Two is Better Than One [ Part 1 ]


Tak ada yang tak mungkin didunia ini, kecuali manusia memakan kepalanya sendiri. Begitu pula dengan cinta, sesuatu yang tak mungkin terjadi berubah menjadi hal yang sangat mungkin terjadi. Cinta itu buta, mata akan dibutakan, benci bisa diubah menjadi cinta.

Laki- laki itu, tak akan pernah melihat diriku yang buruk rupa ini, aku sama sekali tak punya kelebihan yang bisa menarik perhatiannya. Aku tak akan pernah bisa mendapat, meraih dan menggapainya, ia terlalu tinggi dari tempatku saat ini. Aku bagaikan dasar samudra yang sangat dalam dan gelap sedang dirinya bagaikan tata surya yang sangat terang dengan gemerlap benda benda langit menghiasinya. Perbedaan kami sangat jauh, perasaan ini tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang ia mau.

“Yoona ya~” panggil seorang laki laki dengan wajah bahagia. Kacamata menggantung di telinganya, dan kerah baju dikancingkan hingga bagian yang teratas.

Yoona, Im Yoona gadis yang duduk di bangku terujung yang berada di kelasnya, menengokan kepalanya ke arah laki-laki itu. Laki- Laki itu seakan membuat fokusnya terhadap buku yang ia baca buyar dan membuatnya menutup seketika buku itu tanpa memberi tanda pada halaman yang ia baca.

“Ada apa Donghae oppa?” Tanya Yoona sambil tersenyum, senyum yang sangat lembut.

“Lihat kau berada di ranking pertama lagi!” Donghae sebutan laki- laki itu, memberikan selembar kertas yang memaparkan ranking murid dari kelas 1-3 SMA. Sekali lagi 2 tahun berturut turut Yoona menduduki peringkat pertama di sekolahnya.

Mata Yoona tak berhenti di satu titik, matanya seakan berjalan kearah bawah mencari sebuah nama yang sangat penting baginya. Cho Kyuhyun, nama yang ia cari. Seorang siswa berparas tampan dan bersuara indah. Sayang kualitas otaknya tak sebagus fisiknya. Mata Yoona berhenti pada ranking ke 3 dari terakhir, entah mengapa rasanya lega tak melihat nama itu tak berada di peringkat paling terakhir.

“Aish gara gara bocah tengil itu, rata rata kelas kita tak sebagus kelas sebelah!” decak Donghae kesal.

Berbeda dengan Donghae, Yoona hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan aktivitasnya membaca sebuah buku tebal yang kurang lebih berhalaman 400 lembar kertas yang diatur sedemikian rupa agar setiap lembarnya sangmbung menyambung satu sama lain. Beruntung tak butuh waktu lama Yoona mendapatkan lagi halaman yang sempat tertutup tanpa tanda.

“Im Yoona ssi, Bisa ikut saya sebentar?” seorang pengajar yang menjadi wali kelasnya tiba-tiba saja memanggilnya dan memintanya mengikutinya ke ruang guru.

Kim Saem, begitulah sapaan murid murid. Guru yang paling sabar mengajar muridnya. Ia bukan seorang perempuan melainkan laki-laki, jarang ada laki- laki yang sabar seperti dirinya. Tanganya memberi tanda bagi Yoona untuk duduk di bangku yang sudah disediakan tepat disamping seorang laki- laki yang sangat ia kenalin.

“Duduk!” perintah Kim Saem. Yoona sebagai anak baik langsung duduk disamping namja itu. Debar jantungnya semakin tak beraturana seperti sedang dipacu untuk berlari 100 kali keliling lapangan sekolah.

Dia disampingku, tak sedikitpun matanya itu memandangku. Aku tak menarik. Ya dibandingkan gadis gadis cantik dan sexy yang selalu mengelilinginya, aku bagaikan tak punya harga. Tapi duduk disampingnya dengan jarak sedekat ini saja sudah memuaskan hati ku ini.

“Im Yoona ssi, mulai nanti siang, kau harus menjadi ‘guru’ untuk Cho Kyuhyun. Tidak ada tapi tapian, Cho Kyuhyun kau harus dengarkan apa yang Yoona ajarkan dengan baik!” jelas Kim Saem.

Ia pasti menolak, sudahlah jangan banyak berharap.

