dengan mata kagum. Ia tak menyangka Eunhyuk dapat bekerja dengan baik dan memberikan hasil yang memuaskan. Ia naik ke atas stage untuk melihat keseluruhan ruangan.

“Ikat saja dengan kawat.” ucap seorang pekerja yang berada di bagian langit -langit hall sambil memasang sebuah lampu sorot.

BUK

Tangga yang menjadi pijakan staff itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, lampu yang belum terikat betul dengan tiang yang menjulang tinggi di sebelah kiri panggung bergerak mengikuti gerakan si pekerja. Seorang rekan kerjanya tak sengaja menyenggol tangga yang dapat dikatakan sangat tinggi.

“Fyuh. Hampir saja.” ucap si staff dengan ekspresi wajah lega karena ia tidak jadi jatuh.

BUK

Sekali lagi, tangga itu tersenggol. Goncangannya membuat tangannya melepaskan lampu yang belum terikat sempurna. Lampu itu tak kuat menahan beratnya sendiri dan membuatnya terlempar lalu terjun bebas dari atas. Teriakan langsung menggema di seluruh hall.

“Nona awas!” teriaknya dengan suara nyaring.

Eunhyuk yang mendengar teriakannya melihat sebuah benda jatuh bebas dari angkasa. Jessica yang baru saja turun dari stage menjadi landasan lampu tersebut. Entah apa yang menggerakan otot-otot Eunhyuk, ia berlari kearah Jessica. Tangannya meraih kepala Jessica dan berusaha melindunginya dengan punggung bidangnya.

Lampu itu sukses mendarat di punggung Eunhyuk. Pecahannya menyebar kemana-mana, beruntung tubuh Jessica berada di dalam dekapan Eunhyuk. Pecahan itu tak mengenai tubuhnya, tetapi pecahan itu banyak menempel pada tubuh Eunhyuk.

“Eunhyuk ssi..” ucap Jessica tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Eunhyuk yang selalu mengajaknya berperang setiap kali bertemu, yang selalu mengatainya nenek sihir, baru saja menolongnya dari celaka.

Tubuh Eunhyuk melemas dan jatuh seketika. Matanya terpejam dan dari pipinya darah mengalir akibat tergores kaca.

“Yak! Eunhyuk ssi.. Jangan mengerjaiku..,” ucap Jessica sambil menggoyang-goyangkan tubuh Eunhyuk. Ia merasa Eunhyuk sedang mengerjainya, ingin membuatnya panik.

Tetapi tak ada respon. Jessica sadar Eunhyuk tidak sedang membual, ia langsung menyuruh para staff menggotong dan memasukan Eunhyuk ke dalam mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

***

“Donghae nim, ini..,” Taeyeon memberi sebuah bungkusan sedang ke hadapan Donghae yang sedang duduk dengan tenang di meja kerjanya.

Dengan lirikan tajam, Donghae melihat bungkusan itu. Di dalam otaknya, berbagai analisis mulai beterbangan, mungkin bungkusan itu berisi racun atau jangan-jangan bangkai hewan. Tapi lama- kelamaan ia menatapnya dengan tatapan yang terbilang hangat. Tangannya menerima bungkusan itu.

“Ini apa?”

“Ucapan terima kasih dari seorang sekertaris pada atasan, yang mau mengantar sekertarisnya selamat sampai dirumah.” ucap Taeyeon malu-malu. Atau dengan takut-takut, mengingat image Donghae yang seperti pangeran iblis. Menurut Taeyeon, Donghae merupakan jelmaan Hades, dewa kematian dari mitologi Yunani. Tinggal di dunia bawah dalam kegelapan, bersama para roh orang mati…

Donghae mengangguk, lalu kembali ke pekerjaannya. Ia tidak menganggap Taeyeon sama sekali. Keadaan jadi hening, dan Taeyeon tetap saja belum keluar dari ruangan Donghae.

“Mau apa lagi?” Tanya Donghae

“Ada yang ingin ku tanyakan.”

“Apa?”

“Kenapa kau baik sekali? Padahal rupa dan wajahmu sama sekali tak mendukung menjadi atasan baik hati dan tidak sombong..,” tanya Taeyeon. Donghae langsung mendelik, ia menghujamkan tatapan tajam yang dapat melelehkan es di kutub utara dalam seketika. Taeyeon langsung salah tingkah, ia ketakutan tentu saja. Dengan segera ia meralat ucapannya.

