Phoenix [ Chapter 1 ]

Saat dunia mulai kehabisan energi, cahaya perlahan mulai redup. Saat bumi berhenti berputar, langit akan terbelah menjadi 2. Belahan itu seperti sebuah pintu penghubung antara 2 dunia. Menurut orang awam, itu adalah hari kiamat. Tapi bagi beberapa orang yang percaya, itu adalah sebuah pertanda akan turunnya 12 orang ‘atas’. Tapi apa dengan datangnya 12 orang itu, dunia akan terselamatkan?

Distrik Meso (Pusat)

Dalam sebuah bangunan yang berdiri kokoh tepat di tengah kota, beberapa orang yang menamakan dirinya dengan petinggi distrik duduk disebuah meja yang membentuk lingkaran. Cahaya yang berasal dari beberapa mangkuk besar dari emas menerangi ruangan besar itu. Seorang pemuda berdiri di tengah lingkaran meja itu. Ia nampak sedang diadili oleh para petinggi distrik.

“Saatnya sudah tiba. Mereka sudah memilih anak itu. Kita disini hanya untuk membantunya saja, tak ada lagi yang bisa kita lakukan.” ucap seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut putih, dapat dipastikan umurnya sudah tidak muda lagi. Ia mengenakan jubah hitam dengan panjang menyentuh lantai. Para pria lain yang mengenakan jubah yang sama dengannya mengangguk setuju.

“Maaf, bukan maksudku ingin menyela, tapi apa yang kalian maksud? Kalian menjadikanku umpan?” tanya pemuda bernama Lee Hyukjae itu yang kerap dipanggil Eunhyuk. Ia sedikit mendongak menatap para petinggi yang posisinya lebih tinggi dari tempatnya berdiri.

Sentak, para petinggi itu langsung menatap Eunhyuk dengan tatapan yang sangat tidak enak. Bulu-bulu kuduk Eunhyuk langsung berdiri saat menyadari dirinya adalah pusat perhatian ke 15 orang yang berada tepat di hadapannya.

“Umpan mau pun bukan, kau tak bisa menolak. Ini kehendak Zeus. Dan sepertinya gulungan ini hanya berfungsi padamu. Kemari dan lihatlah, namamu tiba-tiba saja muncul di gulungan ini.” jelas sang ketua.

“Sudah jangan bergurau, Yang Mulia. Aku ini hanya penjaga menara. Jika Zeus memilihku, itu sedikit tak masuk akal!” bela Eunhyuk.

“Dengar Lee Hyukjae, jika kau menolak, maka kehidupan di tiga dunia akan berakhir dan sama saja kau akan kehilangan pekerjaanmu itu. Aku akan membayar dengan 100 batang emas jika kau mengambil tugas ini.” ucap sang ketua dengan lantang.

Mendengar 100 batang emas, telinga Eunhyuk seakan bergerak. Sisi lain dari dirinya yang sudah lama tidur, bangkit. Dengan suka cita dan rela ia menerima takdirnya. Ia bukan umpan, ia hanya alat menemukan pencegah kiamat dunia. Andai saja dia tahu dan mengerti.

Selama menjalankan tugas, Eunhyuk berada dibawah pengawasan pemerintah distrik Meso (pusat). Walaupun bukan warga distrik Meso, semua kebutuhannya selama pencarian akan ditanggung oleh pihak Meso. Tempat tinggal, apa yang ia makan dan apa yang ia kenakan.

“Setidaknya, aku tak perlu mengeluarkan uang dalam pekerjaan ini.” tukas Eunhyuk saat mengikuti seorang petinggi distrik yang bersedia meminjamkan 1 kamar untuk ia tempati.

Langkahnya berhenti saat menatap sebuah rumah yang agak tak masuk diakal. Rumah itu sangat besar, dan megah. Dindingnya terlihat sangat kokoh dan siap melindungi orang yang berada didalamnya. Saat kakinya melangkah masuk ke dalam, ia benar-benar merasa berada di sebuah istana. Lantainya sangat indah dan terbuat dari marmer. Rumah itu terlihat terang dengan sebuah lampu kristal yang menggantung kuat di bagian atas rumah.

Malam setelah ia diadili di pusat kota, ia berdiam diri di dalam sebuah kamar mewah di sebuah rumah salah seorang petinggi distrik. Ia duduk termenung menatap gulungan yang ia dapatkan dengan pandangan yang sama sekali tak bersahabat. Tak ada satupun petunjuk pada gulungan itu, dan ia merasa bodoh memperhatikan gulungan kiriman express dari sang dewa.

“Aku bodoh. Kenapa aku terima pekerjaan yang membuatku nampak seperti orang bodoh seperti ini.” desisnya.

Ia pun beranjak dari duduknya dan hendak berpindah. Tapi karena tangannya ceroboh, ia menyenggol sebuah botol air yang menjadi penyangkal rasa dahaga di tenggorokannya. Sialnya, tepat di gulungan dewa air itu menyebar dengan cepat dan membuat gulungan itu terlihat berubah warna.

Dengan tergesa-gesa ia mengambil kain yang ada di dekatnya. Dengan kedua tangannya ia langsung mengelap air yang belum menyerap ke gulungan tersebut perlahan, ia takuy gulingan itu robek dan hilang sudah 100 batang emasnya. Sebuah goresan- goresan berwarna hitam muncul tiba tiba. Mata Eunhyuk terkejut dengan munculnya goresan goresan seperti tinta tersebut. Langsung kain yang ia gunakan untuk mengelap, disingkirkan dan perlahan munculah sebuah tattoo huruf, ‘Thalassa’. Disamping tulisan tersebut muncul sebuah gambar gedung tua serupa sekolah.

“Peta yang menarik. Baiklah harus berkemas, lebih cepat lebih baik bukan? ” desis Eunhyuk.

Eunhyuk sama sekali tak menyangka sang petinggi negara meminjamkan seekor kuda padanya. Kuda itu berwarna coklat tua dengan kaki yang terlihat sangat kuat bagaikan beton. Ia tak menyesal mendapat pelatihan menunggangi seekor kuda di saat ia menjalani pelatihan menjadi petugas distrik tingkat 1.

“Jika kau butuh bantuan, berilah sinyal padaku lewat langit.” ujar sang petinggi distrik yang memberikan 1 kamarnya untuk Eunhyuk.

Ara.. Uranus masih sayang padaku dia akan melindungiku.” balas Eunhyuk dengan nada dan bahasa tubuh yang sangat santai dan lebih terkesan menyepelekan.

“Ah iya, aku lupa. Sebelum kau pergi, pergilah ke tempat ini. Kau pasti memerlukan mereka.” Sang petinggi distrik itu langsung memberikan sebuah kertas kecil bertuliskan sebuah tempat. “Mereka akan sangat membantu pencarianmu.”

“Aku akan kesana bila aku butuh bantuan, kalau aku bisa sendiri, aku akan melakukannya sendiri.” Begitulah perkataan terakhir Eunhyuk. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, kaki kuda yang ia tunggangi mulai berjalan. Dan perlahan ia hilang di antara orang banyak.

Distrik Thalassa (air)

Perjalanan menuju Thalassa(distrik air), tak cukup memakan banyak waktu. Selain karena kuda yang di tunggangi dapat berlari dengan cepat, jarak Thalassa dan Meso(distrik pusat) memang tak sejauh jarak distrik distrik lain. Perahu yang ia tumpangi untuk menuju Thalassa juga melaju dengan cepat. Dan nahkoda kapal langsung menyuruh Eunhyuk turun di daratan es yang disebut sebagai daerah Thalassa. Ia diturunkan secara paksa.