“Baik lah! Kim Saem! Dengar jika ulangan math nanti aku mendapatkan nilai 100 kau harus mentraktirku makan enak!” tawar Kyuhyun dengan tangan menunjuk wajah Kim Saem.

Cengiran ringan dari Kim Saem  tanda meremehkan terlukis di wajahnya. “Baik lah Cho Kyuhyun, kita lihat saja nanti.” Balas Kim Saem.

Jalan berdua di koridor, bukankah ini sebuah kemajuan. Biasanya jalan disampingnya adalah harga mahal yang tak sangup ku bayar. Aku tak pantas berjalan, bersanding dengannya. Bukan karena aku anak pintar dan ia tidak, taka da orang bodoh didunia ini hanya saja orang malas banyak.

“Nama mu, Im Yoona ya? Nama yang bagus” ucapan yang tak pernah disangka keluar dengan mudahnya dari mulut Kyuhyun. Pujian manis dari Kyuhyun yang baru pertama kali mengarah ke Yoona.

Dengan anggukan kecil Yoona menjawab pertanyaan Kyuhyun. Mulutnya seakan lemas dan tak bisa dipaksa membalas pertanyaan Kyuhyun. Kepalanya pun ia tundukan menyembunyikan wajahnya yang memanas dan berubah warna menjadi merahm, darah seakan mengumpul di bagian kepalanya.

“Na ya? Boleh ku panggil seperti itu? Agar terlihat lebih akrab saja.” Pinta Kyuhyun.

“Tentu saja.” Jawab Yoona, suaranya bergetar perasaan malu dan kaget dicampur menjadi satu layaknya salad.

Tangan Kyuhyun tiba tiba saja merangkul pundak kecil Yoona. “Na ya~, mohon bantuannya. Kita mulai besok pulang sekolah ya!” bisik Kyuhyun di telinga Yoona. Darah seakan naik ke bagian atas wajah Yoona. Ia semakin tak bisa menaikan kepalanya dan menatap mata Kyuhyun.

“Kyuhyun ah!!!”

Sebuah suara imut seorang Gadis terdenar nyaring di telinga Yoona dan Kyuhyun. Seketika mata mereka mengarah ke pusat suara yang berada diujung lorong yang sudah mulai gelap. Hyoyeon, gadis tercantik di sekolah, prestasinya tak begitu buruk tapi kepandaianya membuat mata laki- laki luluh terhadap kecantikannya selalu diatas garis normal. Ia dekat dengan siapa saja dekat apa lagi dengan makhluk yang bernama ‘laki-laki’.

“Oh! Yeon ah~ annyeong!” Kyuhyun melambaikan tangannya dengan wajah girang. “Na ya~ sepertinya aku harus duluan. Sampai ketemu besok ya~”

Tangan yang semula merangkul pundak kecil gadis bernama Yoona kembali terlepas. Rasa kecewa dan sedih seakan menyelimuti Yoona. Kecewa karena Kyuhyun harus pergi dengan gadis lain dan sedih karena pundaknya kehilangan tangan favoritenya.

“Na ya~ Annyeong!” Segera Tubuh Kyuhyun meninggalkan tubuh Yoona yang masih terdiam ditempat, tak bergerak 1 milimeterpun. Tak disadarinya tubuh Kyuhyun sudah menghilang dari titik jauh pandangan matanya.

‘Na ya~’ Ia memanggilku.

“Yoona!!!!!!” teriak seorang laki-laki yang selalu menemaninya selama ia duduk di bangku SMA. Laki- laki itu langsung menghampiri Yoona yang kembali asik dengan buku fiksi tebalnya. Donghae, begitu panggilannya. Sahabat Yoona yang paling mengerti dirinya.

Ia mengambil posisi tepat didepan Yoona sambil melepas kacamata yang ia kenakan dan membuka kancing teratas bajunya. Sedetik, Yoona terkesima dengan pemandangan yang jarang-jarang ia lihat. Setelah sekian lama Donghae menjadi temannya, ini pertama kalinya ia melihat Donghae se keren dan setampan itu. Kesan cool seakan muncul dari diirinya.

“Dengar, kau menerima tawaran Kim Saem untuk mengajar Kyuhyun?” Tanya Donghae dengan nada mengintimidaasi.

