Lens [ Part 9 ]

PERHATIAN!! Lens Part 9 di blog ini, dilengkapi dengan lagu yang sedikit – sedikit menyerempet cerita. Agak ga nyambung juga sih lagunya. Bagi yang mau memainkan lagu itu sambil membaca silahkan dan bagi yang tidak juga tidak apa apa. Terimakasih~

Matanya sama sekali tak bisa lepas dari pria yang duduk disampingnya. Semenjak yeoja bernama Kim Hyoyeon itu datang, jantungnya terus berpacu seperti sedang mengayuh sepeda menaiki sebuah tanjakan yang curam. Jessica, sedikit tidak menyangka bahwa sang saingan dalam hal fashion adalah mantan kekasih dari pria yang telah membuatnya jatuh hati, membuatnya terbang melayang diatas awan lembut.

Dengan mata tajam yang ia miliki sejak lahir, ia memperhatikan setiap tingkah dan gerak-gerik pria itu. Ia berusaha mengatur emosinya agar ia tetap fokus pada apa yang ia lakukan sekarang.

Kyuhyun, orang yang duduk di hadapan Jessica sadar pandangan Jessica sudah berganti arah dari yang semula menatap kertas rancangannya, menjadi menatap Eunhyuk yang duduk disamping Hyoyeon. Raut wajahnya juga sudah berubah seperti marah yang ditahan. Ia berusaha mengabaikannya dan tetap fokus dengan persiapan pernikahannya.

Apa yang Eunhyuk lakukan saat ini hanyalah diam. Ia sama sekali tak ingin membuat Jessica yang terus memandanginya. Disisi lain ia tak ingin dikatakan sombong jika tak berbicara pada Hyoyeon. Jadi sebaiknya ia hanya diam, mematung dan tak melakukan apa-apa. Otaknya berusaha fokus pada sketsa yang sudah ia buat dengan susah payah. Ia harus tenang dan menjelaskan dengan jelas. Walau hanya sektsa gambarnya sudah cukup jelas.

Semenjak Hyoyeon masuk, semua masukan yang Jessica ucapkan seakan diabaikan oleh orang-orang yang ada di dalam kecuali Kyuhyun dan Euhyuk sedangkan Yoona memilih untuk diam. Setiap mengeluarkan pendapat, Hyoyeon menolak semua yang Jessica ucapkan. Hyoyeon nampak mendominasi baju yang akan dipakai untuk Yoona. Rasa kesal Jessica sudah mencapai batas maksimal, ini pertama kalinya ia tak dianggap oleh orang. Jika ia dapat pergi dari ruangan itu sekarang ia pasti akan pergi.

“Baiklah, Hyoyeon-ssi senang bekerja sama denganmu. Apa yang kau utarakan benar-benar indah.” ucap Shinyoon sambil tersenyum memuji Hyoyeon.

“Ehmm, tapi rancangan milik Jessica lebih simple. Aku lebih suka rancangan Jessica.” tandas Kyuhyun karena jujur rancangan Hyoyeon terkesan agak norak, gaun yang dirancang Hyoyeon memang akan menarik banyak perhatian orang. Tapi menurut Kyuhyun bukan itu caranya.

“Kyuhyun ah, inikan pernikahan, sebaiknya digelar dengan spektakuler. Betul tidak Shinyoon-ssi?” tanya Hyunil.

“Benar, sudah kita pakai rancangan Jessica yang sudah ditambahkan oleh Hyoyeon.” Shinyoon langsung menyingkirkan gambar Jessica yang masih belum terkena sentuhan tangan Hyoyeon.

Saat melihat tangan Shinyoon menyingkirkan gambar rancangannya, mata Jessica terlihat sangat kecewa. Mulutnya menutup rapat, tak sanggup berkata kata lagi. Apa yang sudah ia kerjakan seperti tak berharga dimata orang-orang di dalam ruang rapat itu. Matanya berusaha menahan air mata yang sudah ingin keluar. Ia sadar jika ia menangis sekarang, ia akan terlihat kalah dengan saingannya tersebut, apa lagi make upnya dapat luntur jika ia menangis.

“Baiklah, bagaimana kalau aku dan Hyoyeon membuat masing-masing rancangan kami sendiri. Biar Yoona dan Kyuhyun yang menentukan mana yang akan mereka kenakan.” ucap Jessica dengan nada percaya diri. “Lagi pula ini pernikahan mereka, seharusnya mereka yang menentukan apa yang akan mereka kenakan untuk pernikahan mereka.” lanjut Jessica dengan nada yang sangat tinggi.

“Baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan usul mu.” ucap Shinyoon.

Jessica pun mengemasi barang-barangnya. Spidol dan beberapa pensil warna serta sebuah buku gambar yang ada diatas meja langsung ia masukkan ke dalam tas. Kemudian ia beranjak dari duduknya mengambil anjing kecil yang ia biarkan berkeliaran di dalam ruang rapat tersebut. Ia pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut tanpa berpamitan.

Pandangan yang semula mengarah pada Jessica langsung beralih melihat Eunhyuk. Mata mereka seakan meminta penjelasan sketsa tempat yang akan dijadikan lokasi pernikahan.

“Maaf, aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Nanti malam aku dan Kyuhyun sudah membuat janji dengan pemilik tempat tersebut, mungkin akan ada sedikit perbaikan.” ucap Eunhyuk sambil menginjak kaki Kyuhyun seakan memberikan kode pada Kyuhyun.

Ne. Mungkin besok baru bisa dijelaskan.” lanjut Kyuhyun.

“Ah, baiklah kalau begitu, aku percaya padamu.” balas Hyunil dan Shinyoon.

“Kalau begitu, aku ada urusan. Permisi..”

Secepat kilat yang menyambar di langit saat hujan, Eunhyuk berlari mengejar Jessica tanpa memeriksa barang-barangnya. Ia hanya membawa barang barang yang dapat ia raih saat ini. Handphonenya tertinggal pun ia tak menyadarinya. Dengan hati cemas dan berharap, Eunhyuk terus berlari menuju lift yang merupakan jalan satu – satunya jalan keluar selain jendela.

“Jessica Jung!” panggilnya untuk mencegahnya untuk turun.

Terlambat, pintu lift itu tertutup tepat saat Eunhyuk sampai didepannya. Ia mengacak acak rambutnya, mengutuki dirinya sendiri. Ia langsung menekan panah turun pada tombol yang tersedia di dinding. Dengan perasaan gelisah tingkat tinggi, ia berjalan kesana kemari sampai ia merasa pusing sendiri. Ia akui ia nampak seperti orang gila atau orang bodoh saat ini.

Saat pintu lift terbuka dengan cepat ia masuk kedalam. Ia menekan huruf L yang merupakan lobby hotel. Dan saat pintu mau tertutup, pintu tersebut terbuka kembali. Seorang yeoja muncul dihadapan Eunhyuk dengan agak tergesa-gesa. Nafasnya tersengal-sengal sambil menunjukkan sebuah benda berharga ditangan kanannya. Ia pun masuk ke dalam lift yang sama dengan Eunhyuk.

“Handphone mu.” ucap yeoja itu.

“Ah, gomawo.” balas Eunhyuk.