Saat ini, ia berada di hadapan sebuah benda yang sebut sebagai pintu gerbang. Tak seperti gerbang pada umumnya, gerbang itu terbuat dari bongkahan es yang sangat besar. Bongkahan yang tak mungkin ia runtuhkan sendiri. Matanya memandang sekitar, ia melihat ke segala arah sampai titik terjauh matanya dapat melihat. Dari hasil pencariannya, ia tak menemukan apapun. Sedang peta itu ia sama sekali tak memberi petunjuk cara membuka pintu gerbang es yang sangat besar itu.

“Permisi, warga Thalassa yang ada di dalam tolong bukankan gerbangmu untuk tamu utusan dewa!” teriak Eunhyuk. Ia nampak terlihat orang yang putus asa tak punya harapan. Terang saja, mana ada yang mendengar teriakannya di balik tembok es yang tebal dan tinggi itu

Ia memandang langit, berharap sesuatu di langit dapat ia jadikan sesuatu untuk merobohkan dinding gerbang es tersebut. Tapi sesuatu membuatnya terhenti, ia sama sekali tak bergerak.

“Carilah satu bintang di langit, utuslah dia untuk memberi pesan pada sang petinggi distrik disana. Beri tahu mereka, apa yang terjadi sebenarnya.” Sebuah bisikan dari Uranus langsung masuk secara brutal ke telinga Eunhyuk.

“Baiklah jika itu maumu, aku tak bisa menolak.” ucap Eunhyuk pada Uranus.

Eunhyuk mencari satu bintang di langit. Beruntung ia sampai pada malam hari, jadi ia tak perlu menunggu lama sampai ada bintang yang muncul di langit. Di saat sebuah binang yang menurutnya sangat terang terlihat, ia memanggilnya. Dengan sebuah bisikan yang tidak dapat didengar oleh siapapun.

Sebelum memanggil, ia mengambil sebuah cincin yang ia jadikan kalung selama ini. Kalung itu adalah kunci kekuatan yang dashyat dari sang Uranus. Kekuatan itu akan mengalir pada dirinya, bahkan dapat dikatakan ia menjadi jelmaan Uranus. Cincin itu hanya dapat dipakai pada turunan asli para dewa dan dewi.

“Bintang yang bersinar paling terang dilangit, turunlah.” ucap Eunhyuk, saat cincin itu sudah ia pakai.

Sebuah cahaya biru terang dilangit, tiba tiba bergerak. Perlahan cahaya itu turun, turun ke tempat Eunhyuk berdiri saat ini. Bintang itu tepat berada dihadapannya, menunggu perintah Eunhyuk.

“Pergilah ke tempat sang petinggi distrik Thalassa, katakan pada mereka bahwa aku datang berdasarkan utusan para petinggi distrik Meso. Kosmos dalam bahaya.” ucap Eunhyuk.

Bintang itu langsung melayang ke udara dan dengan cepat ia menghilang dari langit. Yang dapat Eunhyuk lakukan adalah menunggu sampai pintu gerbang tersebut terbuka. Sesudah itu, ia melepas cincin yang dapat mengubah dirinya menjadi lebih kuat dari biasanya. Semua orang ingin kuat, tapi jika dengan cincin itu kau akan bertambah kuat sampai kau tak bisa mengkontrolnya. Kau bisa terbunuh karena kebodohanmu sendiri.

Bintang yang menjadi utusan Eunhyuk, sampai di hadapan para petinggi distrik Thallasa yang masih berada di tempat kerja mereka. Bintang itu tepat berada di tengah tengah mereka. Meja mereka membentuk sebuah persegi panjang. Bintang itu langsung menyampaikan semua apa yang Eunhyuk ucapkan. Mereka nampak sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan bintang itu, apa lagi sudah hampir lebih dari 100 tahun tak pernah ada kabar dari sebuah bintang langit.

“Bawa ia kemari, aku ingin berbicara dengannya.”

Perlahan gerbang yang terbuat dari es itu terbuka. Es itu nampak mencair dan menjadi gerbang air yang mencair dengan bagian tengahnya terbuka, untuk jalan. Eunhyuk pun masuk dan mendapatkan beberapa prajurit Thalassa sudah menantinya. Terpaksa ia mengikuti para prajurit tersebut, menuju sebuat tempat tertinggi di Thallasa. Sebuah gedung yang terbuat dari es. Anehnya saat berjalan disana, tak licin sama sekali.

“Siapa yang mengutusmu?” tanya seorang yang merupakan pemimpin dari distrik Thalassa, Vassilias distrik ini. Ia muncul dari balik sebuah tirai kecil yang memisahkan ruang satu dengan yang lain.

“Zeus, dialah yang mengutusku. Sebenarnya aku tak tau ada apa, tapi sepertinya para petinggi Meso sangat khawatir. Dan nama distrik anda adalah tempat pertama yang harus kukunjungi.” jelas Eunhyuk pada sang pemimpin, sambil menunjukan gulungan peta tersebut.

Sang Vassilias diam sambil memandang Eunhyuk. “Kau mencari ke 12 keturunan murni dewa Olympus huh? Thalassa hanya memilki 1 dewa yaitu Poseidon, artinya pencarianmu di distrik ini akan sangat sulit. Kami saja belum tahu siapa yang merupakan keturunan murni Poseidon.” jelasnya. Dan Eunhyuk, ia hanya bisa mengutuki dirinya sendiri. Kenapa harus Thalassa yang menjadi tempat pertamanya.

“Ah, sebenarnya, aku sudah mendapatkan sebuah petunjuk dari peta dewa ini. Apa kau tau dimana tempat ini? Seperti sebuah sekolah atau sebuah rumah sakit.” ucap Eunhyuk.

Sang pemimpin mengambil gulungan tersebut, ia mulai menggunakan otak yang ia punya. Ia mencoba mengingat jenis-jenis bangunan yang ada di distriknya, dan itu cukup memakan waktu yang lama.

“Sebuah sekolah yang berada di pinggir dermaga. Disana ada sebuah sekolah tua yang masih berfungsi. Bisa dibilang itu adalah sekolah pertama di Thalassa. Tapi dermaga sangat berbahaya, banyak perompak dan pencuri. Apa kau butuh teman kesana?” tanya sang pemimpin distrik Thalassa.

Tak perlu mengeluarkan kata-kata, Eunhyuk langsung menggeleng. Ia langung merebut gulungan yang ada di tangan sang raja dan tanpa berpamitan ia langsung melarikan diri menuju dermaga. Dan sang pemimpin, ia hanya bisa diam dan memperhatikan utusan Meso yang menurutnya sangat tidak pantas. Tapi mau tak mau ia harus membiarkan Eunhyuk pergi.

Mulai jalan di malam hari, tak perlu menempuh keramaian jalan disiang hari. Sayangnya udara sangat dingin mengingat semua yang ada di distrik ini terbuat dari es yang mengeluarkan udara dinginnya. Walau rasa dingin masuk ke dalam tubuh, Eunhyuk tak punya niat untuk berhenti. Memang lelah, berjalan mulai dari Meso hingga sekarang ia tak pernah beristirahat. Semua ia lakukan untuk 100 batang emas yang ditawarkan oleh petinggi distrik Meso.