Dengan ragu Yoona mengangguk. Sesaat kemudian Donghae langsung membuang wajahnya ke arah yang membelakangi wajah Yoona. Ia terlihat kesal dengan apa yang dijawab oleh Yoona.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku. Sesuatu yang seharusnya keluar, tetapi tertahan. Aku tak tau kenapa mulutku ini tak mau mengucapkan 3 kata yang seharusnya tak memakan waktu lebih dari 1 menit untuk mengatakannya. Didalam dada ini, seakan ada 1000 prajurit menjerit dan berjuang untuk keluar, sakit jika dipendam dan salah jika dikeluarkan. Aku tau kita hanya teman tapi apa boleh aku memberi perasaan yang lebih untuk mu Im Yoona?

“Donghae ya~ kau marah padaku?” Tanya Yoona.

Yoona menyadari bahwa sahabatnya itu kesal dengannya, tepatnya keputusan yang ia buat. Apa yang Yoona mampu lakukan sekarang, Kim Saem adalah orang yang ia hormati,ia jadikan panutan selama berada disekolah.

“Aku hanya ingin membantunya, untuk mendapatkan nilai bagus disatu mata pelajaran. Ya setidaknya angka 70 ada ditangannya. Lagi pula untuk apa kau marah? Aku hanya membatunya!” Yoona mulai frustasi dengan temannya yang terus sada mendiamkannya, mengunci mulutnya agar taka da rangkaian huruf yang membentuk kata kata keluar dari mulutnya.

Tubuh Donghae yang semula berjalan di lorong sekolah berhenti. Ia membalikan tubuhnya hingga bertatapan langsung dengan Yoona. Jantungnya berdebar tak menentu, tentu detaknya semakin kencang. Sebagai seorang laki- laki taka da salahnya bukan untuk bersikap cool didepan seorang wanita. Donghae bersikap tenang dan dingin didepan Yoona walaupun didalamnya ada sebuah konser yang terus mengencangkan volume bas dan drumnya. Detak Jantungnya semakin besar saat mendapatkan titik dimata Yoona, mata favoritenya.

“Im Yoona, aku tidak marah dengan mu. Aku hanya kecewa pada keputusan mu. Dengar, aku sudah tak peduli kau mau membantunya atau tidak itu bukan urusanku. Aku ingin ke perpustakaan mohon jangan ikuti aku dan jangan berisik.” Balas Donghae ketus.

Bagai di tembak panah dari langit. Yoona tak bisa lagi bergerak. Bergerak saja sudah tak bisa bagaimana mau membalas perkataan Donghae. Sekali lagi, ia kehilangan temannya. Teman yang ia anggap sangat baik dan mengerti dirinya sekarang ia berbalik arah meninggalkan dan tak lagi peduli dengannya. Kenyataan yang pahit tapi mau tak mau harus ia terima.

“Oi! Na Ya~”

Suara itu terdengar nyaring didekat telinga Yoona. Dan saat ia membalikan kepanya kea rah datangnya suara itu, Ia mendapati seorang namja berpakaian acak adul dengan baju sudah keluar dari dalam celana. Rambutnya yang seperti anjing pudel sudah tak karuan lagi.

“Kau kemana saja sih? Aku sudha menunggu dikelas selama 15 menit tapi kau tak datang” keluh laki laki itu.

Tak mendubris ucapan laki laki yang memanggilnya, melupakan siapa laki laki itu, Yoona mengeluarkan tetesan air dari matanya. Laki laki itu bingung seklaigus kaget melihat aktivitas yang Yoona lakukan saat ini.

“Hey! Kau kenapa? Aish aku tak memarahimu! Uljimma!” ucap laki laki itu.

“Kyuhyun..” laki laki itu Kyuhyun. Orang yang ia sukai dan kagumi. Laki laki yang sekarang menjadi anak didiknya demi mendapatkan nilai baik.

Tangis Yoona semakin menjadi jadi. Mau tak mau Kyuhyun langsung memeluk Yoona dna meminjamkan dadanya sebagai tempat Yoona bersandar, menuangkan semua tangis dan kesedihannya. “Jangan menangis, kalau ada masalah kau bisa ceritakan pada ku. Aku bisa membantumu.” Bisik Kyuhyun ditengah tengah pelukan.

“Donghae sekarang membenciku. Aku harus bagaimana? Ia satu satunya sahabatku.” Adu Yoona.