“Hey, apa yeoja itu pacar mu?” tanya yeoja itu lagi.

“Jessica? Ah dia belum…” Eunhyuk terhenti dan sedikit memikirkan jawaban yang ia katakan. Ia bahkan tak tahu status hubungannya dengan Jessica saat ini.

Yeoja itu mengangguk paham dan mulai melanjutkan perkataannya lagi. “Kalau begitu…, apa kita masih bisa kembali seperti dulu?” tanya yeoja itu yang merupakan mantan kekasih Eunhyuk.

“Dengar, kau yang meninggalkanku untuk mimpi-mimpimu itu. Memberi kabar saja tidak pernah. Pesan pertama dan terakhir yang kuterima dari mu adalah penyataan putus sepihak.” ucap Eunhyuk setelah menarik nafas panjang.

“Itu.. aku minta maaf.. Bukan maksudku melupakanmu atau mencampakkanmu, tapi aku tak bisa berhubungan jarak jauh seperti itu. Kau di Korea sedang aku di Paris.” jelas Hyoyeon dengan wajah memelas.

Eunhyuk langsung melihat Hyoyeon dengan tatapan yang sangat tajam atau lebih tepatnya disebut kejam. “Aku tak bisa kembali denganmu. Perasaan yang dulu pernah ada, sekarang sudah hilang. Mian, tapi aku harus mengejar gadis itu.”

Setelah perkataannya selesai, terbukalah pintu lift. Ia segera keluar dan berlari mencari Jessica.

Kali ini, Eunhyuk berhasil membuat Hyoyeon mematung tak bergerak di dalam lift seorang diri. Tapi setelah sadar, ia berjalan keluar mencari keberadaan Eunhyuk di lobby. Perasaannya pada Eunhyuk sama sekali belum hilang. Dari lubuk hati paling dalam, ia masih mencintai Eunhyuk sama seperti dahulu kala. Dirinya sama sekali tak menyangka bahwa Eunhyuk sudah melupakan dirinya, bahkan menghilangkan perasaan cinta terhadapnya.

Perkataan yang cukup tajam untuk menusuk hati dari bibir Eunhyuk, menjadi sebuah pembelajaran bagi Hyoyeon. Ia tak ingin mengulangi kesalahannya lagi, dan ia ingin Eunhyuk dapat kembali ke pelukannya bukan ke pelukan Jessica sang saingannya. Hyoyeon mencari dan mencari, hingga akhirnya ia menemukan Eunhyuk.

Ia sedang berada diluar lobby. Sedikit membungkuk agar dapat melihat ke dalam mobil. Tangannya sibuk memukul-mukul kaca mobil itu dengan pelan. Eunhyuk berusaha mencari sedikit perhatian orang di dalamnya, yang tak lain adalah Jessica. Hyoyeon tak menyangka, dulu dirinyalah yang ada diposisi Jessica. Eunhyuk selalu mengejarnya, dan sekarang posisinya direbut oleh Jessica.

“Jessica Jung, dengarkan aku dulu!” ucap Eunhyuk sedikit berteriak.

Jessica terus memandang jalanan yang ada didepannya. Walau ia sadar Eunhyuk ada diluar mobilnya dengan tangan memukul-mukul kaca mobilnya, ia tetap memandang lurus ke depan. Berusaha tidak memperdulikan Eunhyuk. Mobil itupun mulai melaju, walau tidak secepat mobil sport tapi kecepatannya sudah cukup untuk menghindari Eunhyuk.

“Kau yang memilih untuk diam Lee Hyukjae.” desis Jessica.

Hyoyeon berjalan mendekati Eunhyuk yang masih dalam keadaan sangat kacau. Ia memegang pundaknya seakan ingin menenangkannya. “Sudahlah, dia sudah pergi. Ayo masuk, tenangkan dirimu baru pikirkan langkah selanjutnya.” usul Hyoyeon sambil menarik Eunhyuk masuk kembali dan duduk didalam restaurant yang berada di lobby.

Ditemani secangkir kopi panas, Eunhyuk duduk memandang sendok yang ia gunakan untuk mengaduk susu pada kopinya. Pandangannya amat kosong sehingga Hyoyeon tak sanggup melihatnya. “Aku bodoh, seharusnya aku menceritakan masa lalu ku padanya dan seharusnya aku..”

Belum sempat Eunhyuk menyelesaikan kalimatnya, Hyoyeon sudah memotongnya. “Kau tak perlu menyesali apa yang tak kau lakukan sehingga ia marah seperti itu. Seharusnya ia paham, kau sudah cukup tua dan pasti kau punya mantan kekasih. Aku percaya dia juga pasti punya….,” ucap Hyoyeon.

“Ini berbeda, dia tipe yeoja yang keras kepala. Jika seseorang sudah dicap jelek dimatanya maka selamanya orang itu akan selamanya berpredikat jelek dimatanya. Dan aku berusaha cap jelek tersebut tak pernah menempel pada tubuhku.” balas Eunhyuk dengan tangan mengaduk-aduk kopi yang sebenarnya sudah tercampur sempurna dengan susu yang ia tuang ke dalam cangkir kopinya tersebut.

Mendengar penjelasan Eunhyuk akan gadis tersebut. Hyoyeon sama sekali tak bisa menjawab apa pun. Ia bahkan lupa cara memompa jantungnya sendiri. Eunhyuk terdengar benar-benar sudah tersihir oleh gadis tersebut. Akan sangat sulit bagi dirinya untuk melepaskan Eunhyuk dari sihir yang membuatnya tergila-gila pada Jessica. Mungkin tidak akan bisa. Walau begitu, Hyoyeon tak menyerah begitu saja. Ia memikirkan cara lain untuk mengambil hati Eunhyuk kembali. Jika cara pertama gagal maka ada cara ke dua.

“Bagaimana kalau ku bantu kau menjelaskan semuanya pada Jessica?” tanya Hyoyeon.

“Kau benar mau menjelaskan semuanya pada Jessica? Baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu.” Mimik wajah Eunhyuk yang semula khawatir, langsung berubah lebih rileks. Sekarang kopi yang dari tadi ia aduk- aduk akhirnya mulai ia minum dengan perlahan karena kopi itu masih cukup hangat.

Dalam sebuah rumah yang sangat besar. Perabotan cukup mewah dengan harga fantastis, dan penataan ruang yang sangat indah membuat rumah tersebut terlihat lebih luas. Gadis yang baru saja sampai di rumah tersebut, melepaskan anjing kesayangannya, dan anjing itu langsung masuk melalui pintu anjing yang berada disamping rumah tersebut. Gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah tersbeut. Menemukan tempat yang cukup tepat untuk mendaratkan semua barang-barangnya, satu persatu barang mewah yang ia pakai langsung ia lemparkan ke sebuah sofa besar.

“Dasar laki-laki bodoh!” decaknya kesal.

Ia mengeluarkan handphone miliknya, menekan beberapa angka didalam screen handphonenya. Dirasa nomer itu sudah benar ia langsung menekan tombol hijau, lalu mendekatkan handphonenya di telinganya.

Yoboseyo, Donghae ssi bisakah kita bertemu?” tanya gadis itu.