Dalam perjalannya ke dermaga ia tak pernah merasa kegelapan. Cahaya bulan dan bintang diatas kepalanya terus bersinar, seakan menerangi jalannya menuju dermaga. Eunhyuk tak pernah tersesat atau salah jalan, bintang-bintang di langit seakan memberi petunjuk jalan yang benar.

“Dermaga? Inikah yang mereka bilang dermaga. Ini lebih parah dibandingkan dermaga. Kotor, menjijikan dan banyak sekali lumpur disini.” desis Eunhyuk. “Perasaan tempat ini sangat keren beberapa menit yang lalu.”

“Berhentilah mengeluh, dan carilah orang yang kau cari.” bisik Uranus.

“Baiklah.”

Saat ini, ia merasa tak sendirian. Ada orang yang berada disampingnya, memperhatikannya. Walau ia tak terlihat, ia selalu berada disampingnya, membantunya, menunjukkan jalan yang benar. Inilah hubungan sang dewa dan keturunan murninya.

Dengan menunggangi kudanya, Eunhyuk berjalan menyusuri dermaga tersebut. Mencari sebuah gedung yang dapat dikatakan mirip dengan yang ada digambar. Tak ia sadari bahwa matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Dan ia tak mau kehilangan banyak waktu untuk mencarinya. Dengan mempercepat laju kudanya ia memasang mata tajam, memperhatikan sekeliling.

“Berhenti, perhatikan sekitarmu. Kau sudah dekat.” Suara bisikan halus Uranus yang terbawa angin kembali terdengar.

Sekali lagi, Eunhyuk memutar kepalanya dari kiri ke kanan. Dan ia berhenti tepat di sebuah gedung usam dan tua. Bentuknya sangat mirip dengan yang tertera di dalam gulungan yang ia bawa bawa. Ia langsung mengarahkan kudanya ke tempat tersebut. Ia parkirkan kudanya tepat didepan pintu. Ia masuk kedalam gedung itu dan akhirnya ia percaya bahwa itu adalah sekolah.

“Ia bersembunyi di sekolah ini. Carilah sebelum orang lain datang.”

Eunhyuk menurut. Ia langsung mengitari sekolah itu. Sekolah itu tak begitu besar dan hal tersebut memudahkan dirinya mencari keberadaan orang yang ia cari. Cahaya matahari mulai memasuki ruang demi ruang melalui jendela dan beberapa cela dindin yang lubang. Sebuah bayangan seorang laki-laki terlihat dari salah satu ruangan. Eunhyuk mengira ia adalah arwah yang menjaga sekolah ini. Tapi dugaannya salah, ia adalah seorang anak muda yang memandang ke arah luar.

“Pergilah kau dari sekolah ini. Sudah ku katakan kepadamu, sekolah ini hampir runtuh, kami tak punya apa-apa lagi. Berhentilah mengganggu kami!” ucap anak muda itu.

“Permisi, tapi aku agak tersinggung dengan caramu mengusirku. Aku tak tertarik apapun dari sekolah ini.” balas Eunhyuk.

“Lalu apa maumu?” Anak muda itu membalikkan badannya menghadap ke kearah Eunhyuk.

Tring..

Sebuah benda memancarkan kilauannya dari dada anak muda itu. Seperti sebuah kalung yang memantulkan cahaya matahari. Eunhyuk berjalan mendakat kearah anak itu dengan tangan menyangkal sinar pantulan itu yang berhasil membuatnya kesusahan melihat.

“Dengar, aku kesini untuk mencari seseorang.” ucap Eunhyuk.

Saat Eunhyuk berada tepat dihadapan anak muda tersebut, matanya tak bisa berpindah dari kalung yang masih memantulkan sinar ke arah matanya. Ia sangat yakin itu adalah kalung yang serupa dengan miliknya, cincin menjadi liontin dari kalung tersebut. Dibagian tenganya ada sebuah corak berwarna biru seperti lautan luas yang sangat bersih.

“Cincin itu, dari mana kau mendapatkannya?” tanya Eunhyuk

“Kau mau mengambilnya? Langkahi mayatku dahulu. Ini satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku.”

Aniyo. Aish, kau ini curigaan sekali. Bisakah kau memakainya? Dan berusahalah jangan dalam keadaan marah. Efeknya tak akan bersahabat jika kau marah.” pinta Eunhyuk.

Anak muda itu langsung menuruti perkataan Eunhyuk, dengan hati-hati ia memakai cincin yang dimaksud oleh Eunhyuk. Ia mencoba mengatur emosinya, mencoba untuk tidak marah. Dan benar, lengan anak muda itu tiba-tiba saja memancarkan cahaya putih yang terang dengan symbol trisula yang selama ini menjadi symbol dari Poseidon.

“Aku mendapatkanmu. Sekarang lepaskan cincin itu. Anak muda, siapa namamu?” tanya Eunhyuk dengan nada bahagia dan riang.

“Kau mau mengambil cincin ini?” tanya anak itu dengan nada tak bersahabat.

“Aish, anak ini benar-benar! Sudah kubilang tidak! Aku sudah punya satu untuk apa punya dua? Lagipula cincin itu tak akan berfungsi pada orang lain selain dirimu. Siapa namamu?” tegas Eunhyuk sedikit kesal karena dituduh terus.

“Kim Jonghyun. Panggil aku Jonghyun.”

“Baiklah Jonghyun, sepertinya kita harus bergerak cepat. Kita punya banyak pekerjaan.” Ucap Eunhyuk sambil melangkah pergi dari ruangan tersebut.

Jonghyun tak bergerak, ia tetap berdiri ditempatnya. Dengan mata bingung ia menatap Eunhyuk. “Untuk apa? Aku tak mengenal mu.” Balasnya.

“Dengar, tiga dunia di alam semesta ini dalam bahaya. Jika kau tak ikut denganku. Kiamat akan datang menghampiri kita.” Eunhyuk kembali lagi berdiri dihadapan Eunhyuk.

“Sebaiknya kau pergi. Aku tak suka cerita dongeng.” balas Jonghyun yang sepertinya menganggap Eunhyuk sudah gila.

“Baiklah! Aku pergi, jangan salahkan aku jika kau tidak bisa melihat indahnya dunia ini.”

Urat diwajah Eunhyuk mulai terlihat. Ia nampak marah dan emosi berat. Inilah yang paling ia benci di dirinya, tak bisa mengendalikan dirinya saat emosi atau marah. Eunhyuk pun sekarang melangkah pegri meninggalkan Jonghyun sendiri di dalam ruangan tersebut. Ia membuka pintu yang menghubungkan sekolah itu dengan dunia luar.

Seperti yang diucapkan oleh sang raja, dermaga sangat penuh dengan perompak, pencuri dan orang orang jahat. Segerombolan orang berbadan besar dengan badan yang sangat tak terurus berdiri menanti kedatangan Eunhyuk. Kuda yang Eunhyuk tumpangi juga sudah entah kemana. Mereka terpaku pada barang yang menggelantung di sempurna leher Eunhyuk. Kalung cincin yang menjadi sumber kekuatannya selama ini. Sialnya warnanya sangat mirip dengan emas.

“Kita kedatangan tamu.”

“Sial…” desis Eunhyuk.

“Habisi dia!”

