Lens [ Part 4 ]

Yoona, gadis pewaris Lens berparas cantik yang baru saja di jodohkan dengan putra keluarga Cho. Pertunangan yang didasari oleh kemauan kedua orang tua mereka, bukan dari hati mereka masing-masing. Yoona, gadis yang berusaha mengubah jalan hidupnya. Sedikit demi sedikit pasti akan berubah. Semua akan berubah, dan perubahan itu akan dimulai dari sini.

“Kau.. Cho Kyuhyun.” Dengan intens Yoona menatap laki-laki yang berada disebelahnya.

Laki-laki itu tersenyum pada Yoona. “Annyeong! Bagaimana acting mafia+ ninjaku tadi? Bagus tidak?” tanya Kyuhyun santai.

“Kyuhyun ssi, kau membuatku ketakutan. Kenapa kau lakukan ini, huh? Seperti anak kecil saja!” omel Yoona.

Kyuhyun melanjutkan laju mobilnya, kali ini mobilnya dipacu dengan kecepatan sedang. “Menuju kebebasan.” balas Kyuhyun sambil tersenyum menatap pemandangan di kaca depan mobil Ferrari tercintanya. Ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yoona. Yoona tidak berniat meminta penjelasan lebih lanjut dari Kyuhyun.

Yoona maupun Kyuhyun terdiam dalam perjalanan. Mereka sampai di depan sebuah taman bermain ternama di Korea, Lotte World. Mobil Kyuhyun melaju ke arah basement untuk di parkirkan. Merasa mendapat tempat yang dekat dengan pintu masuk, ia segera memposisikan mobilnya dalam keadaan diam. Rem tangan ditarik dan mesin dimatikan, barulah ia keluar dari mobilnya bersamaan dengan penumpang specialnya, Im Yoona.

“Kyuhyun ssi, tempat apa ini?” tanya Yoona. Kyuhyun menatap wajah Yoona yang terlihat penasaran dengan tatapan aneh.

“Kau belum pernah ke sini?” Kyuhyun balas bertanya dengan tatapan menyelidik.

Yoona menggeleng tanda bahwa ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Ya, memang semasa hidupnya Yoona hanya tinggal di dalam rumah atau di tempat dimana ia menghabiskan waktu belajarnya, sekolah dan kampus. Kedua orang tuanya melarang Yoona untuk pergi ke tempat tempat hiburan seperti ini. Sekali liburan, Yoona selalu diajak pergi ke tempat dimana cabang Lens berada. Jalan-jalan atau berbelanja pun selalu ditemani ayah atau ibunya.

“Baik lah, kemarikan tanganmu. Aku tak mau susah jika kau hilang.” ucap Kyuhyun yang langsung menyambar tangan Yoona. Yoona hanya menurut saja karena ia sedang excited mengunjungi tempat asing ini. Tidak peduli dengan fakta bahwa pria ini sama saja dengan pria asing. Ia tidak mengetahui apapun selain nama dan status pria ini.

Mereka berdua mulai memasuki sebuah tempat, dimana Yoona sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya sebelumnya. Tempat yang diyakini Kyuhyun dapat membuat Yoona bahagia dan senang.

“Kyuhyun ssi, bisakah kau perlambat langkahmu?” tanya Yoona yang dengan susah payah mengimbangi kecepatan langkah Kyuhyun.

“Ayo lah, aku tak sabar!” Bukannya memperlambat langkahnya, ia malah semakin cepat berjalan.

Berhentilah mereka di hadapan sebuah kapal besar yang entah mengapa malah menjadi pertanyaan besar bagi Yoona. ‘Bagaimana kapal sebesar itu masuk kedalam gedung ini?

“The Conquistador.” ucap Yoona dengan aksen yang baik dan benar saat membaca tulisan yang tertera di depan wahana tersebut. (The Conquistador: Kora-kora)

“Ayo naik!” Kyuhyun langsung menggeret Yoona naik ke kapal besar yang akan di ayun ke depan dan kebelakang, yang memberikan sensasi melayang pada perut si penikmat permainan itu.

The Conquistador siap dimulai. Wajah Kyuhyun yang awalnya sangat girang dan bahagia, berubah menjadi sedikit pucat. Yoona sama sekali tak menunjukan keanehan pada saat permainan ini dimulai. Perahu besar itu mulai diayun, tinggi dan semakin tinggi. Sensasi melayang makin dirasakan, terutama pada Kyuhyun. Ia hampir saja muntah.

“Kyuhyun ssi, wae?” tanya Yoona yang merasa ganjil dengan kelakuan Kyuhyun yang secara tiba-tiba berubah.

“Yoona ya… aku takut.” Kyuhyun langsung memindahkan tangan dari pegangan besi ke lengan Yoona.

Dan Yoona baru merasakan kenikmatan melayangnya perut, saat perahu itu sudah sampai limit ayunan tertingginya. Sedikit demi sedikit ia merasa ada kesenangan dalam dirinya, melupakan apa yang ia rasakan selama ini.

“Yoona ya!!!!!” teriak Kyuhyun sambil memeluki lengan Yoona dengan erat. Dan apa yang Kyuhyun lakukan hanya menambah kesenangan Yoona. Yoona tertawa dengan lepas.

Selesai The Conquistador, Yoona dengan semangat menarik Kyuhyun ke sebuah permainan yang lebih tak bisa diterima akal sehat Kyuhyun. Keadaan berbalik saat ini, bukan Kyuhyun lagi yang menarik-nariknya. Segala rasa asingnya dengan Kyuhyun hilang begitu saja. Ia tidak peduli dengan fakta bahwa ia belum mengenal Kyuhyun.