Donghae yang mula masih duduk dibangkunya, tiba-tiba saja membetulkan posisi duduknya. Ini sudah lama sejak terakhir kalinya gadis yang menghubunginya meminta bertemu. Ia yakin gadis itu sedang ada masalah, gadis bernama Jessica itu. Ia tak akan menelepon Donghae jika ia sedang tak ada masalah. Jika ia menelepon tandanya Jessica sedang ada masalah.

Kau dimana?” tanya Donghae di ujung telefon.

“Di rumah. Baiklah, nanti malam kita bertemu di Lens saja, sekitar jam 7.”

“Tok tok tok.”

Pintu ruangan tersebut terbuka dan seorang gadis bertubuh mungil masuk dengan membawa secangkir kopi. Gadis itu masuk juga dengan membawa sebuah beberapa kertas di tangannya. Donghae yang masih dalam keadaan menelepon, langsung memutuskan sambungan telefonnya secara sepihak. Ia langsung membantu gadis yang masuk ke dalam ruangannya. Ia mengambil kertas yang membuat dirinya kesusahan untuk menaruh cangkir kopi itu.

“Biar kubantu.”

“Ah, gomawo. Donghae nim, bagaimana presentasimu?” tanya Taeyeon, gadis yang masuk ke dalam ruangan Donghae.

“Lancar.” jawab Donghae singkat.

Sedikit tak bisa dipercaya bahawa Donghae kembali dingin padanya. Donghae yang bersamanya tadi pagi di apartemennya sudah tak ada lagi. Ia kembali menjadi Donghae yang seperti dahulu. Walau agak disedikit disangkan oleh Taeyeon, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tak bisa mengubah Donghae kembali.

Gomawo.” ucap Donghae tiba-tiba dan kemudian meminum kopi yang dibawakan oleh Taeyeon. “Untuk kopi ini dan laporan yang kau buatkan. Mungkin sebentar lagi gajiku akan naik karena laporanmu.” lanjut Donghae dengan senyum lebar diwajahnya. Hyei siapa yang tak senang jika gajinya naik.

“Cih, seharusnya yang gajinya naik itu aku bukan kau!” gerutu Taeyeon, orang yang membuatkan presentasi dan laporan yang seharusnya dikerjakan Donghae.

Arasseo, aku sudah bilang pada sajangnim bahwa kau yang mengerjakannya bukan aku. Jadi yang pantas mendapatkan tambahan gaji itu kau bukan aku. Tapi beliau mengatakan kau dan aku bekerjasama dengan baik, kau membuatnya dengan menarik sedang aku menjelaskannya dengan sangat jelas.” jelas Donghae panjang lebar.

“Itu artinya, kita berdua naik gaji?” tanya Taeyeon dengan senyuman bahagia.

“Bingo! Sudah cukup senang-senangnya, sebaiknya kau kembali bekerja atau gajimu ku kembalikan pada angka awal.” ancam Donghae dengan wajah super menyebalkan sehingga Taeyeon ingin mencubitinya sampai Donghae pingsan.

Kedua pipi Taeyeon pun perlahan mengembung berisi angin. Ia sangat kesal pada atasannya saat ini. Donghae seperti tak bisa membiarkan dirinya bersenang-senang sebentar. Dengan perasaan kesal pada Donghae, Taeyeon pun berjalan keluar meninggalkan Donghae di dalam ruangannya sendirian. Donghae dari tempat duduknya hanya bisa tertawa melihat kelakuan sekretaris mungilnya tersebut. Tapi kemudian ia langsung menelefon kembali Jessica.

Mian, tadi ada orang masuk ke ruanganku. Gwaenchana?” tanya Donghae

“Ah, baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu disini.” ucap Donghae.

Setelah keluar dari ruangan Donghae, Taeyeon kembali duduk dengan perasaan bahagia. Selain gajinya dinaikkan ia merasa bahagia melihat Donghae yang benar-benar berubah. Donghae tidak lagi dingin dan menjaga image di depannya. Tapi di dalam hatinya, ia masih merasa ragu dengan pernyataan Donghae yang mengajaknya menikah secara tiba-tiba. Rasanya tak pantas jika ia yang menjadi istri dari Lee Donghae yang sudah terkenal di kalangan pengusaha-pengusaha besar di Korea sebagai kaki tangan atau anak emas dari Im Shinyoon, pemilik hotel ternama di Korea, Lens.

Berjam-jam duduk di kursinya tanpa melakukan apapun membuat Taeyeon merasa bosan. Pekerjaannya sudah selesai beberapa jam yang lalu. Ia pun memutuskan untuk turun ke lobby untuk membeli makanan, tanpa sepengetahuan Donghae. Diam-diam ia menuju lift dan langsung turun ke lobby demi memuaskan perutnya yang sudah meminta diisi.

“ Satu red velvet dan ice tea.” ucap Taeyeon pada pelayan yang melayani dirinya di meja tersebut.

Perasaannya tak enak tiba-tiba. Saat ia sadari, para pengunjung yang datang, makan bersama pasangan mereka. Naasnya Taeyeon harus makan sendiri, tanpa ada yang menemaninya. Dan entah mengapa ia berharap Donghaelah yang duduk di depannya menemaninya makan sekarang. Sekarang ia hanya bisa memangku wajahnya dengan salah satu tangannya dan mengarahkan pandangannya kea rah lift yang berada disebrangnya. Berharap sang atasan mencarinya karena ia pergi tanpa berpamitan.

“Haish sudah jangan banyak berharap.” ucap Taeyeon pada dirinya sendiri.

Setelah beberap akali pintu lift itu terbuka, tapi taka da batang hidung Donghae yang muncul. Hingga akhirnya wajah Donghae yang terlihat terburu – buru muncul. Taeyeon pun langsung berdiri tegap memandang Donghae. Tapi ia kembali duduk menyadari arah Donghae berjalan adalah keluar.

“Jangan-jangan ia mengiraku pergi keluar. Aku harus mengejarnya.” Taeyeon pun langsung meninggalkan sejumlah uang untuk membayar cake dan ice tea yang ia pesan. Dan kemudian ia berlari mengejar Donghae. Pelayan cafe tersebuh hanya bisa menghembuskan nafasnya melihat Taeyeon berlari meninggalkan makanan dan minuman yang belum sempat ia sentuh.

Dengan menggunakan taxi Taeyeon mengikuti mobil Donghae dari belakang. Perasaannya makin tak enak saat Donghae mulai memasuki kompleks perumahan mewah. Dan ia menghentikan mobilnya pada sebuah rumah yang terlihat lebih mewah dibandingkan rumah-rumah yang berada disana. Saat Donghae turun, wajahnya terlihat khawatir. Taeyeon yang sudah terlanjur penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Donghae, membayar taxi yang ia gunakan dan turun mengikuti Donghae secara diam-diam.

Rumah tersebut memiliki kaca yang sukup besar. Kaca itu memperlihatkan bagian ruang tengah rumah tersebut. Disanalah Taeyeon berharap Donghae menampakan dirinya. Dan benar saja Donghae bersama seorang yeoja duduk di sofa yang terlihat nyaman untuk diduduki. Tangan Donghae berada di kepala gadis itu. Sedang gadis itu menjadikan pundak Donghae sebagai sandaran. Donghae dengan hati hati mengelus – elus kepada gadis itu.