Eunhyuk bergegas mengenakan cincinnya tersebut. Ia memanggil awan, menurunkannya dan membuat kabut disekitarnya. Dan ini sangat tidak bertahan lama, hanya 10 detik.

“Jonghyun! Yak! Kim Jonghyun pakai cincin itu sekarang dan bantu aku!” teriak Eunhyuk di tengah kabut yang menutupi tubuhnya.

Jonghyun masih termenung, dan terbingung-bingung dari mana datangnya kabut tersebut. Ia memandang cincin tersebut setelah mendengar teriakan Eunhyuk.

“Pakailah, percaya padaku.” bisik seseorang.

Jonghyun menengok kekanan dan kekiri. Tak ada seorangpun di dekatnya sekarang, sedangkan bisikan itu terdengar sangat dekat dengan dirinya.

“Pakailah, tunjukan kekuatanmu.” bisik seseorang lagi.

Jonghyun pun menurut. Ia mengenakan cincin itu, gambar di lengannya menyala kembali. Tapi saat ini, ia lebih meraksakan efek pemakaian cincin tersebut. Ia merasa lebih kuat, dan entah kenapa ia merasa marah saat ini. Saat berada di depan, ia melihat Eunhyuk sudah menjadi sasaran empuk para pencuri tersebut.

“Lepaskan dia!” teriak Jonghyun.

Seketika, air laut mulai bergerak tak menentu. Angin berhembus kencang dan dari tengah lautan terdengar suara gemuruh disertai petir. Air laut menyusut hingga dasar dermaga terlihat, sebuah gelombang air tinggi muncul di dekat dermaga. Gelombang itu hampir sama dengan gelombang Tsunami. Mengerikan dan mematikan.

“Jonghyun..” desis Eunhyuk. Ia yang ketakutan sekarang melihat gelombang tinggi yang pasti dapat menelan tubuhnya.

“Lepaskan dia atau kalian akan menjadi santapan air laut tersebut.” ujar Jonghyun.

“Permisi.”

Segerombolan orang jahat itu, langsung lari terbirit-birit meninggalkan Eunhyuk dan Jonghyun. Eunhyuk langsung berlari melepas cincin tersebut dari jari manis Jonghyun. Ia tak ingin Jonghyun terluka akibat control kekuatan yang sangat tidak baik. Jonghyun mungkin saja terbunuh jika ia melebihi batas.

“Merasa lebih baik?” tanya Eunhyuk, ketika berhasil melepaskan cincin tersebut.

“Sangat. Cincin itu mengerikan.” ucap Jonghyun.

“Sangat mengerikan. Jangan pernah main main dengan cincin itu.” balas Eunhyuk yang kemudian melepas cincinnya miliknya.

Jonghyun pun mengajak Eunhyuk ke sebuah rumah yang ia tinggali selama ini. Bukan rumahnya tapi lebih dapat dikatakan rumah milik sang orang tua angkat yang menjadikan Jonghyun sebagai anaknya saat masih berusia 4 minggu. Rumah itu agak jauh, tapi semua terbayar karena rumah itu terletak di bagian dermaga yang masih bersih dan terjaga.

Sang orang tua angkat memiliki sebuah bar yang sangat sepi dari pengunjung. Eunhyuk dengan bahagianya duduk disana menolak semua minuman keras yang ditawarkan. Ia bukan tipe pria yang meminum minuman keras seperti apa yang ditawarkan padanya.

“Katakan padaku, apa kau mendengar bisikan-bisikan aneh?” tanya Eunhyuk.

“Bagaimana kau tahu?”

“Nak, aku ini keturunan Uranus. Dia sering membisikkanku tentang apa yang harus kuperbuat dan jalan mana yang benar. Percaya atau tidak mereka memperhatikan kita.” ucap Eunhyuk.

“Kalau kau dibisikan oleh Uranus, lalu siapa yang membisikanku?” Tanya Jonghyun bingung.

Eunhyuk langsung menyuruh Jonghyun mengenakan cincin itu lagi. Dan sebuah gambar ditubuhnya menjadi petunjuk utama bagi Eunhyuk.

“Poseidon. Dialah Poseidon. Kau memiliki darah yang istimewa. Tapi kenapa keturunan Poseidon sangat kecil?” tanya Eunhyuk sambil memandangi Jonghyun lekat-lekat.

“Aku sudah 17 tahun, jangan memanggilku anak-anak lagi atau kecil. Hanya saja tubuhku ini tak mau bertambah tinggi…..” ucap Jonghyun dengan terpaksa mengakui ukuran tubuhnya yang sedikit di bawah rata-rata.

“Aish, baiklah anak kecil. Jadi kau mau bergabung denganku? Aku akan melatihmu, tapi sebelumnya kita harus mencari teman-temanmu yang sama istimewanya denganmu.”

“Baiklah, aku ikut. Asalkan kau janji akan mengajariku mengontrol kekuatanku ini.” ucap Jonghyun.

Dan nampaknya anak muda satu ini salah meminta bantuan. Eunhyuk tidak lulus menjadi petugas atau prajurit distrik tingkat 2 yang dikhususkan bagi para keturunan istimewa. Walau sudah mencoba sampai 3 kali ia tak juga lulus. Padahal seharusnya ia sudah lihai dalam test yang diajukan.

Tangan Eunyuk langsung memegang sebuah kertas yang berada di dalam tas selempangnya. Gulungan peta dewa itu langsung ia buka dan langsung terlihat sebuah huruf yang membentuk sebuah nama distrik, Gaion (bumi).

“Sepertinya kita harus ke Gaion. Siapkan dirimu, sekarang. Kita harus kembali ke , untuk mencari alat transportasi menuju Gaion.” Ucap Eunhyuk.

“Baik.”

Janghyun langsung berlari masuk kedalam kamarnya. Mengambil 1 pasang pakaian serta sebuah botol berisi sebuah air bewarna biru. Ia masukan semuanya kedalam tas selempang yang tak cukup besar. Kemudian bergegas berpamitan pada kedua orangtua angkatnya.

“Aku siap.”

Jonghyun dan Eunhyuk langsung bergegas menuju . Mereka berdua berjalan dengan menggunakan kaki, mengingat kudanya sudah diambil oleh para pencuri. Eunhyuk harus mencari alat transportasi yang bisa membawanya ke kerajaan dengan cepat.

“Berhenti disini.” ucap Eunhyuk. “Ayo cari tempat sepi, aku sudah tak kuat berjalan.” lanjut Eunhyuk.

Jonghyun pun membawa Eunhyuk kesebuah gang kecil di tengah keramaian pasar ikan segar di daerah dekat dermaga. Disana Eunhyuk mengeluarkan cincinnya. Ia memakainya dan mengarahkannya kelangit. Turunlah sebuah awan putih tebal yang siap untuk dinaiki.

“Ayo kita naik ini.” Eunhyuk langsung membanting tubuhnya di atas awan putih yang lembut itu. Awalnya Jonghyun tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tapi pada akhirnya ia percaya.

Awan itu mulai naik dan mulai melesat layaknya burung elang yang terbang gagah di angkasa.

“Kau bisa mengendalikan awan-awan ini?” tanya Jonghyun.

“Jangankan awan, siang dan malam dapat kukendalikan. Semua isi langit bulan dan matahari dapat kukendalikan.” balas Eunhyuk dengan percaya diri.

“Keren..”