Giant Loop, permainan dimana kita akan naik kesebuah kereta yang berkapasitas 20 orang, Kereta itu akan diputar 360 derajat, dan pada pertengahan permainan kita akan digantung diatas selama beberapa detik.

“Kau yakin?” tanya Kyuhyun. Sebenarnya pertanyaan ini ditujukan pada dirinya sendiri. Ia sangat tidak yakin dapat tetap hidup setelah menaiki wahana itu.

Yoona mengagguk dengan bahagia. Sedangkan Kyuhyun nampak mengutuki dirinya sendiri, ‘Mengapa aku membawa Yoona ke tempat yang dapat membunuh diri ku sendiri? Babo!’ ucapnya dalam hati.

“Kyuhyun ssi, palli!!” Yoona menarik narik tangan Kyuhyun.

“Aish, ne.”

Start, Giant Loop mulai berputar, semakin lama semakin membentuk lingkaran, perut Kyuhyun semakin melayang bagaikan di neraka. Wajahnya yang tadi pucat sekarang semakin pucat saja, membuatnya terlihat seperti pasien penderita kanker stadium 4.

“Yoona ya!!!!” teriak Kyuhyun saat benda tersebut berhenti di bagian puncak diposisi terbalik.

“Kyuhyun ssi, waeyo?” tanya Yoona saat turun dari Giant Loop.

“Yoona, aku sudah tak kuat. Kita berhenti main ya.” keluh Kyuhyun sambil memegangi bagian kiri dadanya, merasakan debaran jantungnya yang semakin membahana layaknya kembang api setiap malam di Disneyland.

Bibir Yoona langsung dikerucutkan kedepan. “Shireo! Aku masih mau main yang lain! Ayolah Kyuhyun ssi, temani aku. Kau yang membawaku kesini, kau yang harus bertanggung jawab!” ucap Yoona memberi alasan yang tepat agar mereka berdua tak berhenti bermain. Ia masih belum rela menghentikan segala kesenangan yang menghampiri dirinya ini.

“Kau mau menyiksaku calon istriku yang cantik?”

Wajah Yoona merona merah saat mendengar pertanyaan Kyuhyun yang memujinya. Mungkin Kyuhyun adalah pria pertama selain ayahnya yang memujinya cantik.

“Aku akan menangis jika kau tak menemaniku bermain.” ucap Yoona denga nada mengancam dan kemudian saat kalimat selesai diucapkan ia langsung berpura-pura menangis dihadapan banyak orang. Sisi kekanak-kanakannya yang biasanya disimpan di dalam hati mulai muncul. Ia tidak bisa melakukan hal ini di depan kedua orang tuanya sendiri. Tetapi ia dapat dengan nyaman melakukannya di hadapan seorang pria yang belum ia kenal baik, entah mengapa.

Mata Kyuhyun langsung terbuka lebar, ia kesampingkan semua rasa takut dan tak sanggupnya. Tangannya langsung menarik Yoona pada sebuah mainan yang menarik perhatiannya, Drunken Basket (Drunken Basket: poci poci). Wahana ini terlihat lebih baik dari pada yang sebelumnya ia naiki. Setidaknya ia yakin wahana ini tidak akan membahayakan nyawanya.

“Ayo!” Kyuhyun membantu Yoona masuk kedalam sebuah tempat duduk melingkar berbentuk seperti cangkir tanpa pegangan.

Putaran dimulai. Kyuhyun merasa berada disurga, bukan karena perutnya lagi. Tetapi karena ia berhasil membuat Yoona bahagia dan tersenyum sepanjang hari ini. Pada awal pertemuannya ia masih ingat betul wajah Yoona sangat tidak ada gairah dan semangatnya. Seakan dijodohkan dengannya adalah hal terburuk yang ia lalui.

“Aku berhasil.” ucap Kyuhyun.

“Berhasil apa?” tanya Yoona yang menyadari gumaman Kyuhyun yang cukup jelas ia dengar. Kyuhyun langsung kelabakan, tetapi ia berhasil menguasai dirinya kembali.

“Membuatmu tersenyum.” jawab Kyuhyun dilanjutkan dengan tawa ringan.

Gomawo..,” ucap Yoona.

Drunkern Basket berhenti berputar, Kyuhyun dan Yoona segera turun mencari tempat yang menurut mereka tepat untuk mengisi perut mereka. Dan entah mengapa Yoona menunjuk sebuah tempat makan cepat saji dibanding restoran korea yang berada disebelahnya. Demi kebahagian sang calon istri Kyuhyun mengiyakan semua yang Yoona inginkan.

“Kyuhyun ssi.”

“Panggil Kyuhyun saja.”

“Kyuhyun ah, gomawo, hari ini aku senang sekali.” ucap Yoona dengan senyuman lebar di wajahnya.

DEG, jantung Kyuhyun seakan berhenti mendadak. Karena ia takut wajahnya yang mulai memerah akibat senyuman Yoona terlihat, ia langsung memalingkan wajahnya. Menyembunyikan wajahnya.

“Sudah ku bilangkan, aku bisa sendiri! Tak usah membantuku!” teriak seorang yeoja dari balik tempat Kyuhyun dan Yoona duduk, kebetulan tempat mereka duduk berada dibagian luar restoran tersebut.

Kyuhyun dan Yoona langsung menatap kedua orang tersebut. Yang menarik adalah, Kyuhyun sangat mengenali gadis yang berada diluar dan sedang berteriak tersebut.

“Seohyun!” teriak Kyuhyun.

Seohyun, si gadis yang berteriak tadi langsung menengokan kepalanya ke arah Kyuhyun. Dan berusaha meninggalkan seorang namja yang dari tadi mengikutinya dan menawari jasanya untuk membawakan belanjaannya.

“Kyu, tolong aku!” adu Seohyun.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun sedikit khawatir.