Dan pada saat gadis itu mengangkat kepalanya, Taeyeon nyaris ketahuan. Ia langsung bersembunyi di balik pohon yang cukup besar yang tumbuh didekat rumah itu.

“Ah” Jessica menghapus air matanya.

“Kenapa?”

“Sepertinya ada orang yang memperhatikan kita dari luar. Lebih baik kututup tirai ini dulu.” Jessica berdiri lalu menutup korden panjang dan lebar yang dirancang khusus untuk kaca yang besar itu.

Setelah menutup tirai tersebut, Jessica kembali duduk disamping Donghae dna memulai bertanya tanya pada Donghae. Menurutnya menanyakan hal mengenai masa lalu Eunhyuk pada Donghae adalah hal yang tepat. Donghae dan Eunhyuk berteman lama mungkin Donghae tahu mengenai Hyoyeon.

“Kau tahu Hyoyeon itu?” tanya Jessica.

“Oo.., dia mantan kekasih Eunhyuk.” balas Donghae.

“Ah, apa mereka berdua saling mencintai dulu?”

“Menurutku, Eunhyuk melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan padamu. Tapi tak sampai membawa Hyoyeon ke kamar hotel dan melakukan hal yang tidak-tidak. Hanya sekedar anak SMA yang mengejar cintanya.” Donghae memandang langit-langit rumah Jessica mengingat-ingat apa yang Eunhyuk lakukan dahulu.

“Apa Eunhyuk masih menyukai Hyoyeon?”

“Jika ia masih menyukai Hyoyeon, sama saja ia bunuh diri. Dengar, saat ini 100% hatinya sekarang adalah milikmu. Jangan sia-siakan dirinya. Mencari laki-laki yang akan melakukan apa pun untuk mu itu susah. Aku berani taruhan ia mau mempertaruhkan nyawanya untuk mu. Eunhyuk itu orang baik.” Kata Donghae. “Masih ad ayang mau kau tanyakan?”

Aniyo, sudah cukup. Oppa gomawo..” balas Jessica.

“Hmm.. kalau sudah jelas, aku kembali ke Lens dulu. Jika ada apa-apa hubungi aku lagi.” Donghae pun berjalan menuju pintu keluar.

Pada saat Donghae membuka pintu rumah Jessica, Taeyeon sudah meninggalkan pohon tempatnya bersembunyi. Dengan menggunakan kakinya ia berjalan tanpa arah dan tujuan. Berpuluh-puluh pertanyaan akan Donghae muncul perlahan di dalam otaknya. Ia merasa bodoh sudah jatuh cinta pada Donghae. Harusnya ia sadar betul ia sama sekali tak pantas untuk Donghae.

Apa artinya selama ini Donghae berbuat baik padanya jika ia hanya akan mempermainkan perasaannya. Bukan hanya berbuat baik bahkan ia melamarnya. Namun sekarang rasanya sudah jelas, bahwa Donghae hanya mempermainkannya. Rasanya mustahil seorang kaki tangan atau anak emas pemilik Lens mencintainya, bahkan sampai melamarnya. Matanya telah melihat segalanya.

Tidak seharusnya ia jatuh pada pesona Donghae. Tidak seharusnya ia menyerahkan hatinya pada pria itu. Tidak seharusnya ia mempercayai segala kata yang keluar dari bibir pria itu ataupun sikap manisnya karena semua itu hanyalah kebohongan. Pada akhirnya ia hanya akan merasakan sesak di dalam dada, rasa pedih yang menyanyat hati setiap kali melihat wajah pria itu atau mengingat segala hal yang berhubungan dengannya, dan hal itu sangat menyakitkan untuk dilalui… Hanya rasa pahit yang akan tersisa, menggantikan kenangan manis yang ada.

Ia hanya akan membuang air matanya dengan percuma karena pria itu. Menangis sampai kepalanya terasa sakit dan bernafas itu sulit. Merasakan sakit yang menyebar dari hati ke seluruh tubuh. Semua karena seorang pria yang akan ia cap sebagai pria brengsek karena mempermainkan dirinya.

Cara jalannya sama sekali tak bisa dikatakan berjalan dengan normal. Matanya menatap kosong jalan didepannya. Tubuhnya terasa sangat lemas, memegang tasnya pun sulit. Beberapa kali tas di tangannya hampir jatuh. Ia tak peduli berapa mobil membunyikan klaksonnya saat Taeyeon menyebrang tiba-tiba. Mungkin mati lebih baik dibandingkan merasakan perasaan sakit saat ini.

Hujan pun mulai turun dari langit. Langit menangis, sama seperti hatinya yang sedang menangis. Mungkin hanya langit yang tahu perasaannya saat ini. Jika ia menangis sekarang, mungkin saja tak ada orang yang tahu. Air matanya akan mengalir bersama air hujan yang mengenai wajahnya.

TINNN

“Yak! Kau mau mati?” Seorang pria membuka kaca mobilnya dengan emosi, ia hampir saja menabrak Taeyeon. Wajahnya keluar dari dalam mobil tersebut sehingga suaranya terdengar.

Taeyeon tetap berjalan, menyebrangi jalan dua arah yang sangat ramai dengan mobil. Jam pulang kantor, adalah jam paing sibuk bagi jalan-jalan besar di Korea. Banyak mobil-mobil para pegawai dari berbagai macam perusahaan yang melintas. Laki-laki yang hampir menabrak Taeyeon, mulai memperhatikan baik-baik gadis yang hampir saja ia tabrak.

“YAK! Kim Taeyeon!” teriaknya saat berhasil mengenali wajah Taeyeon.

Pria itupun turun dari mobilnya. Ia terlihat tak peduli air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia keluar dan menarik lengan Taeyeon yang masih berada didekat mobilnya. Ia menariknya ke dalam dekapannya.

“Kalau kau mau mati jangan di hadapanku. Jangan menyulitkan diriku untuk menjadi saksi.” ucap pria itu.

Saat mendengar ucapan laki laki itu, Taeyeon mendongakkan kepalanya keatas. Ia memastikan bahwa ia mengenal pria itu.

“Eunhyuk -ssi, huaaa….” Taeyeon pun langsung menumpahkan semua air matanya di dada Eunhyuk yang sudah basah akibat air hujan yang mengguyur deras daerah tempat mereka berdua berada.

Eunhyuk pun membawa Taeyeon ke dalam mobilnya. Ac di mobilnya pun diubah menjadi menjadi heater agar Taeyeon tak merasa kedinginan. Ia biarkan kursi mobil yang dilapisi kulit mahal, basah karena air dari tubuhnya dan Taeyeon. Sambil memperhatikan Taeyeon yang terlihat pucat seperti setelah melihat hantu, Eunhyuk makin khawatir dengan keadaan Taeyeon.

“Kau kenapa?” tanya Eunhyuk sambil mengarahkan mobilnya menuju Lens. Agar Donghae yang mengurusnya.

Molla..” jawab Taeyeon

Sampai didalam Lens dengan memapah Taeyeon kedalam Lobby, Eunhyuk meminta sang receptionist yang juga merupakan teman Taeyeon untuk menelpon Donghae. Eunhyuk langsung membawa Taeyeon ke atas, tapi entah mengapa mata Taeyeon langsung menutup dan tubuhnya menggigil.