“Ma.., maksudku image mu selama ini tidak cocok dengan apa yang kau lakukan..”

“Kau hanya menilai seseorang dari tampilannya saja.” ucap Donghae singkat. Aura kegelapan yang sempat hilang di mata Taeyeon kembali menyelubungi dirinya. Taeyeon hanya dapat mengejek atasannya tersebut dalam hati, bagaimana bisa ia menilai apa yang ada di dalam diri Donghae kalau luarnya saja lebih mirip dewa kematian dari pada manusia. Bahkan Donghae sangat jarang mengeluarkan ekspresi. Semua orang hanya tahu bahwa ia merupakan pria yang dingin dan kejam, begitu kesimpulan yang mereka dapat setelah bekerja dengannya. Agak tidak mungkin orang menganggap ia baik hati.

Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar suara pintu ruangan Donghae diketuk. Taeyeon dan Donghae langsung saja menatap pintu masuk ruangan lekat-lekat.

Annyeong, oppa, eonni.”

“Yoona yaaa.” Wajah Taeyeon langsung berseri-seri, ia dengan setengah berlari menghampiri Yoona dengan kedua tangan terbuka lebar, siap memeluknya. Yoona terkekeh melihat tingkah Taeyeon. Donghae terlihat tidak peduli, ia malah menunduk, melanjutkan aktifitasnya dengan tumpukan kertas bercetak angka-angka di hadapannya.

Eonni, aku mau bicara dengan Donghae oppa, bisa keluar dahulu?” Yoona melepaskan pelukan Taeyeon, memintanya untuk keluar sebentar. Taeyeon merasa aneh dengan permintaan Yoona, tetapi ia tetap menuruti permintaan Yoona dengan senyum di wajahnya. Ia pun berjalan keluar dari ruangan.

“Ada apa?” Donghae meletakkan pensil yang sedari tadi digunakannya untuk menghitung. Ia menatap Yoona yang berdiri dengan wajah gelisah. Donghae pun bangkit berdiri, mengajak Yoona untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.

Oppa, aku dijodohkan.”

Dahi Donghae mengernyit mendengar ucapan Yoona. Dijodohkan? Tidak aneh memang, mengingat sifat pemilik hotel Lens, ayah dari Yoona.

“Dengan siapa?”

“Cho… Kyuhyun.”

Yoona menghela nafas setelah mengucapkan nama pria itu. Donghae kembali memiliki ekspresi pada wajahnya. Ia sebenarnya sudah tahu mengenai hal ini.

“Dengan pria aneh yang seperti orang bodoh itu?” Ucapan Donghae dapat menusuk lubuk hati yang paling dalam. Bila Kyuhyun mendengarnya, pasti ia akan sakit hati. Yoona tak kuasa untuk tidak tertawa, ia menahan tawanya mati-matian.

“Kurasa..”

“Aku sudah tahu kau akan dijodohkan, ternyata dia prianya.” ucap Donghae datar. “Apa kau benar benar ingin menikah dengannya? Maksudku, kau tak menikah dengan rasa terpaksa kan?” tanya Donghae.Yoona kembali ke titik kenormalannya, tawanya hilang seketika. Ia menatap Donghae dengan kedua mata sayu dan tanpa menjawab Donghae tahu apa yang akan diucapkan oleh Yoona, apa yang dipikirkan olehnya.

Dari luar, seorang gadis berpakaian rapi menempelkan telinga kirinya pada permukaan pintu kayu besar. Setelah diusir dari dalam ruangan, Taeyeon terus diselimuti rasa penasaran, ia ingin sekali mengetahui apa yang di bicarakan oleh mereka, Donghae dan Yoona. Akhirnya ia memutuskan untuk mendengarkan percakapan mereka dengan menghalalkan segala cara. Dan cara yang ia pilih adalah menaruh telinganya yang indah di sebuah pintu, berharap dapat mendengar percakapan dua manusia didalam.

“Apa yang harus kulakukan oppa?” tanya Yoona, tentu saja suaranya nampak seperti orang bingung dan panik.

“Pasti ada cara.” balas Donghae singkat

“Cara apa? Kabur saat hari pertunanganku?”

DEG. Taeyeon sedikit menjauh dari pintu, menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha berpikir positif lalu mendekatkan lagi telinganya ke pintu.