“Ada namja yang mengikutiku terus.”

“Sudah, ayo duduk. Tapi dengar, jangan kau berani membuka aibku di depannya! Mati kau bila kau membuka mulutmu.” bisik Kyuhyun tepat di telinga kanan Seohyun sambil menatap Yoona.

Demi keselamatan dan keamanan Seohyun pun mengangguk dan mengikuti langkah Kyuhyun ke tempat duduk yang masih ada Yoona disana. Dan Seohyun merasa seperti nyamuk sekarang.

“Yoona ya, ini Seohyun, dia teman baik ku. Anak manja dari Amerika.” ucap Kyuhyun, ia mengecilkan volume suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir sehingga kelihatannya Yoona maupun Seohyun sama-sama tidak mendengar ucapannya.

Annyeong Yoona imnida.”

“Aku sudah tau, kau calon istrinya Kyuhyun kan? Ternyata kau cantik sekali, kukira hanya yeoja jelek yang mau menjadi istrinya…,” ejek Seohyun, matanya mengarah ke Kyuhyun seakan perkataannya itu ditujukan padanya.

Kyuhyun langsung membanting gelas minuman yang ia minum ke atas meja. “Yak. Jangan mengejek ku begitu.” balas Kyuhyun tak terima.

“Yoona ya, anggap saja dia angin lalu.” ucap Seohyun yang langsung memulai brolan dengan Yoona.

Entah mengapa, Yoona dan Seohyun langsung mendapatkan bahan obrolan yang membuat mereka nyaman satu sama lain. Dan membuat Kyuhyun menjadi nyamuk menggantikan posisi Seohyun sebelumnya. Seohyun benar-benar mendiamkan apa yang Kyuhyun lakukan sedang Yoona masih mempedulikannya.

“Hey, Seohyun ah, sebaiknya kau pulang, sudah larut!” ucap Kyuhyun kesal.

“Kau mengusirku?”

“Tentu saja, kau pikir aku peduli kau pulang jam berapa. Kau hanya menggangguku dengan calon istriku. Syoo, syoo.” balas Kyuhyun sambil mengibas-ngibaskan tangannyaa.

“Cih. Baik lah, maaf sudah mengganggu Cho Kyuhyun ssi. Ah iya, Cho Kyuhyun, kuberikan kau restu menikah dengannya.” Seohyun mengerucutkan bibirnya dengan wajah kesal kepada Kyuhyun dan langsung membawa semua belanjaannya dan entah kemana ia menghilang ditelan kerumunan manusia di Lotte World.

“Kau kejam sekali kepadanya..,” ucap Yoona sambil menatap Seohyun yang berjalan menjauh. Ia masih belum mengerti hubungan mereka berdua. Ia berpikir Kyuhyun membenci Seohyun sehingga ia memperlakukannya seperti tadi. Padahal hal itu sangatlah lumrah untuk mereka berdua lakukan. Bahkan malah menunjukkan kedekatan mereka.

“Tenang saja. Kami memang biasa seperti itu, tanya saja Ahra noona.”

Sudah mulai larut malam, mereka langsung memutuskan untuk kembali ke Lens. Mengembalikan sanderaan tercantik Kyuhyun ke tempat asalnya, kerajaan yang didirikan oleh ayahnya sendiri. Mobil Kyuhyun berhenti di sebuah gedung bertuliskan Lens pada puncaknya. Yoona nampak mengambil nafas yang amat panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dan Kyuhyun menyadari kelakuan Yoona. Ia nampak tak bersemangat lagi, nampak lesu dan suram.

“Hey, tunggu sampai kita menikah, aku akan benar-benar membuatmu bebas dari ‘penjara’ buatan appa mu. Aku akan membuatmu bahagia.” ucap Kyuhyun dengan suara yang lembut. Yoona tertegun mendengar ucapan Kyuhyun. Ia tidak menyangka pria ini akan bersungguh-sungguh. Harapannya akan kebebasan benar-benar bisa dicapainya.

Dadanya terasa bergetar mendengar ucapannya pria itu. Suatu perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang menggelitik perutnya, membawanya menuju awang-awang.

“Hmm, gomawo Kyuhyun ah…,” ucap Yoona sambil keluar dari mobil Kyuhyun.

Saat ia sampai didepan pintu masuk, Kyuhyun langsung berlari kedekatnya, menggenggam tangannya. “Aku bertanggung jawab atas menghilangnya kau hari ini, Im Yoona.” ucap Kyuhyun.

Dan mereka pun masuk kedalam Lens. Tak disangka Shinyoon beserta istri dengan cemas berdiri didepan receptionist sambil memarahi beberapa bodyguard yang semula mengikuti mobil Kyuhyun. Mereka terkejut saat melihat Kyuhyun datang sambil menggandeng putri mereka tercinta.

“Yoona ya! Kau darimana saja?” tanya Shinyoon.

“Maaf, tadi putri anda pergi dengan saya.” Ucap Kyuhyun

Dan langsung Shinyoon bahagia mendengar ucapan Kyuhyun, ia sama sekali tak menyangka Kyuhyun dan Yoona dapat dekat dalam waktu yang amat singkat. Awalnya Kyuhyun sudah memprediksikan, bahwa mungkin ia akan dipukul, ditampar, dicaci maki atau bahkan digantung hidup-hidup di depan calon istrinya. Tetapi ternyata ia malah membuat calon mertuanya terbang ke surga saking terlalu bahagianya.

“Aku tak menyangka kalian bisa sedekat ini. Lain kali kalau kau ingin mengajak Yoona pergi, kabari aku dulu agar tak terjadi hal seperti ini.” ucap Shinyoon dengan penuh wibawa.