“Ya! Jangan pingsan sekarang… tunggu sampai pangeran bodohmu itu muncul.” Eunhyuk terpaksa menggendong Taeyeon ala bride style masuk ke dalam ruangan Donghae yang ternyata tak ada orang sama sekali.

“Kemana namja bodoh itu?” seru Eunhyuk kesal.

Saat melihat tubuh Taeyeon yang menggigil hebat, ia tak memikirkan lagi kemana Donghae pergi. Ia langsung mengambil sebuah kemeja yang diyakini adalah milik Donghae. Eunhyuk perlahan membuka kancing pakaian Taeyeon, berniat untuk menggantikan baju basahnya dengan baju yang kering.

“DAK!” Terdengar suara pintu terbuka.

“YAK!”

“BUK.”

Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Eunhyuk. Donghae masuk dengan wajah yang sangat marah. Wajahnya terlihat 2 kali lebih menyeramkan dari biasanya. Ia benar-benar tak menyangka Eunhyuk sahabatnya mempunyai niat jahat pada Taeyeon. Di matanya, Eunhyuk terlihat mau memperkosa Taeyeon.

“Laki-laki tak tau diri!” teriak Donghae.

“Apa kau bilang? Harusnya aku yang berkata seperti itu. Kau tahu putri yang amat kau cintai itu hampir saja mati tertabrak dan sekarang menggigil kedinginan. Tadinya aku mau menunggu dirimu tapi tubuhnya menggigil hebat apa boleh buat.” jelas Eunhyuk.

“Aish, sudahlah tak ada gunanya aku menjelaskan pada orang yang sedang jatuh cinta.” Eunhyuk pun langsung melempar kemeja Donghae ke arah lantai dengan kesal. Ia berbuat baik malah mendapat tonjokan di wajahnya.

Donghae pun memperhatikan Taeyeon yang benar-benar menggigil. Saat tangannya menyentuh dahi gadis di hadapannya itu, rasa panaslah yang bisa ia rasakan. Tubuh gadis itu dingin karena air masih membasahi tubuh Taeyeon, menggigil seperti sedang kejang. Donghae pun menggantikan Eunhyuk untuk menggantikan pakaian Taeyeon. Perlahan ditahannya tubuh Taeyeon agar berada di posisi duduk. Tanpa memperdulikan badan Taeyeon yang terekspose hampir 100% dimatanya, Donghae langsung menggantikan pakaian Taeyeon dengan kemejanya yang terlihat seperti mini dress ditubuh Taeyeon yang mungil.

Tubuh Taeyeon masih mengigil, panas ditubuhnya belum turun. Tak mungkin Donghae mengangkatnya keluar dari ruangannya dan membawanya pulang ke rumahnya. Ia pun memutuskan membuka sedikit kaca yang ada di ruangannya, membuat angin masuk ke dalam. Ia tahu bahwa sebentar lagi listrik akan dimatikan. Tak ada listrik, tak ada oksigen.

Setelah kaca dibuka, lampu langsung padam. Bukan hanya AC tapi semua benda elektronik yang membutuhkan listrik langsung mati. Udara luar pun masuk kedalam membuat Taeyeon dan Donghae masih bisa menghirup oksigen di dalam ruangan. Beruntung hujan sudah berenti, Donghae tak perlu menyiapkan kain pel untuk mengeringkan lantai yang basah akibat air hujan yang masuk.

“Dingin.”

Donghae pun mendekatkan dirinya pada Taeyeon, memasang posisi yang hanya memakan space kecil. Ia memiringkan badannya dan perlahan memposisikan Taeyeon ada didalam pelukannya. Kata orang, pelukan beberapa orang pria lebih hangat 2 kali lipat dibandingkan seorang wanita. Dan Donghae adalah salah satu pria tersebut. Pelukannya terasa sangat nyaman, hangat dan siapapun yang berada didalam pelukannya akan merasakaan rasa aman. Kau tak perlu khawatir akan monster dibawah tempat tidur, Donghae akan siap siaga 24 jam untuk mu. Walaupun ia tertidur tapi instingnya sangat kuat. Beruntung Taeyeon mendapatkan pria seperti Donghae.

“Masih dingin?” tanya Donghae

Taeyeon menganggukan kepalanya, seakan mendengar pertanyaan Donghae. Matanya tertutup ia sama sekali tak kuat membuka matanya. Tubuhnya yang mungil itu tak menutup kemungkinan ia sudah terserang penyakit. Dalam keadaan badan yang kurang fit, terguyur hujan yang cukup lebat, dan sport jantung karena banyak mobil yang mengeluarkan suara klakson tepat didepannya, apa kurang alasan badannya untuk mengeluh?

Dengan hati-hati dan perlahan Donghae mendekatkan dirinya pada Taeyeon. Tangannya mengeratkan pelukannya. Hawa hangat dari tubuh Donghae mulai dirasakan oleh Taeyeon. Kaki Taeyeon yang awalnya sangat dingin, perlahan menjadi hangat setelah telapak kakinya mengenai kaki Donghae. Tangannya yang semula dingin seperti es di kutub, menjadi normal kembali terelah terkena hembusan nafas Donghae.

“Kau kemana saja hari ini? Berjanjilah jangan melakukan hal hal yang dapat menyakiti dirimu lagi. Aku tak tau harus berbuat apa jika sudah begini.” ucap Donghae.

Taeyeon masih menganggukan kepala. Kali ini anggukan kepalanya lebih pelan dari sebelumnya. Dan tak lama setelah tubuhnya merasakan kehangatan, ia langsung terlelap dalam tidurnya. Malam ini, ia seperti menemukan sebuah tempat yang paling nyaman untuk tidur.

Merasakan hembusan nafas Taeyeon yang sudah teratur, Donghae langsung memejamkan matanya perlahan. Ia tau Taeyeon sudah tertidur, hembusan nafas Taeyeon yang mengenai dadanya sangat teratur. Matanya sudah lelah, menatap jalanan yang penuh dengan mobil-mobil, melihat Jessica yang menangis dan ditambah lagi melihat Eunhyuk yang membuka pakaian Taeyeon, walau ia tahu maksud Eunhyuk baik. Perlahan matanya tertutup, mengistirahatkan matanya untuk beberapa jam kedepan. Ia tak mau matanya lelah menatap hari esok.

Sebuah benda buatan manusia terbang diatas langit biru kota Seoul, Korea Selatan. Benda itu perlahan menurunkan roda dan kecepatannya pun berkurang. Benda itu pun mendarat dengan sempurna di Incheon International Airport. Benda tersebut dinamakan manusia dengan pesawat terbang.

Beberapa penumpang pesawat itu keluar dari dalam. Setelah melakukan cap di bagian imigrasi salah seorang penumpang yang merupakan warga Korea langsung mengambil kopernya dan keluar mencari taxi untuk menuju rumah sahabatnya, yang ternyata akan menikah sebentar lagi.

“Kyuhyun ah, aku sudah mendarat. Tunggu aku di rumahmu! Siapkan sarapan yang enak! Aku belum makan sejak pesawatku lepas landas dari America.” jelas penumpang pesawat itu yang ternyata adalah pria dan ia adalah teman dari Kyuhyun.