“Aku akan memikirkannya nanti, sekarang kau kembali lah ke rumah. Dengar, kalau kau memang tidak mau menikah dengannya jangan beri dia harapan. Jangan menjadi seorang pemberi harapan palsu.” ujar Donghae dengan ekspresi dinginnya yang sudah menjaditrademark.

Tepukan pelan terasa pada pundak Taeyeon, membuat konsentrasinya pada pembicaraan Donghae dan Yoona di dalam buyar. Awalnya ia ingin marah karena menurutnya orang yang menepuk pundaknya adalah satpam atau seorang office boy karena telah membuatnya terkejut, tetapi ternyata di hadapannya berdiri wajah yang sedang dibicarakan di dalam.

“Cho Kyuhyun ssi…,”

“Kau menguping pembicaraan bos mu?” tanya Kyuhyun dengan nada datar penuh kecurigaan.

Taeyeon tersenyum tanpa dosa lalu menganggukkan kepalanya. Ia tak percaya bahwa orang yang menjadi pokok pembicaraan Yoona dan Donghae didalam, berada didepannya sekarang. Mungkin ini pertanda umur Kyuhyun akan panjang.

“Minggir atau kulaporkan bos mu!” ucap Kyuhyun ketus, baru saja bertemu dengan Taeyeon ia sudah mencari masalah.

“Ssst! Jangan masuk! Ada Yoona didalam!” ucap Taeyeon sambil memerintahkan Kyuhyun untuk diam sambil membentengi pintu ruangan Donghae dengan badannya yang mungil dan imut.

Kyuhyun langsung menatap Taeyeon dengan tatapan penasaran. “Kau serius?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Untuk apa aku berbohong? Sebaiknya kau jaga baik-baik calon tunanganmu itu. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu agar pertunangan kalian batal. Kabur maybe.” ucap Taeyeon santai tanpa dosa.

Kyuhyun terdiam seribu bahasa. Sepertinya Taeyeon tak berbohong. Yoona dimata Kyuhyun, sudah dari awal menolak pertunangan ini walaupun tidak ia tunjukan secara blak blakan. Merasa tak ingin Yoona direbut laki laki lain, Kyuhyun mulai menggunakan otak liciknya untuk memikirkan cara agar Yoona tetap berada dalam genggamannya.

“Taeyeon ssi! Ikut denganku!” Kyuhyun menarik tangan Taeyeon. Bingung, Taeyeon hanya bisa pasrah mau dibawa kemana dirinya oleh Kyuhyun.

Mobil Kyuhyun melaju dengan cepat, Taeyeon sudah menggunakan seatbelt, tetapi tetap saja ia memegang lengan kyuhyun erat-erat. Ia takut sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi dan membuat nyawanya melayang sia-sia karena hal konyol seperti ini. Walau lengannya dicengkram keras oleh Taeyeon, Kyuhyun tak peduli, ia malah tetap menekan pedal gas mobilnya dan fokus ke jalan. Mobil itu akhirnya berhenti di tepi Sungai Han.

“Untuk apa kita kesini?” tanya Taeyeon penasaran. Ia kira Kyuhyun akan menyekapnya di sebuah gudang tak bertuan dan meninggalkannya disana. Pikirannya mulai melanglang buana, apa jangan-jangan Kyuhyun akan bunuh diri dengan loncat ke sungai Han?

“Kau berteman dengannya, ceritakan aku tentang dirinya sekarang!” tukas Kyuhyun.

Taeyeon menatap langit, menyeleksi apa yang harus diceritakan dan tidak diceritakan pada manusia yang seperti sedang kebakaran jenggot didepannya, Cho Kyuhyun. “Yoona, tak pernah merasa bebas. Hidupnya penuh aturan dan larangan. Ia kesepian.” ucap Taeyeon sambil tersenyum miris menatap jalanan tempat ia berpijak.

“Hanya itu?”

“Yang ku tahu hanya itu, kalau hal-hal yang paling ia suka, ia sangat suka melakukan hal yang belum pernah ia lakukan.” ucap Taeyeon. “Cho Kyuhyun, aku berharap banyak pada mu. Buatlah Yoona bahagia setelah kalian menikah nanti.”

Kyuhyun terdiam, terdiam seakan seluruh dunia sedang berhenti berputar sekarang.