“Ah, kalau begitu ijinkan aku untuk mengajak Yoona berlibur ke Spanyol.” ucap Kyuhyun dengan bahagia.

Shinyoon nampak berpikir. “Kenapa tidak kalian simpan Spanyol untuk honeymoon kalian?” usul Shinyoon.

“Benar juga, kalau begitu besok aku minta ijin Yoona untuk menginap di rumahku? Ahra noona sangat mengidamkan seorang adik perempuan, mungkin Yoona orang yang pas. Sambil menyelam minum air, mereka bisa lebih dekat sebagai saudara bukan?” pinta Kyuhyun lagi. Saat ini ia terlihat seperti seorang anak kecil yang terus meminta sesuatu.

Tiga kata yang ada di otak Yoona sekarang ‘Tidak Mungkin Bodoh’. Entah mengapa ia sangat pesimis bahwa appanya akan memberikan ijin semudah itu. Dan Shinyoon juga sedikit ragu dengan ucapan Kyuhyun. Tapi sesuatu diwajah Kyuhyun membuatnya tak bisa menolak permintaan Kyuhyun. Sesuatu yang bisa diartikan sebagai ambisi?

Shinyoon menganggukkan kepalanya. Kyuhyun langsung tersenyum lebar. Mata Yoona membelalak mengiringi ijin ayahnya.

Jinjja?” tanya Yoona memastikan

“Asal dengan Kyuhyun boleh, toh suatu saat kalian juga akan hidup di satu atap.” balas Shin Yoon.

“Kalau begitu saya pamit dulu. Thanks for today, Yoona ya.” Kyuhyun mulai melangkah pergi kembali ke mobilnya.

Tap Tap Tap

Terdengar langkah kaki yang melangkah dengan cepat. Merasa ada yang mengejar dari arah belakang, Kyuhyun menengokkan kepala beserta setengah tubuhnya ke belakang. Saat melihat sosok itu, Kyuhyun mengusap usap matanya tak percaya.

Yoona lari dari tempat ia berdiri, mengejar Kyuhyun. “Cho Kyuhyun.” Panggil Yoona saat Kyuhyun sudah menghadapnya.

Tangan Yoonapun menarik tangan Kyuhyun ke arah bawah dan membuat Kyuhyun agak bungkuk. Wajah Kyuhyun sekarang berada pas di hadapan wajah Yoona. Dengan penuh keberanian Yoona mengecup pipi Kyuhyun menggunakan bibirnya.

Reaksi Kyuhyun tentu saja tak percaya. Ia dicium calon istrinya sendiri yang awalnya tak punya rasa ingin menikah dengannya. Rasanya seperti mendapatkan sebuah suntikan cairan bahagia tanpa usai. Otot-otot wajahnya terus tertarik, membuat senyumnya terus mengembang, sedang tangannya mencubiti bagian pipinya yang tidak dicium oleh Yoona, rasanya sakit menandakan ia tidak sedang bermimpi.

Gomawo untuk hari ini….., dan untuk semuanya.” bisik Yoona pelan.

Kyuhyun mencoba untuk sadar dari khayalan alam cintanya. Ia menatap Yoona lekat-lekat. “Aku akan melakukan apa pun agar kau menikah dengan ku, lalu kita hidup bahagia dan bebas. Aku tak mau kau kabur dihari pertunangan atau pernikahan kita dengan Lee Donghae bodoh itu.” ucap Kyuhyun tegas.

“Kabur? Aku tak berniat kabur Cho Kyuhyun. Tenang saja.” balas Yoona santai. Hatinya terasa lebih ringan saat ini.

“Kau serius? Baik lah kalau begitu kita tunangan besok saja! Lalu minggu depannya kita menikah!” ucap Kyuhyun, entah otaknya sedang meninggalkan dirinya atau sedang mengalami gangguan sementara.

Plak

Pukulan pelan dan empuk langsung mendarat di kepala Kyuhyun. “Aku belum sepenuhnya jatuh hati padamu. Ambil dulu hatiku.”

Kyuhyun tersenyum simpul mendengar ucapannya Yoona yang terdengar seperti sebuah perintah. Tak perlu meminta ia sudah merencanakan segalanya. “Tenang saja. Kau tak perlu memintaku.”

“Kalau begitu sebagai gantinya, aku meminta kau melakukan hal yang sama dengan pipi yang belum kau cium ini.” ucap Kyuhyun dengan nada manja.

“Kau ini. Kenapa jadi seperti ini? Sudah diberi hati minta jantung.” ucap Yoona. Ia ingin menarik pikirannya mengenai sifat Kyuhyun yang sempat muncul di otaknya tadi.

“Kalau begitu aku saja yang melakukannya pada dirimu.”

Kyuhyun menahan kedua lengan Yoona agar tak kabur saat bibirnya mendarat di salah satu pipinya. Yoona tak bisa kabur, kalau pun kabur ia tau Kyuhyun lebih kuat darinya dan ia tentu bisa menangkapnya.

“Yoona ya, jebal jangan kabur saat pertunangan atau saat pernikahan kita.” bisik Kyuhyun.

“Hmm.”

***

“Semuanya ayo kita diburu oleh waktu, mungkin 10 menit lagi para model akan segera datang.” teriak Eunhyuk yang berada di dalam Pearl Hall.

Setelah cairan infus itu habis, Eunhyuk diperbolehkan pulang. Dan para pekerja yang belum mengetaui keadaan Eunhyuk, masih bingung kenapa orang yang baru saja menjadikan dirinya landasan terjun bebas lampu sorot tersebut hingga nyawa menjadi taruhan, masih bisa berdiri disini. Bahkan masih bisa berteriak-teriak dengan suara kencang.