“Aish kau ini, dengan temanmu saja pelit. Sudah kita lanjutkan di rumahmu saja!” lanjut namja itu. Namja itu bernama Shim Changmin, salah satu dongsaeng Kyuhyun yang paling menurut dan manja terhadap Kyuhyun.

Changmin datang bukan karena ia merasa rindu akan tanah airnya, tapi ia datang setelah mendapat kabar bahwa Cho Kyuhyun sang sahabat akan menikah dengan salah seorang anak pemilik hotel ternama di dunia international, Lens. Ia ingin menjadi teman yang baik, maka ia datang ke Korea untuk menyaksikan sang sahabat mengucapkan sumpah pernikahan. Bukan hanya itu, ia juga ingin mendapatkan makanan gratis, setiap ada perkawinan maka disana akan ada makanan gratis. Dan siapa tau bouquet bunga pengantin wanita jatuh di tangannya.

Taxi yang dinaiki oleh Changmin sampai didepan kediaman Cho. Rumah itu terlihat sibuk dari luar. Saat turun dari taxi, ia disuguhkan pertengkaran kakak dan adik seperti Tom and Jerry. Kyuhyun berlari-lari dikejar oleh Ahra yang membawa wajan ditangannya. Pemandangan yang dulu sering ia lihat akhirnya ia lihat kembali.

Noona! Aku hanya bercanda! Changmin akan segera datang, jika kau tak masak ia akan marah!” teriak Kyuhyun yang sudah kelihatan lelah berlari.

“Enak sekali kau menyuruh ku Cho Kyuhyun! Changmin itukan temanmu! Kenapa aku yang repot?” balas Ahra sewot.

Supir taxi yang menurunkan koper Changmin dari bagasi pun ikut terkesima melihat kakak beradik yang terus berlarian kesana dan kemari di halaman depan rumahnya yang sangat besar. Changmin memberikan uang taxi dan dengan secapat kilat supir taxi itu pergi seperti ketakutan melihat Kyuhyun dan Ahra.

“Kalian berdua, dari dulu selalu bertengkar seperti itu.” ucap Changmin yang akhirnya memberhentikan kegiatan Kyuhyun dan Ahra.

“Kau sudah datang?” tanya Kyuhyun, tangannya mengelap keringat yang mengalir sempurnya dari arah rambutnya.

“Kalau aku belum datang kau bicara dengan siapa tuan Cho?” tanya Changmin dengan wajah datar.

“Changmin ahh! Kau tumbuh tinggi! Bahkan lebih tinggi dibandingkan bocah tengil itu.” Puji Ahra.

“Hahaha gomawo Ahra noona. Kyuhyun kan tak pernah olah raga, bagaimana ia mau tinggi, lihat lengannya! Penuh dengan lemak! Aku bingung bagaimana putri pemilik Lens bisa menerima namja seperti dia menjadi suaminya.” ejek Changmin habis-habisan.

Kyuhyun hanya bisa mengembungkan kedua pipinya. Entah mengapa Changmin dan noonanya memiliki pola pikir yang sama mengenai dirinya. Hanya bedanya Ahra tak pernah menuruti perkataan Kyuhyun. Sedang Changmin menuruti setiap perkataan yang keluar dari mulut Kyuhyun, entah baik atau buruk pasti Changmin lakukan.

Noona, begopayo,” ucap Changmin dengan aegyo terbaiknya.

Setelah melihat Changmin beraegyo ria, bulu kuduknya berdiri sempurna. Entah ia melakukannya demi makanan atau ia benar-benar sudah gila, tapi aegyo bukan gaya Changmin. Ahra sama sekali tak sanggup menahan rasa gemasnya pada Changmin, ia pun langsung mengajak Changmin masuk kedalam dan bersiap memasakan sesuatu untuk Changmin.

“Hey, bocah tengil! Bawakan koper Changmin!” perintah Ahra.

Hyung,” lanjut Changmin dengan aegyo.

Melihat aegyo Changmin dan mata marah Ahra, Kyuhyun pun akhirnya menyerah dan langsung membawa koper Changmin masuk kedalam rumahnya. Ia bersumpah ini pertama dan terakhir kalinya ia berbaik hati pada Changmin dan akan membalas Changmin.

“Changmin ah, ini makan yang banyak!” ucap Ahra sambil memberikan beberapa lembar pancake untuk Changmin. “Ini untuk mu! 2 saja cukup! Ingat kau harus diet agar badanmu seindah Changmin~” lanjut Ahra.

“Ya, dengan tubuh begini saja Yoona sudah jatuh hati pada ku. Untuk apa aku diet lagi.” protes Kyuhyun.

“Sudah lah hyung~ Diet itu baik untuk hubungan rumah tangga. Siapa tau dengan melihat abs mu ia jadi lebih bergairah.” timpal Changmin yang membuat tangan Kyuhyun meremas paha Changmin dengan penuh amarah. “Ahkhh hyung… hyung sakit!!” erang Changmin.

Kyuhyun akhirnya menerima bahwa ia hanya mendapat 2 slice pancake. Setelah menghabiskan pancakenya Kyuhyun menuju kulkas dan mengambil susu segar yang selalu tersedia di dalam kulkas rumahnya. Segelas susu habis, Kyuhyun langsung mendekatkan dirinya pada Changmin yang asik duduk di sofa ditemani oleh Ahra. Mereka bertiga duduk memandang televisi yang membicarakan pernikahan putra Cho Corp dengan putri pemilik Lens.

“Ah, sudah tersebar,” ucap Ahra.

“Tentu saja! Aku inikan popular tidak seperti dirimu noona. Pernikahanku akan menjadi trending topic selama 1 tahun penuh di media.” balas Kyuhyun dengan nada paling tinggi.

“Aish anak ini. Sebaiknya kau menjemput calon istri mu dan bawa dia kemari, aku ingin mengajarinya memasak dan mengurus rumah.” perintah Ahra.

Kyuhyun pun bangun dan berdiri tegap menatap noonanya dengan senyuman lebar. Tanganya memberi hormat pada Ahra. “Siap kapten!” Kyuhyun langsung membersihkan dirinya lalu dengan menggunakan sports car ia melaju cepat menuju Lens.

“Eng..” erangan seorang gadis didalam pelukan laki laki bernama Donghae. “Hangat.” lanjutnya, yang kemudian membuka kedua matanya.

Saat matanya terbuka, ia terlihat terkaget kaget melihat Donghae yang tidur sambil memeluknya. Mulut terbuka lebat saat melihat wajah Donghae yang tertidur disampingnya. Matanya tak bisa berkedip. Saat ia mencoba melepaskan pelukan Donghae, akhirnya ia menyadari ia sudah tak memakai pakaian yang semula ia pakai.

“AAAA!!!” teriak Taeyeon.

“Berisik sekali!” Donghae pun terbangun dan memandnag Taeyeon yang sudah terduduk dilantai.

“Menjauh dari ku! Apa yang kau lakukan padaku?” tanya Taeyeon dengan nada ketakutan.

“Dengarkan aku dulu, kau itu semalam..”

“Jangan dekat-dekat!” Taeyeon bangun dari duduknya dan langsung berlari ke dalam pantry.