***

Bodoh, satu kata yang terus menghantu Taeyeon. Sebegitu bodohnya kah ia sampai ia tak meminta Kyuhyun mengembalikannya ke Lens dan membiarkan Kyuhyun kabur dengan mobil Ferrarinya. Sekarang ia harus berjalan dari tepi Sungai Han sampai ke Lens, sebuah hal yang tak pernah dilakukannya. Jaraknya cukup jauh membuat derasnya keringat mengucur sempurnya dari kepalanya.

“Taeyeon ah, kau dicari Donghae nim.” ucap Yuri saat Taeyeon melewati meja resepsionis.

Taeyeon mengangguk dan berjalan ke dalam lift yang terbuka menunggunya.

“Kau dari mana?” tanya Donghae saat melihat sang sekertaris sampai di ruangannya dengan keadaan mandi keringat. Mulutnya pucat seperti dehidrasi di kutub utara atau padang pasir. “Kau tidak sakit kan? Ayau jangan jangan kau mabuk?” lanjutnya sambil menghampiri sang sekertaris.

Tangan Donghae langsung memegang dahi Taeyeon, sekedar mengecheck keadaannya. Beruntung dugaan awalnya salah, Taeyeon tidak sakit. “Aku butuh air..,” ucap Taeyeon pelan, untung saja telinga Donghae punya kepekaan yang sangat tinggi.

Donghae langsung menempatkan Taeyeon di sofa yang berada diruangannya. Berusaha memposisikan Taeyeon terbaring nyaman di sofa utu dengan kepala disangga dengan bantal. Setelah itu ia keluar dengan tergesa gesa menuju pantry untuk mengambil air minum sebanyak banyaknya. Dan hampir saja ia nekat mengangkat satu galon penuh.

“Tuan, ini gelasnya.” ucap salah seorang office boy.

“Ah! Kamsahamnida.” balas Donghae. Dan office boy itu langsung membulatkan mulutnya, mendengar ucapan terimakasih dari Donghae.

Dalam ruang kerja Donghae, Taeyeon masih terbaring di sofa dengan wajah sayu dan pucat kekurangan air. Akhirnya setelah beberapa menit menunggu air datang, Donghae masuk membawakan segelas besar air. “Ini minum dan habiskan.” ucap Donghae dengan nada memerintah. Tanpa di perintah oleh Donghae, Taeyeon pasti menghabiskan air itu.

Donghae membuka jasnya, mengambil sebuah kain yang disebut sapu tangan dari kantong dalam jas. Kemudian ia mengelap keringat yang masih mengucur dari kepala Taeyeon. Lembut, Donghae melakukannya dengan hati hati. “Kau ini, kenapa bisa sampai mandi keringat?” tanya Donghae.

“Itu semua karena Cho Kyuhyun brengsek itu. Laki laki itu menurunkan ku di Sungai Han dan tak bertanggung jawab mengembalikan ku ke sini. Dompet beserta tasku tertinggal disini. Malang sekali nasibku…,” adu Taeyeon.

“Ya sudah, kau beristirahat saja dulu. Tak perlu bekerja, lagi pula pekerjaan mu sudah ku kerjakan semua.” ujar Donghae.

Taeyeon terdiam mendengar ucapan Donghae. “Kau baik sekali.” puji Taeyeon.

“Sudah ku bilang, jangan nilai orang dari luarnya. Sudah jangan banyak berbicara, beristirahatlah kalau butuh apa apa aku duduk di kursi ku!” balas Donghae seraya dengan langkah meninggalkan Taeyeon.

Gomawo!” teriak Taeyeon.

“Intuk?”

“Atas apa yang kau lakukan untukku dan kau memakainya. Dasi itu.” lanjut Taeyeon.

“Coraknya tidak terlalu mencolok, dan warnanya bagus tak ada salahnya jika aku pakai.” balas Donghae sambil tersenyum.

Hp Donghae berbunyi. Ia segera mengangkatnya.

Yoboseyo..” sapa Donghae pada orang di sebrang sambungan telephone sana. Entah dimana keberadaan orang itu.

Mwo? Bai lah aku kesana sekarang.”

***

Bau khas rumah sakit menusuk indera penciuman Jessica, dan semua harus ia tahan demi seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya secara tak sengaja.