Rombongan model datang, berjalan pada satu garis seakan mereka berada di atas runway. Membuat parade yang mengundang decak kagum. Sebagian besar berjenis kelamin perempuan dan membuat para pekerja menatap mereka tak henti-hentinya, terpesona pada model-model tersebut. Mereka berhenti melakukan pekerjaan mereka selama beberapa detik, untuk mengagumi model-model yang menurut mereka sangat sempurna untuk obat cuci mata gratis.

“Kalian ke ruang belakang saja, aku ada perlu sebentar.” ucap gadis yang berjalan tepat di paling belakang. Ia bukan model, tubuhnya juga mungil, tetapi wajahnya cocok dijadikan objek pencucian mata.

“Jess, kau mau kemana?” tanya seorang laki-laki yang tergabung dalam rombongan model tersebut. “Aku tak akan kebelakang tanpa dirimu.” lanjutnya sambil megikuti gadis yang ia panggil Jessica itu berjalan ke arah pekerja.

Jessica berhenti dan berbalik, tangannya yang memegang sebuah tas keluaran Prada berwarna merah terayun. Dan…., tas itu terlempar sedikit jauh hingga mengenai kepala salah seorang laki-laki yang berdiri di depannya.

“Ouch.”

Laki-laki itu mengengok ke belakang dan menatap wajah marah Jessica. “Waeyo? Aku salah apa?” tanyanya tak terima dengan perlakuan kasar Jessica.

“Kenapa kau sudah masuk, huh? Kau itu baru keluar dari rumah sakit! Kalau kau kenapa kenapa lagi bagaimana?” omel Jessica tidak mempedulikan apa yang baru saja ia lakukan.

Mian.” balas Eunhyuk, pria korban dari keganasan Jessica.

Pria yang berdiri di samping Jessica, menatap Eunhyuk dengan tatapan jijik. Ia bukan tidak suka pada wajah Eunhyuk tapi dengan apa yang ia pakai. Baju hitam bergambar perempuan setengah telanjang, yang walaupun merknya Givenchy, celana pendek garis-garis membuat bulu di kakinya beterbaran dimana-mana dan alas kaki sepasang sandal jepit warna hijau neon menghancurkan keseluruhan penampilannya.

“Kau itu, bisa tidak menyatu padukan pakaian dengan benar?” tanya pria itu penuh dengan nada mengitimidasi.

Eunhyuk langsung menatap pakaian yang ia pakai, nyaris seperti orang siap terbang ke dunia mimpi alias tidur. “Ah! Aku lupa mandi pagi ini. Aku buru-buru kesini karena, para pekerja melapor ruangan belum 100% selesai.” Jelas Eunhyuk sambil tersenyum malu, mengakui sesuatu hal yang memalukan.

Sungmin, sebutan untuk pria yang mengikuti Jessica itu. Ia langsung membalikan badan meninggalkan Eunhyuk dan Jessica menuju backstage.

“Dia siapa?” Tanya Eunhyuk

“Dia model kesayanganku.” Balas Jessica.

Mwo? Model, gunakan matamu, gayaku yang seperti ini saja lebih baik dan normal dibandingkan dia. Celana jeans biru ketat press body, baju shocking pink dan sepatu warna biru cyan gitu. Hih..,” Protes Eunhyuk sambil menunjukan wajah jijik membayangkan gaya berpakaian Sungmin. Tubuhnya bergidik ngeri.

“Kau cemburu atau iri? Dari pada kau mengomentari dia, lebih baik kau pesan kamar atau sekalian menumpang mandi saja di toilet, lalu kupinjamkan baju dari salah seorang model namjaku!” Jessica langsung mendorong Eunhyuk keluar dari Pearl Hall.

Sebagai pengagum frontal yang menurut pada orang yang dikagumi, Eunhyuk menuruti Jessica. Ia langsung memesan 1 kamar di Lens untuk membersihkan diri. Sedangkan Jessica masuk ke dalam ruangan yang berada di belakang panggung, mencari-cari baju yang kira-kira cocok dengan Eunhyuk.

“Kau dekat dengannya?” Sebuah suara mengacaukan fokus Jessica pada baju-baju yang dipinjamkan oleh para model prianya.

“Tidak, aku sering bertengkar dengannya. Waeyo, Ming ah?” jawab Jessica saat ia mengetahui yang bertanya padanya adalah Sungmin, seorang model kesayangannya.

Aniyo, aku tak suka kau dekat dekat dengannya. Ia…menjijikan. Tampangnya mesum lagi.” balas Sungmin. Jessica ingin tertawa mendengar komentar terakhir yang diluncurkan Sungmin.

“Kau cemburu?”

Ani, hanya ingin melindungi teman terbaik ku saja.” balas Sungmin.

Dan akhirnya Jessica menemukan sebuah baju yang sangat simple dan ia pikir cocok untuk Eunhyuk. Ia segera meninggalkan Sungmin tanpa berkata apa-apa ataupun pamit, ia bergegas menuju kamar yang Eunhyuk pesan. Tentu saja sebelumnya ia menanyakan nomor kamar yang Eunhyuk gunakan pada receptionist yang berjaga pada saat ini.

“Cih, sebegitu pentingkah dia?” umpat Sungmin yang ditinggal sendiri oleh Jessica.

Kamar 5012, Jessica tepat berdiri di depan pintu kamar itu. Ia menekan bel yang ada, terus tanpa henti sampai Eunhyuk merasa terganggu saat menikmati derasnya air shower di kamar mandi hotel. Disela-sela waktu mandinya, Eunhyuk memutuskan untuk memakai handuk untuk membuka pintu karena ia geram dengan bunyi bel yang tak kunjung henti.