Donghae duduk terdiam, melihat perlakuan Taeyeon. Melihatnya berlari menjauhi dirinya dengan ketakutan. Wajahnya seperti jijik dengan dirinya. Apa mungkin ia berpikir yang tidak tidak? Ah perbuatan baik tak selamanya dianggap baik oleh orang – orang. Dan saat ini Taeyeon merasa bahwa Donghae telah melakukan hal yang tidak senonoh padanya walaupun pada kenyataannya Donghae lah yang menjaganya semalaman.

Dengan cepat-cepat dan terburu – buru Taeyeon langsung memakai pakaiannya yang sudah kering. Ia buka satu persatu kancing kemeja Donghae. Wangi parfume Donghae tercium dari kemeja itu. Diluar dugaan, Taeyeon langsung menghirup wangi parfume Donghae di kemeja tersebut dan terpaku beberapa menit.

Ting

Bunyi lift saat berhenti di lantai Donghae terdengar. Taeyeon pun dengan cepat keluar, mengejar lift yang sudah terbuka. Tanpa menggunakan alas kaki untuk melindungi kakinya yang indah, ia masuk ke dalam lift tersebut dan ternyata orang yang semula ingin turun di lantai tersebut mengurungkan niatnya untuk turun karena lantai itu terlihat sangat sepi dan sunyi bahkan lampunya saja belum menyala sempurna seperti biasanya.

“Bagaimana malammu dengan pangeran bodoh mu itu?”

“Oo! Eunhyuk –ssi~ kenapa kau tiba-tiba muncul disini? Kau tahu apa yang Donghae lakukan semalam?” tanya Taeyeon.

“Molla, yang aku tahu dia memukul ku.” balas Eunhyuk. “Ayo! Ku gendong!”

“Eh..”

“Kaki mu itu akan kotor dan sakit… Kasihan Donghae jika ia punya istri berkaki jelek.”

Saat pintu lift terbuka, Eunhyuk langsung menekan tombol ‘hold’ pada tombol – tombol yang ada didalam lift tepatnya di samping kanan pintu. Ia menurunkan tubuhnya menjadi posisi berlutut dan tangannya siap menerima tubuh Taeyeon. Mau tak mau ia menerima tawaran Eunhyuk. Perlahan beban di tangan Eunhyuk bertambah. Taeyeon naik ke gendongan Eunhyuk. Tubuh Taeyeon yang menurut Eunhyuk kecil, tak menjadi masalah bagi Eunhyuk. Beratnya tak seberat gadis-gadis pada umumnya. Menggendong Taeyeon seperti menggendong seorang adik perempuan.

Di dalam lobby, dua orang yang sudah berdiri disana 5 menit sebelum Eunhyuk dan Taeyeon sampai di lobby. Mereka berdua yang hanya menjadikan lobby Lens tepat untuk tempat bertemu, terkejut dengan dua orang yang keluar dari lift. Mungkin dunia sudah terbalik, dua orang yang sering saling mengutuki satu sama lain sekarang menjadi akur seperti kakak dan adik.

“Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Kyuhyun.

Molla, kita tanya saja! Eunhyuk oppa!!” panggil Yoona sambil melambaikan tangannya.

“Yoona ya!” Taeyeoon langsung menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Eunhyuk yang cukup lebar. “Jangan salah sangka dahulu, Na ya, aku hanya kasihan pada dirinya. Sejak semalam dia terlihat kacau.” jelas Eunhyuk sambil berjalan mendekati Yoona dan Kyuhyun.

Na ya, pangilan baru bagi Yoona dari Eunhyuk. Dan panggilan itu membuat Kyuhyun melirik tajam Eunhyuk. Na ya, terdengar sangat imut dan lebih akrab dibandingkan memanggil Yoona~.

“Ah, kalau begitu! Bye oppa, aku mau kencan dengan calon suamiku!” Yoona melambai dan meninggalkan eunhyuk berdua dengan Taeyeon.

Eunhyuk menurunkan Taeyeon dan menyuruhnya duduk di sebuah sofa yang terdapat di lobby Lens. Eunhyuk pun ikut duduk disamping Taeyeon. Ia duduk dengan santai disamping Taeyeon, menunggu Taeyeon mengeluarkan sebuah kata dari mulutnya. Tapi apa yang ia tunggu malah berganti dengan tangisan yang keluar dari mata Taeyeon. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa di depan gadis yang sedang menangis.

“Donghae babo!” desis Taeyeon yang terdengar oleh Eunhyuk

Waeyo? Apa yang dia lakukan?”

“Ia melamarku. Sekarang ia berhubungan dengan gadis lain.” jelas Taeyeon dengan singkat dan jelas.

“Ia bukan playboy. Mungkin yang kau lihat Jessica. Semalam aku melihat Donghae masuk ke dalam rumah Jessica. Mereka berdua memang sangat dekat satu sama lain. Tenang saja, Jessica akan menjadi miliku dan Donghae menjadi milik mu. Aku berani menjamin itu.” balas Eunhyuk seraya mengelus-elus punggung Taeyeon.

“Jessica? Jadi..”

“Kau salah paham, sebaiknya kau pulang dan ganti pakaianmu. Bukan kah kau harus menjawab lamaran Donghae hari ini? Mau ku antar?” tawar Eunhyuk.

“Kau baik sekali…” puji Taeyeon.

“Aku memang baik, aku ditakdirkan lahir untuk menjadi orang baik. Kau saja yang telat menyadarinya.”

Gadis bertubuh imut itu bangkit dari posisi duduknya. Taeyeon langsung berdiri diatas sofa tempat ia duduk. Eunhyuk yang duduk disampingnya memandangnya dari bawah. Taeyeon tersenyum jahil pada Eunhyuk. “Gendong~,” pinta Taeyeon dengan aegyo face.

Segera, Eunhyuk bangun dan memberikan pungungnya pada Taeyeon. Kali ini ia sama sekali tak ingin berdebat dengan Taeyeon. Ia benar-benar sudah cukup lelah berdebat dengan gadis yang ada digendongannya itu. “Eunhyuk ssi, gomawo.”

Sebuah camera handphone mengarah pada Eunhyuk yang sedang menggendong Taeyeon di punggungnya. Camera handphone itu berhasil mengabadikan momen tersebut dengan camera 8.0 megapixel, cukup jelas memperlihatkan wajah Eunhyuk dan Taeyeon. Gadis si pemilik handphone itu pun dengan bahagia mengirimkan photo tersebut ke sebuah nomer handphone yang ia yakini adalah nomer handphone Jessica.

Tidak menyadari ada kamera yang menjepretmereka, Eunhyuk dan Taeyeon tetap pada posisinya hingga sampai didepan mobil Eunhyuk. Dengan hati-hati Eunhyuk memasukan tubuh Taeyeon masuk kedalam mobilnya. Dan cara yang ia lakukan untuk memasukan Taeyeon, membuat kepala bagian atas Taeyeon mencium langit-langit mobil Eunhyuk.

“Ouch!”

“Aish, mian..”

“Lain kali hati-hati!”