“Dokter Shin, bagaimana keadaan Mony…, ah, ani, Eunhyuk?” tanya Jessica panik.

Dokter itu menatap Jessica ragu, mimiknya tak bisa diungkapkan. Sedih, menyesal semua bercampur menjadi satu dalam ekspresi wajahnya. Sepertinya Jessica sudah tahu jawabannya dari wajah sang Dokter. “Dok, dia tidak apa-apa kan?” tanya Jessica memastikan jawaban yang ada di otaknya itu salah besar.

“Maaf nona, sebaiknya anda melihat sendiri keadaannya.”

Dua orang perawat keluar dari ruang unit gawat darurat. Mereka mendorong tempat tidur yang diberi roda pada bagian keempat kakinya agar memudahkan siapa saja yang ingin memindahkannya. Seseorang terbaring disana, matanya tertutup dan tangannya tersambung dengan selang yang berisi cairan infus.

“Eunhyuk ssi!”

Jessica mengikuti kedua perawat itu, dan sampailah mereka disebuah kamar berbentuk balok. Cat bewarna putih mewarnai tembok, vas bunga yang terletak di atas laci kecil didekat tempat tidur menghiasi kamar ini. Disana, tergeletak lemah seorang laki laki dengan perban membalut bagian kepalanya. Ia menutup matanya seakan sedang menjelajahi sebuah dunia mimpi. Kedua perawat itu memutuskan keluar, pekerjaan mereka sudah selesai.

Jessica berdiri di dekat pintu masuk. Ia belum bergerak sedikit pun semenjak kedua perawat itu keluar.

Babo! Bangun lah!!” ucap Jessica dilanjutkan isakan tangisnya yang meledak.

Tangan Jessica terus menggoncang-goncangkan tubuh Eunhyuk. Tak ada respon, ia memutuskan untuk berhenti. “Babo bangun lah! Aku tak memintamu untuk melindungi ku…,” ucap Jessica sambil menangis. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi, salah satunya adalah Eunhyuk tidak bagun lagi. Ia tidak akan bisa hidup dalam ketenangan lagi.

Disela-sela tangisan yang semakin menjadi-jadi, sebuah respon yang tak disangka sangka, Eunhyuk membuka mata dan merubah posisi tidurannya ke posisi duduk. Jessica yang masih menangis sama sekali tak sadar dengan apa yang Eunhyuk lakukan. Seperti dalam film horor? Benar seperti vampire bangun di bulan purnama untuk mencari mangsa agar hasrat menghisap darahnya terpenuhi.

“Hey, nenek sihir, berhentilah menangis! Kau mengganggu acara tidurku!” ucap Eunhyuk santai.

Sedetik kemudian Jessica berhenti menangis, dan menatap Eunhyuk dengan tak percaya. Baiklah, ia sedang marah besar. Tatapannya sangat garang dan seperti ada api membara. Tangannya mengambil sebuah benda yang tersedia di dekat vas bunga. Metal dan datar.

PLAK

“Ouch! Ya, jangan pukul aku dengan nampan itu! Aish, jinjja, kau mau membunuhku?” protes Eunhyuk yang tidak terima dengan perlakuan Jessica padanya. Jessica yang kesal karena merasa ditipu memukuli Eunhyuk dengan nampan berbahan stainless steel yang ada di atas meja.

Babo! Kukira kau dalam keadaan kritis. Kenapa kau membohongiku? Untuk apa aku membuang buang air mataku? Kau tahu air mataku itu mahal? Kenapa kau bangun! Tidak usah bangun sekalian!” bentak Jessica emosi.

Eunhyuk diam, sepertinya ucapan Jessica bagaikan sebuah mantra yang membuat dirinya mematung. Kata-kata yang diucapkan Jessica sepertinya sangat menancap dalam hatinya. Seperti sebuah anak panah yang menembus hatinya. Tangannya dengan cepat menggapai kepala Jessica dan memposisikannya di bahu, bahu yang cukup nyaman untuk menuangkan airmata.

Mianhae.” ucap Eunhyuk

Babo!

“Hmm.”

Jessica tetap menangis dalam pelukan Eunhyuk. Dan baju yang Eunhyuk pakai terus bertambah basah oleh air mata Jessica. Ini pertama kalinya dalam sejarah mereka dapat melakukan hal selain bertengkar. “Hey nenek sihir, bisa kan kita seperti ini sebentar. Ternyata berbaikan dengan mu lebih nyaman dibandingkan bertengkar.” ucap Eunhyuk yang semakin erat memeluk Jessica.