Ia berjalan hanya dengan mengenakan sehelai handuk putih yang disediakan di hotel. Tubuhnya masih basah dan pada bagian rambut masih ada busa shampoo yang ia gunakan. Pertama sebelum ia membuka pintu kamarnya ia melihat siapa yang terus menerus menekan bel kamarnya tanpa henti. Saat ia yakin ia mengenali orang itu, tangannya membuka pintu itu.

“Lama seka…. YAK! Jangan kotori mataku!” teriak Jessica saat menyadari bahwa tubuh Eunhyuk hanya dilapisi oleh handuk.

“Aish..,” Eunhyuk tak memperdulikan Jessica, ia langsung kembali ke kamar mandi dan melanjutkan aktivitasnya, membersihkan diri setelah beberapa jam tidak bertemu dengan salah satu elemen di dunia, air.

Eunhyuk bergegas membersihkan busa shampoo yang masih menempel pada kepalanya. Lalu menyikat giginya dan juga mencukur beberapa bulu-bulu kasar dibagian sekitar mulutnya. Saat sudah selesai dengan handuk yang tadi ia gunakan, ia keluar untuk meminta pakaian yang Jessica janjikan.

“Jess, mana baju pinjaman mu?” tanya Eunhyuk sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan tangannya masih sibuk mengaitkan ujung anduk ke yang lain agar handuk itu tak jatuh dan membuat tubuhnya terekspose seluruhnya.

“Ini! Ya… kenapa mengotori mataku lagi?” tanya Jessica dengan nada suara yang sangat tak besahabat untuk telinga manusia pada umumnya.

“Berbalik lah, aku ingin memakai celana.” Jessica langsung membalikkan badan. Wajahnya memerah, walau ia sering melihat model-modelnya yang berbadan indah nan sexy dalam keadaan seperti ini, tapi ini pertama kalinya ia merasa malu dan panas melihat laki-laki tanpa busana.

Celana berhasil dipakai, tanpa ada satu orangpun melihat. Eunhyuk langsung mendekati Jessica untuk mengambil baju yang ia pinjam dari salah seorang modelnya, sebut saja Baekhyun.

“Mana bajunya?” tanya Eunhyuk tepat dibelakang Jessica.

“Ini.. Huaa.”

Terkejut. Kaki kiri Jessica tersengkat kaki kanannya. Eunhyuk dengan sigap menangkap tubuh Jessica. Entah disengaja atau tidak kaki Eunhyuk yang basah terasa licin pada lantai kayu pada kamar tersebut dan membuat dirinya juga ikut jatuh bersama Jessica. Beruntung mereka jatuh di atas kasur.

Jessica tepat berada dibawah Eunhyuk. Tangan Eunhyuk berhasil menahan tubuhnya agar tak menindih Jessica, begitu pula tangan Jessica menahan tubuh Eunhyuk tepat dibagian dada. Keduanya terdiam, membisu seribu bahasa tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Mata mereka saling memandan satu sama lain. Hembusan nafas mereka menyatu dan saling bertukar udara untuk bernafas. Jarak mereka sangat dekat membuat mereka dapat menikmati setiap liku wajah lawannya dengan detail.

“Kau hampir melukai dirimu sendiri, tuan putri.” ucap Eunhyuk yang akhirnya membuka pembicaraan. “Dan kau sangat menggoda sekarang.” lanjut Eunhyuk.

Sadar dengan apa yang Eunhyuk katakan, Jessica menyingkirkan tangannya dari dada bidang milik Eunhyuk. Ia berusaha meluruskan pikirannya, berusaha untuk berpikir normal dan tak melenceng jalur. Sayang, semua terlambat jemari manis Eunhyuk sudha menyusuri setiap sudut wajah Jessica dan wajahnya sudah semakin mendekat.

Nafas mereka saling beradu. Dan entah sejak kapan, bibir mereka bersentuhan satu sama lain. berusaha mendahului dan berlomba menjadi pemenang. Mereka hanyut dalam suasana, tak memperdulikan waktu, keadaan dan tempat mereka berada. Ego dan kepuasaan mereka adalah nomer satu saat ini.

Tangan Eunhyuk mulai menyusuri leher Jessica, begitupula bibirnya yang tak puas dengan bibir ia menuju leher Jessica. Jessica yang merasa sudah melebihi batas mendorong tubuh Eunhyuk sekuat tenaga menjahui tubuhnya.

“Cukup, ini sudah melewati batas.” protes Jessica.

“Mian.”

“Cepat pakai ini.” ucap Jessica ketus. Berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdegup kencang.

“Ne,”

Eunhyuk bergegas memakai kaos yang diberikan Jessica. Lucky, kaos itu pas pada tubuhnya. Jessica merapikan tataan rambutnya yang berantakan akibat kecelakaan bersama Eunhyuk tadi. Pinggangnya terasa ditarik oleh seseorang dari belakang. Karena hanya ada dirinya dengan Eunhyuk di dalam kamar itu, ia tak perlu berpikir keras memikirkan siapa orang itu, karena sudah pasti itu tak lain dan tak bukan adalah Eunhyuk.

Tangan Eunhyuk menggapai pinggang Jessica. Ia menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan satu sama lain. Ia langsung menempatkan bibirnya di pundak kanan Jessica. Menghembuskan nafasnya dengan tenang disana. Menikmati ketenangan sesaat yang membuatnya melayang ke langit ke tujuh.

“Tunggu waktunya, kau benar-benar akan jatuh hati padaku tuan putri. Lihat di kaca, kita sangat cocok bukan?” bisik Eunhyuk pelan di telinga Jessica, membuat leher Jessica meremang karena hembusan nafas Eunhyuk.

Entah mengapa ucapan Eunhyuk membuat Jessica segera menyentakkan lengan Eunhyuk. Jessica langsung mengambil barang-barangnya lalu melangkah dengan cepat keluar dari kamar tersebut.