Tangan Kyuhyun mulai bermain dan beraktivitas, lihai tangannya sudah mengelus lembut rambut Yoona. “Kalau ia benar benar teman mu, ia tak akan pernah membencimu. Mungkin ia kesal tapi ia tak akan membencimu. Tak ada teman yang akan membenci temannya sendiri.”

“Tapi ia membenci ku sekarang.”

Bingkai yang kosong tanpa lukisan atau foto akan dihargai mahal bagi pembeli yang akan membelinya. Bingkai kosong itu akan terasa kosong dan hampa. Hati, jantung dan paru paru seakan tak berfungsi lagi saat orang yang paling berarti pergi. Otak tak snaggup lagi berpikir secara normal dan mata tak bisa berhenti menangis. Bingkai itu tak bisa mengeluarkan airmata, melakukan halbodoh ataupun bernafas, ia benda mati. Beruntung manusia bisa merasakan semua yang selayaknya orang sedih rasakan.

Didalam kelas yang ditrangi oleh lampu yang bersinar terang tepat berada dibagian depan dan belakang. Kyuhyun dan Yoona duduk terdiam disudut ruang kelas yang sepi. Buku matematika dan alat tulit terhidang bebas di meja tapi taka da satupun yang disentuh oleh mereka. Yoona yang semula ingin mengajari Kyuhyun sekarang hanya bisa diam memandangi pemandangan dijendela.

“Jadi dia membencimu Karena kau menerima tawaran untuk mengajariku?” Tanya Kyuhyun yang memecah keheningan yang terjadi diantara mereka berdua.

Yoona mengangguk membenarkan setiap ucapan yang dikeluarkan oleh mulut Kyuhyun. Raut wajahnya sayu seperti tubuh ditinggal oleh jiwanya terbang entah kemana.

“Dia itu konyol. Aku hanya ingin kau ajari bukan merebutmu dari dia. Lagi pula untuk apa dia marah? Memangnya kalian berdua pacaran?” Tanya Kyuhyun.

Yoona memandang Kyuhyun, kata kata Kyuhyun seakan mengena diotak Yoona. Lamunannya seakan behenti, kembali ke realita yang ia hadapi sekarang. Otaknya berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Kyuhyun. ‘Pacar’ sebuah kata yang tak pernah ada dalam kamus persahabatannya dengan Donghae.

“Tapi kalau aku jadi Donghae, aku juga pasti marah denganmu..” lanjut Kyuhyun dengan suara kecil namun masih dapat didengar oleh Yoona.

“Eh.. Kenapa?” Tanya Yoona bingung.

Tangan Kyuhyun langsung berada didepan mulutnya. Wajahnya memerah, merah seperti buah apel. Nampaknya ia malu. “Kau cantik. Mana ada laki laki yang mau melepaskan wanita cantik sepertimu.” Jawab Kyuhyun.

Keadaan menjadi hening. Nama Donghae langsung menghilang dari peredaran topik pembicaraan Kyuhyun dan Yoona. Mereka berdua membisu tersipu malu. “Yoona ya~ aku hanya mau memastikan kau belum berpacaran dengan siapapun kan?” Tanya Kyuhyun.

Dan jawabannya adalah gelengan pelan dari kepala Yoona. Kepala Yoona tertunduk. Malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam.

Gunung api itu akan meletus jika sampai pada puncak erupsinya. Awan hitam ataupun magma akan keluar dari dalam diri gunung itu. Perasaan ini keluar, meluap luap dan sudah tak bisa lagi ku tahan. 3 kata yang harusnya mudah ku ucapkan sekarang menjadi susah. Lee Donghae jangan bertindak bodoh. Ia bukan milik mu. Hatinya sudah terkunci pada satu pria, Cho Kyuhyun. Berhentilah berharap.

TBC

12 thoughts on “Two is Better Than One [ Part 1 ]

  1. Imhaena says:

    Daebakk chingu!!!
    tapi kok Yoona eonnie sukanya sama Kyu oppa sih? knpa bukan Hwae Oppa aja? hehhe 😀
    tapi aku suka sama ff nya chingu.. lanjutin yaa 😀 jangan lama-lama .. hwaitiing

  2. inasaragi says:

    pengennya jd yoonhae. Kyu ama seo aja.
    Tp kalo jd nya kyuna gk papalah terserah author ff nya seru soalnya 😀 lanjut author!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s