Tak terasa, mereka sudah sampai di kerajaan yang dimaksud. Vassilias, pemimpin distrik yang kedudukannya sama dengan raja menyambut mereka berdua dengan bahagia. Dan akhirnya sang raja menemukan keturunan Poseidon di distriknya. Sepertinya sang raja sudah mengetahui maksud kedatangan Eunhyuk dan Jonghyun kesini.

“Eunhyuk ssi, ini ada kereta kuda. Kau pasti memerlukannya.” ucap pemimpin Thalassa sambil mengarahkan Eunhyuk menuju sebuah kereta kuda.

“Ah, ini sangat membantu. Dan sepertinya aku butuh 1 orang yang sangat bisa dipercaya untuk mengendalikannya.” ucap Eunhyuk.

“Tentu saja dia dapat dipercaya, ia mengabdi pada distrik ini lebih dari 10 tahun. Namanya Kangta. Dia sama seperti kalian memiliki garis keturunan murni, Erebus. Dia keturunan Erebus.” ucap sang raja.

Eunhyuk langsung menepuk bahu Kangta. Sepertinya ia mulai percaya dengan Kangta. Saat menepuk bahu kangta, seorang gadis keluar dari kerajaan Thalassa dengan mengenakan sebuah gaun putih yang panjang dan lembut. Ia sangat cantik dengan sebuah mahkota kecil menjadi hiasan di kepalanya. Kulitnya sangat putih, ia bagaikan tetesan air yang bening.

Appa, kau mau pergi?” tanya gadis itu yang ternyata adalah putri dari pemimpin Thalassa, namanya Jung Jessica.

Aniyo, mereka yang akan pergi. Jessica, ini Eunhyuk dan Jonghyun.”

Annyeong, Jessica imnida.”

“Hai manis.” goda Eunhyuk.

“Maaf tuan Lee, nampaknya kau harus naik kedalam kereta kudamu.”Ayah Jessica yang merupakan pemimpin distrik langsung mendorong tubuh Eunhyuk masuk ke dalam kereta kuda.

Mata Eunhyuk tak bisa lepas dari Jessica, begitu pula Jessica ia tak bisa melepaskan pandangannya dari Eunhyuk. Nampaknya Eros sang cupid sudah memanah panah asmara di hati mereka berdua. Jika sudah cinta tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk menolaknya.

“Jessica ssi, jika aku kembali dan masih hidup. Menikahlah denganku.” teriak Eunhyuk dari dalam kereta kuda. Ayah Jessica hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Eunhyuk dan menyaksikan anaknya tersenyum malu.

Lepas dari Thalassa, Eunhyuk meminta bintang untuk membantu Kangta mencari jalan menuju Gaion, setidaknya itu membuat mereka tak menghabiskan banyak waktu untuk berputar balik mencari jalan yang benar. Sambil mengendalikan kuda, Kangta memandang langit.

“Aku mau tidur, jika ada apa apa bangunkan aku.” ucap Eunhyuk yang kemudian terlelap dalam tidur dan mimpinya.

Jonghyun mengangguk dan mulai memandang pemandangan diluar kereta. Ini pertama kalinya ia keluar dari distrik Thalassa, ini hal menarik baginya. Ia tak mau melewatkan sedetik pun. Sedangkan Kangta asik bernyanyi. Ia beruntung sampai saat ini tak ada yang berniat mencelakai mereka.

Distrik Gaion (bumi)

Mereka asik dengan aktivitas mereka sendiri hingga akhirnya, Kangta memberitahu bahwa Gaion sudah dekat. Hampir 12 jam mereka berada di dalam kereta itu. Tentu saja mereka lelah untuk duduk. Jonghyun menggoyang-goyangkan badan Eunhyuk.

“Ada apa?” tanya Eunhyuk kesal dengan perlakuan Jonghyun yang seenaknya membangunkannya dari tidurnya.

“Kita sudah mau sampai, sebaiknya kau bangun.” balas Jonghyun.

Eunhyuk langsung menggeliat dan memandang Jonghyun. Dan kembali ke posisi duduknya. Ia merapikan dirinya terutama rambutnya. Dan saat ia selesai merapikannya, sampailah kereta kuda itu di depan pintu gerbang Gaion (bumi).

“Tuan, sepertinya kita membutuhkan bantuan anda.” ucap Kangta dari jendela penghubung bagian pengemudi dan penumpang. “Gunakan kekuatanmu dan mintalah bintang tunjukan jalan yang benar di labyrinth ini.” lanjutnya.

Eunhyuk dan Jonghyun langsung turun dari kereta, melihat apa yang dimaksud oleh Kangta. Mata mereka terbuka lebar saat melihat apa yang mereka lihat. Ini adalah sebuah pintu masuk yang sangat rumit. Sebuah tembok yang terbuat dari

“Penduduk Gaion sangat cerdik.” puji Jonghyun.

“Mereka kreatif sekali.” timpal Kangta.

“Lebih tepatnya kurang kerjaan. Apa mereka tak punya pekerjaan lain selain membuat pintu masuk yang membuat mata sakit seperti ini?” ejek Eunhyuk.

Dengan kesal Eunhyuk mengambil cincinnya tersebut. Sebelum memakainya ia berusaha meredan segala emosinya. Agar ia dapat mengontrol semuanya dengan mudah. Setelah dirasa emosinya sudah agak mereda, ia langsung memakai cincin itu dan diarahkannya ke langit.

“Bintang yang paling terang dilangit, turunlah.” ucap Eunhyuk.

Sebuah cahaya bewarna biru langsung turun dari langit.

“Tunjukan jalan menuju pintu keluar yang benar.”ucap Eunhyuk.

Cahaya itu langsung memperlihatkan jalan menuju pintu keluar. Dan Kangta langsung bersiap di tempatnya.

“Siapkan mental dan diri kalian. Kalian memasuki tempat kegelapan kedua paling ditakuti oleh para pendatang. Banyak orany yang meninggal disini. Semuanya belum sepenuhnya kembali ber renkarnasi. Jangan biarkan mereka merasuki pikiran kalian. Jangan berpikir hal yang sangat aneh, karena semua akan terjadi disini.” Ucap Kangta.

“Baik” ucap Eunhyuk dan Jonghyun bersamaan.

Kereta kuda itu mulai masuk kedalam labyrint, di pandu oleh bintang dan dikemudikan oleh Kangta. Jonghyun memegangi botol kecil berisi air yang ia bawa dari Thalassa, tubuhnya agak sedikit bergetar. Sedang Eunhyuk dengan santainya memainkan kuku kukunya yang nampaknya sudah mulai bertumbuh panjang. Tak terasa dalam otak Eunhyuk terlintas raut wajah Jessica yang menurutnya sangat indah dan menarik. Ia terus tersenyum senyum, seperti orang sedang kasmaran. Sekilas dari jendela kereta kuda yang sedang berjalan, ada seorang wanita yang beraut Jessica. Eunhyuk, dia melihatnya dan meminta Kangta untuk berhenti.

“Jessica ssi, kau sedang apa disini?” tanya Eunhyuk yang buru buru turun dari kereta dan menghampiri Jessica.

“Aku tersesat.”

“Ikut aku saja!” ajak Eunhyuk.

Jessica pun menuruti perkataan Eunhyuk. Ia naik disatu kereta yang sama dengan Eunhyuk. Kangta mengenakan cincinnya, ia tau bahwa itu bukan Jessica itu adalah jelmaan yang menyerupai Jessica. Dari luar ia terus mengendalikan bayangan bayangan aneh yang terus mendekati keretanya.