“Hey, kau mau kemana?” tanya Eunhyuk. Jessica mengacuhkan ucapan Eunhyuk.

DAK

Pintu itu langsung tertutup dengan keras, seperti banting. Eunhyuk hanya berdiri berdiam seorang diri di kamar itu tanpa bicara ataupun melakukan sesuatu. Saat menyadari dirinya terdiam, ia berusaha mencari aktivitas lain sebelum ia turun ke bawah. Ia menatap pemandangan di luar jendela kamar hotel tersebut.

“Jung Jessica.” ucapnya saat menatap pemandangan kota Seoul.

***

Seoul itu besar. Dengan jalan raya yang lebar, gedung-gedung pencakar langit, dan gang-gang kecil yang membelah seluruh kota. Kemungkinan bertemu dengan orang yang kita kenal secara kebetulan, cukup kecil. Tapi jika bertemu artinya takdir. Di keramaian Seoul, seorang perempuan mencari-cari sebuah tempat makan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Ia berusaha menemukan tempat yang menarik dan nyaman untuk bersantai. Merasakan nikmatnya cuti yang diberikan cuma- cuma oleh sang atasan.

Aigo, semuanya standard.” ucap Taeyeon yang merasa kecewa, pencariannya sedikit kurang berhasil hari ini. Melayang sudah cuti atau tepatnya libur cuma cumanya.

Ia tak putus asa. Kakinya terus menyusuri setiap seluk beluk jalanan yang dipenuhi cafe -cafe yang cukup terkenal dan punya nama di Korea. Tak tau harus kemana, setiap tikungan yang menurutnya menarik ia lalui. Ia mengikuti nalurinya. Dan pada akhirnya ia berhenti di depan sebuah cafe yang menurutnya sangat menarik perhatian matanya. Tempatnya berada di daerah yang lebih tinggi dibandingkan cafe-cafe yang lain. Berada di ujung jalan dan dikelilingi taman yang ditumbuhi beberapa bunga walau tak banyak, tetap menarik mata siapa saja yang melihat.

“Kenapa sepi sekali, ah mungkin tempatnya terpencil.” ucap Taeyeon pada dirinya sendiri.

Ia pun berjalan masuk ke dalam. Di dalam, unsur kayu dan putih sangat kental. Dindingya bercat putih bersih dengan lantai berupa kayu berwarna coklat muda. Kursinya bewarna putih susu dan meja bewarna coklat sedikit lebih tua dibandingkan lantainya. Sedang jika ingin lebih bersantai lagi ada sebuah sofa berbentuk oval dengan warna pastel, yellow and green. Musik yang dipasang cukup easy listening dan sangat mendukung suasana di dalam cafe tersebut yang tenang dan penuh kedamaian. Inilah suasana yang Taeyeon cari, menenangkan dan nyaman untuk menghabiskan waktu seharian sampai cafe tutup agar penat dikepala akan pekerjaan kantor hilang.

Oppa!!! Akhirnya kau datang!” teriak seorang gadis remaja muda yang dari sebelum Taeyeon duduk bahkan masuk, sudah duduk di salah satu sofa.

“Sulli ah, waeyo?” tanya pria yang baru saja datang dan terlihat jauh lebih tua di bandingkan sang gadis.

Mulut Taeyeon terbuka dan seakan tak bisa ditutup. Bagaimana tidak? Laki-laki itu adalah manusia yang memberinya cuti cuma-cuma hari ini. Lee Donghae, ia berada di lokasi yang sama dengannya. Ia duduk bersama gadis bernama Sulli yang menurut Taeyeon lebih cantik 10 kali lipat dibandingkan dirinya. Dan lebih tinggi.

“Siapa perempuan itu?” tanya Taeyeon pada dirinya sendiri. Ini pertama kalinya ia melihat wanita itu. “Ah, abaikan dia saja,” ucap Taeyeon ia seakan memerintahkan dirinya tidak memperdulikan Donghae dan kembali pada tujuan awalnya ke cafe ini, menenangkan diri. Ia berusaha sekeras mungkin agar kedua orang itu tidak menyadari keberadaannya.

Oppa, aku mau putus.” teriak gadis itu membahana di setiap sisi cafe tersebut.

Waeyo?” tanya Donghae.

“Aku sudah tidak kuat dengan hubungan ini.” balas Sulli.

Walau suasana nyaman tapi jika ada sepasang pria dan perempuan bertengkar di dalamnya, cafe menjadi tak nyaman lagi. Taeyeon ingin sekali keluar dari cafe ini tapi ia sudah terlanjur memesan makanan kecil dan segelas ice chocolate blend dan lagi pula setelah dipikir panjang, mencari sebuah cafe senyaman ini di Korea bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

“Kau harus kuat.” balas Donghae.

“Susah.”

“Ini sudah tahun ketiga Sulli ah,” balas Donghae sambil mendekatkan diri ke Sulli.

Donghae memeluk Sulli. Meminjamkan dada kirinya bagi Sulli untuk tempat jatuhnya air mata Sulli. Tangannya mengelus-elus rambut panjang Sulli. Sulli dengan nyamannya mengeluarkan air mata di dada Donghae yang dilapisi kemeja biru muda, membuat warnanya memekat.

Pemandangan yang sangat mengganggu, bagi Taeyeon. Ia mulai mencari aktivitas lain, dibukanya tas bawaannya untuk mengambil sebuah novel yang ia beli di sebuah toko buku beberapa minggu lalu, ia tak sempat membacanya karena pekerjaan menumpuk bagaikan gunung yang menjulang tinggi memecah awan di langit tinggi.