CKLEK

Pintu terbuka, dua orang muncul dari luar pintu. Mereka masuk dengan membawa sebuah bunga dan 1 keranjang buah. Awalnya mereka merasa khawatir tapi entah mengapa melihat kejadian langka yang ada didepan mereka sekarang, rasa khawatir itu seakan langsung menghilang. Digantikan oleh rasa khawatir yang lain, apakah mereka berdua gegar otak?

“Kalian berdua…,” ucap Donghae dan Taeyeon tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka pikir mereka sedang berhalusinasi.

Tak menunggu waktu lama, Jessica langsung menjauh dari badan Eunhyuk. “Jangan mencaari kesempatan dalam kesempitan Eunhyuk ssi. Donghae ssi, Taeyeon ssi ini tidak seperti apa yang kalian pikirkan.” ucap Jessica.

“Aish, dengar ya, ini pertama kalinya aku menemukan spesies gadis sepertimu. Disayang tidak mau, dipeluk malah menjauh, diajak bertengkar semangat sekali. Sudah lah aku tak sanggup hati bertengkar denganmu. Aku terlanjur nyaman dengan kehadiranmu.” ucap Eunhyuk.

“Kau… dapat dari mana kata-kata yang menjijikan itu. Yak Eunhyuk ssi, kau suka padaku?” tanya Jessica percaya diri.

Wajah Eunhyuk memerah dan segera memalingkan wajahnya dari wajah Jessica. “Sial.” umpat Eunhyuk.

“Akui saja, kau takluk pada kecantikan ku bukan?”

Dengan berani Eunhyuk kembali menatap Jessica “Kalau iya, bagaimana?”

“Menjijikan. Kau tau? Kau bukan tipe ku sama sekali. Dengar ya, Eunhyuk ssi, harusnya Cesc Fabregas, Iker Casillas dan Adam Levine yang terpesona padaku. Kenapa malah kau? Malang sekali nasibku ini.” balas Jessica ketus sarat kesedihan

Telunjuk Eunhyuk mengarah pada wajah Jessica, ia terlihat sangat percaya diri. Eunhyuk terus menatap Jessica dengan tatapan membara. “Lihat saja nenek lampir, akan ku sulap kau. Ku sulap menjadi terpesona dan memuja muja diriku!” ucapnya, nadanya naik seperti marah, bukan marah tapi bersemangat.

“Tidak mungkin!”

“Lihat saja, sampai kau memuja-muja diriku, kau dan aku akan berakhir di pelaminan!” ucap Eunhyuk percaya diri. Senyum mengembang di bibirnya.

Donghae dan Taeyeon seperti menonton film di dalam cinema. Seperti 3D, gambarnya terlihat sangat nyata. Tetapi mereka masih curiga kalau mereka sedang bermimpi. Mereka berdua seakan menjadi patung penghias dalam ruangan itu.

***

Kyuhyun berjalan mondar-mandir seperti setrikaan di dalam kamar Ahra. Ahra yang sedang duduk di atas sofa sambil membaca majalah Vogue bulan ini meliriknya dengan sinis. Aksi Kyuhyun yang tidak jelas itu sangat mengganggu matanya.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” Ahra yang sudah mencapai batas kesabarannya menutup majalah yang ia pegang menimbulkan suara berdebam. Kyuhyun terlonjak mendengar debaman majalah tersebut.

“Kalau kau ingin melicinkan karpet, lebih baik karpet ruang tengah saja!” sambung Ahra sambil menatap Kyuhyun dengan ganas. Kyuhyum berhenti bergerak, raut wajahnya terlihat sangat panik. Ahra semakin merasa adiknya semakin aneh saja.

Noona, bagaimana ini?”

“Bagaimana apaan? Kau dari tadi hanya mondar-mandir di dalam kamarku, tidak mengucapkan sepatah kata pun.” balas Ahra kesal, karena Kyuhyun mulai bertingkah tidak jelas.

“Yoona, Donghae mau membantunya bila ia ingin kabur dariku.” ucap Kyuhyun ala anak kecil yang panik karena permennya diambil oleh temannya.