“Jessica ssi kau mau minum?” tanya Eunhyuk

Tak ada jawaban. Jessica menutup mulutnya rapat rapat sambil memposisikan kepala menghadap pahanya. Dan tiba-tiba terdengar suara endusan nafas dari diri Jessica, yang sedikit agak tidak normal.

“Kau harus mati.” desis bayangan Jessica itu.

“Oh sial, aku termakan bayanganku sendiri.” ucap Eunhyuk.

Kangta yang berada didepan, menyadari pergantian aura dari dalam kereta. Dugaannya benar, akan terjadi sesuatu hal yang buruk. Ia memberhentikan laju kereta kudanya tersebut. Ia langsung turun dari bangku pengemudi dan langsung membuka pintu penumpang. Ia mendapatkan Eunhyuk dan Jonghyun yang sudah hampir mati tercekik oleh jelmaan Jessica itu.

Ia menarik jelmaan itu keluar kereta. Ia hanya sekedar bayangan, dapat diselesaikan dengan satu sentilan kecil dari Kangta, mengingat dia adalah sang pemilik garis keturunan Erebus. Dia menatap Eunhyuk dan Jonghyun yang masih setengah syok dengan apa yang ia lihat.

“Jangan pikirkan hal aneh aneh lagi.” ucap Kangta.

“Ne…”

Merekapun kembali melanjutkan perjalanan masuk ke Gaion. Tugas sang bintang selesai saat pintu Gaion terlihat. Hanya ada beberapa penjaga disana. Mereka tak memberhentikan kereta yang ditumpagi oleh Eunhyuk, menurutnya mereka adalah petinggi Thalassa yang sedang ingin berlibur ke Gaion. Apalagi mereka sudah berhasil masuk melewati labirin mematikan itu.

Sebenarnya, Eunhyuk tak tahu kemana harus mencari lagi. Ia benar-benar tak punya gambaran dengan apa yang tergambar di gulungan tersebut. Sebuah padang rumput, itulah yang dapat ia simpulkan. Padang rumput? Gaion, adalah distrik yang sangat hijau, tentunya banyak padang rumput. Ia memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Gaion sampai orang yang ia cari ketemu.

“Hei hyung, kita mau kemana sekarang? Lihat disana ada gadis-gadis memperhatikan kita.” bisik Jonghyun. Tangannya sibuk melambai pada para gadis yang berdiri agak jauh dari mereka.

Jonghyun, walau tubuhnya pendek untuk ukuran laki-laki, tapi wajahnya sangat mempesona dan lagi otot-otot tangannya menambah kesan sexy pada dirinya. Senyumannya manis dan tatapan matanya sangat tajam. Eunhyuk memandangi Jonghyun dari ujung kaki sampai puncak kepalanya, ia mendengus kesal.

“Kita atau kau…” desis Eunhyuk sinis. Ia merasa iri karena ia tahu, yang menjadi objek para gadis itu adalah Jonghyun, bukan dirinya.

“Aku kesana ya!” ijin Jonghyun

“Kangta! Apa kau punya usulan, kemana kita harus menginap disini? Uangku ada di tas yang kutaruh di punggung kudaku..” bisik Eunhyuk.

“Aku punya teman disini. Mungkin dia bisa menampung kita untuk sementara waktu.” balas Kangta.

Eunhyuk tersenyum bahagia. Ia langsung menarik Jonghyun yang asik berbincang bincang dengan para gadis Gaion yang tertarik padanya. Mereka langsung menuju sebuah tempat yang dapat dibilang seperti sebuah bar, yang penuh dengan laki- laki berotot. Melihat otot-otot tangan para laki-laki itu, membuat Eunhyuk mengutuki dirinya sendiri. Ia merasa malu dengan keadaan lengannya, bahkan Jonghyun punya lebih baik dibandingkan dirinya.

“Boa..” panggil Kangta.

“O.. Kangta ssi, apa yang membawamu kemari?” tanya perempuan yang di panggil Boa oleh Kangta.

“Aku dalam sebuah misi, entah misi apa tapi bisakah aku dan kedua bocah itu tinggal disini untuk beberapa hari?” ucap Kangta.

“Oo! Lee Hyukjae~!” pekik Boa saat melihat Eunhyuk duduk bersama Jonghyun.

Eunhyuk langsung menengokan kepalanya ke arah teriakan tersebut. Matanya langsung menyipit, wajahnya berubah menjadi wajah tembok. Ia benar-benar menyesali tawaran Kangta untuk mendatangi tempat ini.

“Boa….” gumam Eunhyuk dengan suara pelan.

“Hey! Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah lulus tingkat 2?” tanya Boa, entah mengapa itu langsung menancap pada dada dan hati Eunhyuk.

Boa dan Eunhyuk berteman sejak menjalani sebuah test tingkat 2 di distrik Meso. Tapi karena sesuatu hal Eunhyuk tak berhasil lulus di ujian tersebut sampai 3 kali. Sedangkan Boa ia hanya butuh 1 kali test, ia lulus dengan nilai sangat sempurna.

“Ah, kau belum lulus?” tanya Boa lagi. Tangan Eunhyuk langsung mengepal, rasanya ia ingin melempar Boa ke laut saat ini. “Baiklah kita bicarakan hal lain, sedang apa kau kesini?” lanjut Boa.

“Bisakah kita bicara ditempat lain?” tanya Eunhyuk

“Baik lah.. Sepertinya penting sekali..”

Boa langsung mengarahkan Eunhyuk kesebuah tempat yang sepi dari pengunjung bar. Jonghyun kembali menjadi pusat perhatian banyak wanita, begitu pula Kangta. Pesona mereka berdua sudah tak bisa ditawar dengan obat paling manjur lagi.

“Ada apa?” tanya Boa.

“Begini, ini terdengar konyol tapi aku mohon jangan tertawai diriku. Tiga dunia akan kiamat.” ucap Eunhyuk.

“Hah? Kau serius? Menurut perhitunganku, Dunia ini akan kiamat saat semua bintang saling bertabrakan dan seluruh isi tata surya berada di satu garis lurun. Dan kau tau itu masih 11 milyar tahun lagi.” balas Boa.

“Begini, Zeus tiba-tiba saja muncul di dihadapanku, menyuruhku mencari ke 12 orang yang memiliki garis keturunan murni seperti kita. Ini kau lihat sendiri petanya, kertas ini sangat tidak membantuku. Aku tak bisa menemukan keturunan di distrik Gaion jika hanya ada gambar padang rumput seperti ini.” omel Eunhyuk.

Tangan Boa langsung mengambil gulungan kertas itu, melihat apa yang tergambar pada peta tersebut. Perlahan ia mencoba mencerna apa yang ada didalam peta tersebut. Tak perlu waktu lama untuk mengerti buku tersebut, Boa langsung bergegas mengambil sebuah buku yang mungkin sangat membantu pencarian Eunhyuk saat ini.

“Orang pertama berasal dari Thalassa, ia keturunan Poseidon. Dan yang kau cari adalah orang kedua dan berasal dari Gaion, Demeter.. kau mencari keturunan Demeter.” ucap Boa sambil membolah balik halaman buku yang ia bawa.

“12 Olympus Gods. Demeter…” Eunhyuk mulai mengingat ingat apa sesuatu tentang Demeter. Apa yang pernah ia ketahui tentang Demeter, sepertinya pengetahuannya tentang 12 Olympus Gods sangat baik dibandingkan kemampuannya dalam hal perhitungan.