Saat Donghae mengarahkan matanya ke arah lain, tak sengaja ia mendapatkan sebuah wajah yang sangat ia kenal. Wajah yang langsung bingung saat matanya melihat kearahnya, panik lebih tepatnya. Tubuh dari pemilik wajah itu melakukan hal-hal aneh, membaca novel dengan huruf terbalik salah satunya…

“Taeyeon ah..,” ucap Donghae.

Taeyeon langsung bergegas pergi saat melihat bibir Donghae bergerak mengucapkan namanya. Sedangkan Donghae langsung mendorong tubuh Sulli menjauh dan mengikuti Taeyeon berlari. Taeyeon berlari cukup kencang dan membuat Donghae kewalahan mengejar Taeyeon ditambah lagi, ini jam makan siang dan banyak manusia kantor keluar untuk mengisi perut. Kaki Taeyeon membawanya ke sebuah taman kecil yang berada di dekat pusat keramaian. Taman itu dilengkapi sebuah bangku, bunga dan tentunya pohon yang teduh agar sang pengunjung taman tak kepanasan saat matahari tepat berada di puncak langit.

“Aishh, kenapa ia berlari cepat sekali.” ucap Taeyeon saat melihat Donghae sudah tepat berada dibelakangnya.

“Dan kenapa ia mengejarku??? Seperti aku ini pencuri saja.” protes Taeyeon sambil mempercepat larinya,.

Tanpa melihat jalan, Taeyeon terus melaju kencang dengan mata tetap awas menatap Donghae yang tak kunjung menyerah mengejarnya. Sebuah batu sedikit besar di taman itu membuat pelarian Taeyeon berhenti dan ia terjatuh di rumput. Ia pun tertangkap oleh Donghae, tertangkap karena sebuah batu laknat yang berada di pada tempatnya.

“Kim Taeyeon.”

Taeyeon berdiri, dengan rasa sakit yang menjalari tubuhnya, cukup menyiksanya saat berdiri. Donghae yang sudah berada di jarak kurang dari 1 meter menyadari bahwa Taeyeon tak sanggup berdiri. Ia langsung berlutut membelakangi Taeyeon dengan tangan siap menahan beban yang akan diangkat.

“Naik lah, kau tak sanggup berdirikan?” tanya Donghae.

“Eh, tapi..”

“Naik sekarang atau pekerjaanmu hilang?” ancam Donghae singkat. Walaupun maksudnya baik jiwa Hades yang bersemayam di dalam tubuhnya tetap tidak menghilang.

Terpaksa demi kebaikan dan kelancaran siklus ekonominya, Taeyeon menerima tawaran angkutan gendong gratis dari sang atasan. Pandangannya yang awalnya begitu buruk pada Donghae perlahan-lahan berubah. Dingin sekarang berubah menjadi hangat. Menyeramkan sekarang berubah menjadi manis dan lembut, seperti kembang gula.

“Mianhae..,” ucap Donghae.

“Untuk apa?”

“Aku….,”

TBC

13 thoughts on “Lens [ Part 4 ]

  1. haretami says:

    annyeong… aku reader bru dn bru prtma kli komen d wp ini.. aku suka bgt ff Lens ini.. biasanya aku komen d smff… tpi skrg komen d sni deh…

    hwa… tmbah seru ceritanya… aku penasaran sama Hyuksica…
    donghae n taeyeon… huhuu aku cemburu… ^_^
    kyunna asik tuh…
    lanjut thor…

  2. yoonkyu says:

    BOO!! ternyata bener yang bawa kabur yoong eonnie itu kyu oppa.
    Woahh, akhirnya KyuNa momentnya banyak juga.
    senyum-senyum sendiri pas ngebayangin yoong unnie cium pipi kyu oppa. adduh eon, pinter banget nyeritain-nya. Rapih… 😀

    ayo, ayo, part selanjutnya ditunggu 😀 Fighting eon!!

  3. kim yeri says:

    saya reader baru, mian bru comment
    ffnya keren chingu, ada hyuksica dan donghaetaeyon yah? Bru nemu ada mereka, couplenya tak biasa smua, kekeke

  4. lalalia says:

    Haloo 🙂
    Aku lagi browsing2 eh nemu fanfic ini, dan waw, aku suka sejauh ini. Cara cerita dengan bahasa Indonesianya oke banget, karena sering aku nemu fanfic pakai Bahasa, tapi terus kurang menarik either pengungkapannya itu ‘nggak banget’ atau justru puitisnya rada lebay. Tapi punya kamu oke banget! Pas, ibarat pake kecap, ngga kemanisan tapi ngga kurang juga.
    Storylinenya, mungkin karena personally aku suka sama yg kayak gini, dalam satu cerita focusnya ada beberapa tapi antar focus ada keterkaitan gitu, jadi berasa seru. Dan emang alurnya aku suka banget, di tiap couple hubungannya beda-beda dan naik turunnya juga menarik.
    Dan…. Couplingnya! Aku suka banget yg ngga umum. Ya kan seperti kita tau, masing2 tokoh ada couplenya masing2 biasanya, dan kamu ngga masang itu. (Eh tapi ngga tau nih kalau aim terakhir kamu bakal dibalikin ke pasangan masing2 atau tetap kaya gini tapi dibumbui kaya sekarang ini) Bukannya aku ngga suka sm couple yg sering dipakai itu, karena aku ya fine2 aja… Tapi ya karena sering, kadang bisa bosen juga.

    Ditunggu banget lanjutannyaaaa :”)
    Ps: maaf bawelita banget aku hahaa

    • JungRena says:

      hua commentnya panjang 😀
      Semoga part selanjutnya kamu tetep suka ama ff ini.
      Kalau ganti pasangan kayaknya bakal susah -_-” tapi ga tau juga kalau alurnya membawa mereka kembali ke pasangan yang sering dipakai itu,
      Ditunggu ya part 5nya ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s