“Lalu, apa kau mempunyai rencana?” tanya Ahra penasaran. Tiba-tiba ia jadi tertarik dengan masalah adiknya ini. Kyuhyun menoleh menatap kakaknya tercinta. “Tentu saja tidak.” jawab Kyuhyun pasrah. Ia sudah tidak dapat berpikir tentang apa yang harus ia lakukan.

“Dasar bodoh. Cinta membuat kemampuan otakmu menurun.” cibir Ahra. Ia terlihat berfikir sebentar setelah mengejek adiknya itu.

“Bagaimana kalau kau ajak dia pergi? Setahuku ia sangat jarang keluar dari rumah karena dilarang..,” Kyuhyun melotot setelah mendengar ucapannya kakaknya mengenai Yoona.

“Jadi, kalau kubawa ia ke mall atau taman bermain, ia akan bahagia? Taeyeon juga mengatakan hal yang sama denganmu!” tanya Kyuhyun penuh tanda tanya. Ia mengingat ucapan Taeyeon mengenai apa yang akan Yoona suka. Melakukan hal yang belum pernah ia lakukan.

“Semoga saja. Kita tidak tahu kalau tidak dicoba kan?” ucap Ahra sedikit mengembalikan harapan di mata Kyuhyun.

***

Yoona berjalan-jalan di dalam Lens, melihat-lihat para tamu yang sedang bersantai atau makan. Hanya ini yang bisa ia lakukan setiap harinya, tidak menginjakan kaki di luar rumahnya ataupun Lens. Ayahnya merasa bahwa kedua tempat itu adalah tempat paling aman di bumi.

Tiba-tiba terasa lengannya di tarik oleh seorang yang diyakininya seorang pria. Tangan pria itu terasa hangat di telapak tangannya yang mungil.

“Mwoyaa?” jerit Yoona panik karena merasa diculik oleh pria tak dikenal.

Pria itu memakai pakaian yang tidak manusiawi terhadap warna. Ia bagaikan orang buta warna yang hanya dapat membedakan 3 warna , hitam putih dan abu abu. Masker, kacamata hitam dan jaket hitam membuat Yoona tak bisa mengenali orang tersebut. Pria yang terlihat seperti ninja atau mafia itu terus menyeret Yoona ke dalam sebuah mobil Ferrari hitam yang berkilau akibat pantulan sinar matahari. Sepertinya orang itu sangat mencintai warna hitam.

“Duduk dan jangan coba kabur!” ancam laki-laki itu agak tergesa-gesa saat menyadari bahwabodyguard milik Lens mencurigainya.

Yoona mau tak mau menuruti perkataan laki-laki itu. Ia duduk dan diam dengan detak jantung yang tak beraturan serta perasaan cemas yang mulai terlihat dari dirinya yang mulai menggigit bibir. Perasaan itu semakin menjadi-jadi saat laki-laki itu masuk ke dalam dan duduk di bangku pengemudi, siap untuk melajukan mobil Ferrari itu.

Kaki laki-laki itu mulai menginjak gas, mobil itu bergerak cukup kencang. Laki-laki itu sadar bahwa ada 2 mobil mengikutinya dari belakang. “Pegangan ya, nona cantik.” ucap laki-laki itu seperti peringatan. Mobil itu langsung bergerak dengan cepat, 120km/jam. Kedua mobil yang mengikutinya sudah tak terlihat, dengan kata lain ia lolos.

“Berhenti!” teriak Yoona

Laki-laki itu menengokan kepalanya.

“Kau itu siapa? Aku tak mengenalmu! Kembalikan aku ke Lens!” bentak Yoona.

Laki laki itu langsung membuka penyamarannya. Bermula dari kacamata dan diakhiri dengan jacket yang ia kenakan, semuanya tertanggalkan hanya menyisakan pakaian casual untuk sekedar pergi berjalan-jalan. Ia memamerkan senyum tanpa dosa.

Sekarang dengan mudah Yoona mengenali laki laki itu.

“Kau..”

***

-TBC-


9 thoughts on “Lens [ Part 3 ]

  1. kintachan says:

    Kyaaa~ aku suka adegannya Eunhyuk sama Jessica, unyuu gitu 😀
    kaya anjing sama kucing
    yah semoga Kyuhyun bisa meluluhkan hati Yoona.
    Eits.. Donghae oppa so sweet ^^ aigooo~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s