“Anak dari Demeter dibawa oleh Hades ke neraka. Sedang Gaion bersampingan dengan distrik api. Demeter, apa dia sangat mencintai anaknya?” tanya Eunhyuk.

“Sepertinya, tak ada seorang ibu yang tak sayang dengan anaknya sendiri..” lanjut Boa, sambil membuka sebuah peta yang menggambarkan keseluruhan distrik Gaion.

Tangannya langsung menari mencari sebuah tempat yang menurutnya tempat keberadaan si garis keturunan Demeter. Setelah menemukan sebuah nama, telunjuk Boa langsung menunjuknya hingga Eunhyuk dapat melihat kemana ia harus pergi. ‘Demeter Village’ begitulah bunyi tempat yang Boa tunjuk. Nama Demeter diambil karena menurut para penduduk Gaion, desa tersebut ada desa yang sangat diberkati. Semua tumbuhan dapat bertumbuh subur disana.

“Desa itu tak jauh dari sini. Jika kau mau kau bisa beristirahat dulu disini. Besok pagi akan kuantar kesana.” ujar Boa.

Seperti yang Boa katakan, badan Eunhyuk sudah seperti sebuah rongsokan yang siap diganti dengan perlengkapan baru. Kaki dan tangannya sudah terasa ingin lepas dari tempatnya. Ia butuh istirahat, istirahat yang cukup.

“Boa ssi, apa kau mau membantuku? Mencari kesepuluh orang yang belum kutemukan?” tanya Eunhyuk ragu sebelum ia melangkah pergi ke sebuah kamar yang menurutnya sudah disediakan baginya.

“Lee Hyukjae, kita teman bukan? Tak usah kau tanya, pasti ku bantu.” balas Boa.

Eunhyuk langusng tersenyum dan kemudian mulai berjalan menuju kamar yang sudah disediakan.

“Eunhyuk hyung, bolehkah aku keluar untuk berjalan-jalan? Kau tahu aku belum pernah kesini.” tanya Jonghyun dengan wajah penuh berharap harapannya dikabulkan oleh Eunhyuk.

Eunhyuk yang sudah lelah, langsung menganggukkan kepalanya. Ia sudah tak sanggup lagi untuk beradu mulut dengan seseorang walaupun orang itu adalah anak kecil. Jonghyun yang mendapat ijin, langsung berlari keluar dan memulai tour keliling Gaion.

Ia berlari seperti burung baru lepas dari sangkarnya. Kakinya tak bisa berhenti, mereka terlalu bahagia untuk berhenti. Setelah sekian lama akhirnya ia merasakan kebebasan dan keluar dari sebuah perasaan takut dan terancam dari dunia luar. Ia merasa nyaman disini dibandingkan dermaga yang penuh dengan orang-orang jahat yang mengakui diri mereka hebat, tapi mereka sebenarnya tak lebih hebat dari dirinya. Bahkan nyali mereka kecil seperti anak ayam yang baru saja menetas. Sungguh memalukan.

BUK

Karena terlalu sibuk memperhatikan kesekeliling, tak sengaja ia menabrak seseorang. Dan ia berharap orang itu tak marah padanya, karena Jonghyun baru saja membuat orang itu terpental sedikit ke belakang dan terjatuh di jalanan yang basah.

“Maaf, aku tak sengaja.” ujar Jonghyun dengan sedikit nada gemetar di beberapa kata yang ia ucapkan, ia benar-benar ketakutan.

“Ah tidak apa-apa. Tapi bunga-bungaku, terinjak oleh orang.” ujarnya dengan nada kecewa.

Dan kemudian Jonghyun langsung, mengambil satu persatu bunga yang tak terinjak0injak oleh para pejalan kaki yang melewati jalanan tersebut. Bunga-bunga yang masih bisa diselamatkan olehnya langsung ia berikan pada orang yang ia tabrak secara tak sengaja. Dan orang tersebut sedikit lega karena masih banyak bunga yang tak terinjak.

“Terima kasih.”

“Hm.. begini, untuk bunga-bunga yang terinjak, aku tak punya uang untuk menggantinya..” ucap Jonghyun sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal, menandakan ia menyesal bercampur malu.

“Kau tak perlu menggantinya, ini bunga yang tumbuh disekitar rumahku. Aku bisa memetiknya lagi.”

“Kalau begitu aku bantu.” tawar Jonghyun.

“Tidak usah.”

“Ayolah, ini sebagai tanda maafku. Aku tidak enak hati telah menabrakmu.” Pinta Jonghyun dengan wajah sangat memelas, hingga orang yang melihatnya tak bisa menolak.

Gadis yang ditabrak oleh Jonghyun tadi, adalah salah satu dari seribu gadis yang tak bisa menolak pesona dari Jonghyun. Ia menganggukan kepalanya, menerima tawaran Jonghyun sebagai permintaan maafnya. Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju tempat yang jauh dari pusat kota. Sepertinya Jonghyun melupakan 1 hal, bahwa ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Gaion.

Mata Jonghyun terkagum-kagum memandang sekitar. Sejauh mata memandang semua terlihat sangat hijau. Tepat di arah depannya terlihat pegunungan yang melingkari distrik Gaion. Sebuah desa yang agak terpencil mulai terlihat. Ia tak menyangka gadis itu tinggal disebuah rumah yang sangat kecil.

“Ayo masuk dulu, aku akan mengambilkan air untuk kau minum.” ucapnya.

Jonghyun pun mengikuti sang gadis masuk ke sebuah gubuk kecil. Matanya tak bisa berhenti berkedip. Di dalam sebuah gubuk kecil, tersimpan sebuah dunia lain yang sangat indah. Taman membentang luas mengiasi lembah-lembah kecil yang menjulang di dunia tersebut. Bunga-bunga dari berbagai jenis membuat taman itu terlihat seperti pelangi.

“Ini tamanku, dan rumahku ada di sebelah sana. Oh ya, aku Sulli.” ucap si gadis yang sebenarnya bernama Sulli.

“Kim Jonghyun. Ini indah sekali, tapi bagaimana bisa kau menyimpan taman yang luas ini beserta rumahmu di dalam sebuah gubuk kecil? Sangat tidak masuk akal..”

Jonghyun dengan pandangan tidak percaya memandang kesekeliling tempat ini, tidak seperti bagian dalam sebuah gubuk. Sudah berapa kali hari ini ia dibuat terkagum-kagum.

“Aku tahu ini tidak masuk akal, aku juga tak tahu kenapa aku bisa tinggal disini. Kata seorang nenek yang merawatku dulu, ibuku memberikan tempat ini agar aku bisa hidup bahagia.” jelas Sulli.

“Ibu? Ibumu seorang penyihir?” tanya Jonghyun asal. Tetapi melihat sebuah surga yang ada di dalam sebuah gubuk kecil seperti ini, hanya sihir yang ada di otakmu.

Aniyo, tepatnya aku tak tahu bentuk dan rupa ibuku. Sejak aku lahir aku hidup bersama seorang nenek yang baik hati. Sudah jangan dibahas, ayo masuk ke rumah ku, akan kubuatkan teh hangat.”

Sulli dan Jonghyun pun berjalan menuju rumah yang dimaksud oleh Sulli, mereka masuk dan langsung menuju dapur. Rumah itu terlihat sangat rapi dan enak untuk dipandang. Aroma wangi buanga lavender dapat dihirup dari berbagai sudut ruangan. Rasanya ia tak pernah ingin keluar dari tempat ini, ia terlanjur merasa nyaman disini.

Saat teh datang, Jonghyun langsung meminumnya. Teh yang seharusnya berasa biasa saja, tapi sekarang terasa sangat enak dan manisnya pas di lidah. Sedikit terlintas dipikirannya, kalau Sulli adalah penyihir jahat. Tapi langsung ia singkirkan, karena dari wajahnya yang sangat polos mustahil bahwa ia adalah seorang penyihir.

“Sulli ssi, ayo cari bunga, akan kubantu.” ucap Jonghyun.

Sulli pun tersenyum, lalu mengajak Jonghyun keluar menuju kebunnya. Mereka berdua berjalan menyusuri taman tersebut, mencari bunga yang layak untuk dipetik. Dari tangkai dan warna, Jonghyun sangat bingung untuk memilihnya. Ia memetik apa yang menurutnya menarik pandangan matanya.

Sedang Sulli, sangat selektif dalam memilih bunga. Matanya teliti melihat bunga yang akan ia petik. Warna bunga itu haruslah menarik mata, tak ada kelopak bunga yang layu atau lubang. Satu persatu mulai ia petik, hingga ia rasa cukup.

“Ini, apa ini sudah cukup?” tanya Jonghyun yang membawa satu keranjang penuh bunga.

“Hahaha banyak sekali, kalau begitu taruh saja didalam rumah.” ucap Sulli.

TRING

Sinar matahari, membuat mata Jonghyun menutup. Kilauan sebuah benda yang menggantung di leher Sulli, berhasil membuat matanya berbayang. Saat Jonghyun sudah menemukan focus matanya kembali, ia menatap Kalung yang menggelantung sempurna di leher Sulli. Ia perhatikan lekat lekat kalung tersebut.

“Cincin itu.. serupa dengan milik ku.” ucap Jonghyun.

Cincin yang dipakai Sulli, salah satu dari cincin keturunan dewa dewi. Jonghyun perlahan mengingat pertama kali Eunhyuk menemukannya dan menyuruh dirinya mengenakan cincin tersebut. Ia mengingat apa yang terjadi saat ia memakai cincin tersebut saat menolong Eunhyuk yang hampir mati dipukuli para penjahat di dermaga Thalassa. Gelombang air laut naik seperti ingin menerkam apa yang ada didepannya.

“Sulli, bolehkah kau pakai cincin yang ada di lehermu itu?” tanya Jonghyun. “Pastikan kau tidak dalam keadaan marah.” lanjut Jonghyun dengan suara pelan.

“Baiklah..”

Jonghyun mulai memperhatikan tangan Sulli tepatnya dibagian lengannya. Dan pada saat Sulli memakai cincin itu, bagian belakang telapak tangannya, muncul sebuah symbol yang menyala. Bukan hanya dalam diri Sulli, tapi taman yang tersembunyi itu juga langsung berubah, bunga-bunga langsung bermekaran. Kelopak-kelopak bunga jatuh dari atas langit, membuat hujan warna-warni yang sangat indah.

“Apa yang terjadi..?”

“Kau…”

Jonghyun langsung melepaskan cincin itu dari jemari Sulli secara paksa. Ia memaksa Sulli untuk menunjukan jalan ke tempat semula mereka bertemu, di tengah keramaian kota. Mereka berdua berlari, dengan tangan Jonghyun menggenggam erat tangan Sulli. Berlari menembus angin yang berhembus cukup kencang hari ini.

***

“Jam berapa ini?” tanya Eunhyuk pada Kangta yang duduk disamping ranjang tempat ia tidur. Akhirnya setelah berjam jam ia pulas tertidur diranjang yang agak keras itu, ia membuka matanya.

“Jam 6 sore..” balas Kangta.

“Berapa lama aku tidur?” tanya Eunhyuk.

“Sekitar 8 jam lebih. Jika kau tidak bangun kau akan ketinggalan makan malam. Kau sudah kehilangan jatah makan siang mu. Kuharap perutmu sanggup menunggu jam makan malam.” ucap Kangta.

“Semoga, kemana Jonghyun?” tanya Eunhyuk.

“Sepertinya ia masih sibuk dengan gadis-gadis Gaion. Ia belum pulang sejak kau perbolehkan ia pergi. Aku takut ia tersesat.” balas Kangta sambil terus membaca buku tentang kedua belas dewa dewi Olympus milik Boa.

“Ah~ Ia akan kembali jika ia kelaparan.” lanjut Eunhyuk.

“Aku malah khawatir ia tidak kembali karena terlalu bahagia bersama para gadis-gadis itu.”

Eunhyuk pun beranjak dari ranjangnya. Bangun dengan badan yang sedikit lebih segar dibandingkan sebelumnya. Ia mencoba mengumpulkan jiwanya yang masih berjalan-jalan di dunia mimpi. Menahan rasa lapar yang sangat menyiksa di perutnya.

“Lee Hyukjae!!!!” teriak seorang laki-laki.

“Lee Hyukjae hyung! Lihat apa yang ku bawa!” ternyata laki-laki itu adalah Jonghyun. Ia datang bersama Sulli yang masih mengatur nafasnya.

“Gadis… apa kau menghamilinya dan memintaku untuk menjadi wali pernikahan kalian?” tanya Eunhyuk. Tampaknya tingkat imajinasinya telah melayang tinggi.

“Kau menghamilinya?” timpal Kangta dengan nada kaget. Matanya membulat mendengar ucapan asal Eunhyuk, entah mengapa ia bisa mempercayainya.

Jonghyun langsung menggeleng dan mendengus kesal karena dituduh yang aneh-aneh oleh kedua pria ini, padahal ia telah membantu mereka. Ia dengan segera menyuruh Sulli memakai cincin yang menggelantung di lehernya. Sulli pun mengikuti semua yang Jonghyun perintahkan.

“Lihat!” Jonghyun memperlihatkan telapak tangan Sulli yang tampak menyala.

“Demeter..”

TBC

16 thoughts on “Phoenix [ Chapter 1 ]

  1. ndaa_nalate says:

    Kyaaa… Baru baca >.<
    Udah ketemu dua,, ntar siapa lagi yang bakal mereka temukan ?
    Penasaran…
    Sangat ditunggu next part nya 🙂

  2. Chichizu says:

    Anyong haseo! Chizu imnida ^^
    reader tetap baru nii hehe..
    Absen dulu y ching, bru bca, oh ya lens nya jgn lupa publish kilat y? Taehae nya gantung nii…

  3. tania says:

    annyeong thor :)))) ,, reader baru datang …….
    oh iya thor sebenarnya baca ff ini udah dari kmaren-kmaren tapi mian yah thor baru bisa comment 😀 ….

    Oh iya thor phoenix 2 nya ditunggu yah thor, penasaran nih :DDDD

  4. Hswoo says:

    hua author semakin daebak!!!! part 1 nya menggoda iman (?), baru ada poseidon sama demeter tinggal 10 orang lagi! author cemungudh! >ͺ<

  5. Rifdah_Musketeers says:

    next thor.. ffnya keren, pertama baca ngebayagin tempatnya kayak mv exo yang history hihi 😀 cepet nongol kyu dan lain lainnya ya thor 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s