Eunhyuk masuk dan langsung menginjak gas mobilnya. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Mobil Eunhyuk hilang dikeramaian jalanan Seoul. Mobilnya bercampur dengan mobil-mobil yang lain. Mungkin salah satunya adalah mobil Kyuhyun yang beberapa waktu lalu pergi dari Lens.

“Aku gugup.” ucap Yoona sambil memegangi dadanya merasakan detak jantung yang semakin cepat.

Waeyo, yeobo?” tanya Kyuhyun.

Yoona melirik Kyuhyun yang mengeluarkan panggilan menjijikkan ditelinga Yoona. “Yeobo? Jangan panggil aku seperti itu..” protes Yoona.

Kyuhyun terkekeh pada mendengar respon dari Yoona. Ia tau sang calon istri sangat tidak suka dengan panggilan-panggilan seperti itu. Yoona, lebih senang dipanggil ‘Yoo’ ‘Yoona’ atau seperti seperti Eunhyuk memanggilnya ‘Na ya’. Itu terdengar lebih baik dibanding jagiya atau pun yeobo.

“Baiklah Im Yoona.”

“Kyu, sudah jangan bercanda. Aku benar-benar gugup.. Kenapa eomma dan noona mu memintaku untuk belajar hal-hal urusan rumah tangga?” tanya Yoona dengan wajah yang sangat panik.

“Mungkin mereka ingin mendapatkan adik ipar dan menantu yang dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Dan lagi pula aku suka dengan wanita yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah.” Lanjut Kyuhyun.

“Menikah saja sana dengan ahjumma-ahjumma.. aku tak bisa masak yang aneh-aneh. Mencuci dengan mesin cuci saja aku tak tahu bagaimana caranya. Aish bagaimana ini? Kenapa sudah dekat dengan rumahmu..”

Bermula dari kekehan, sekarang Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Kakinya menginjak rem di mobilnya. Kyuhyun menatap Yoona dengan mata yang sangat tajam. “Gwaenchana, mereka akan mengajarkanmu.” ucap Kyuhyun. Perlahan Kyuhyun mengucup pipi Yoona yang sangat dekat dengan bibirnya. Ciuman dipipinya itu mewakili ucapan semangat dari Kyuhyun. Dan akhirnya mereka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah Kyuhyun.

“Kyu kau sudah balik? OH MY GOD ini calon istri mu.. cantik sekali..” puji Changmin sambil memasukkan keripik kentang banyak-banyak ke dalam mulutnya. Ia terpesona melihat Yoona

Annyeonghaseyo Im Yoona imnida.” Yoona menunduk pada Changmin.

“Oh~ hi, aku Changmin, Shim Changmin. Teman Kyuhyun dari kecil.” Changmin tersenyum pada Yoona.

Tak lama setelah perkenalan singkat, Ahra dan Nyonya Cho keluar dari sebuah ruangan. Mereka berdua keluar bersamaan lalu langsung menghampiri Yoona. Mereka langsung menculik Yoona menuju dapur. Mereka menculik Yoona tanpa meminta ijin dari Kyuhyun. Dan Yoona pun sekarang hanya bisa berpasrah dengan apa yang akan terjadi padanya beberapa jam kedepan.

“Kyu, kau pergi saja dengan Changmin. Kasihan dia belum jalan-jalan di Seoul.” ucap Ahra.

“Baik lah. Im Yoona, aku pergi ya.. semoga harimu menyenangkan!” Kyuhyun melambai dan langsung menarik Changmin keluar dari rumah.

Yoona menarap Kyuhyun lirih. Mata dan mimik di wajahnya mengatakan bahwa ia tak mau Kyuhyun meninggalkannya. Tapi sayang Kyuhyun menuruti ucapan Ahra. Ia pergi bersama Changmin meninggalkan dirinya didalam rumah keluarga Cho.

Mereka berdua, Changmin dan Kyuhyun masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Kyuhyun agak khawatir dengan Yoona. Ia tahu noonanya itu sangat ganas. Tapi disana ada eommanya yang pasti akan memarahinya jika ia tak menuruti ucapan Ahra. Sekarang dirinya harus terjebak di dalam sebuah mobil sport bersama Changmin sang sahabat hidup. Changmin yang sudah lama tak pulang ke Korea, karena itu ia terlihat sangat bersemangat melihat gedung-gedung yang berdiri di kota Seoul.

Seharian penuh dengan Changmin, ia benar-benar merasa masih muda seperti dulu kala. Pada akhirnya, matahari terbenam dan beberapa pesan singat dari Yoona yang menjelaskan apa saja yang diajarkan noona dan eommanya ajarkan. Mencuci, memasak, melipat baju bahkan sampai menggosok kamar mandi hingga kembali berkilau. Membaca pesan singkat dari Yoona, wajahnya terlihat sangat bahagia dan beberapa kali terlihat ada kekehan dari mulut Kyuhyun. Changmin yang ada disampingnya, merinding saat Kyuhyun terkekeh sendiri secara tiba-tiba.

“Kyu, aku mau ke club.” pinta Changmin.

“Aku sudah mau menikah.. Jangan ajak aku ke tempat seperti itu.” balas Kyuhyun yang jemarinya sibuk membalas semua pesan dari Yoona.

“Maka dari itu. Rayakanlah hari-hari terakhirmu sebagai pria lajang.” Changmin terus memohon pada Kyuhyun. “Jaebal Kyu. Aku ingin mencari yeoja disana.” lanjut Changmin dengan wajah memelas yang tidak pas dengan ukuran badannya.

Kyuhyun pun mengiyakan permintaan sahabat baiknya itu. Wajah Changmin yang sangat memelas, membuat perut Kyuhyun mual. “Baik lah tapi jangan lama lama, kasihan Yoona. Ini juga sudah jam setengah sepuluh.” Balas Kyuhyun dengan suara datar.

“Asik~, Kyuhyun. I love you!” Mulutnya mengkrucut ke depan seakan ingin mencium Kyuhyun. Sayang Kyuhyun tak ingin menerima ciuman dari Changmin. Tangannya mencegah badan Changmin yang mendekat padanya. Reputasinya pasti hancur jika ada orang yang mengenalinya dan berpikir bahwa dirinya adalah gay.

Mobil Kyuhyun pun berenti di sebuah club yang cukup terkenal di daerah Seoul. Saat kaki mereka masuk, suasana berbeda menerpa mereka. Seperti club malam pada umumnya, banyak yeoja dengan pakaian sangat minim. Lebih parahnya lagi, tema club malam mini adalah ‘mini skirt’. Semua yeoja menggunakan pakaian yang memamerkan paha mulus mereka. Mata Changmin langsung membelak lebar, sedangkan Kyuhyun lebih memilih duduk di meja bar dan meminum minuman yang menjadi minuman favoritenya.

“Kyu! Ayo sini!” ajak Changmin dengan suara mabuk ditengah-tengah orang yang menggoyangkan pinggul mereka kesana dan kesini. Tubuhnya dikelilingi banyak yeoja sexy.

Kyuhyun menggeleng dan terus meminum minuman yang terus diisi ulang oleh gadis di belakang meja bar. Kepalanya mulai berputar, pandangannya mulai mengabur. Kemudian ia berubah menjadi orang yang terlihat bodoh disana. Banyak yeoja mendekatinya, tapi ia hanya diam saja. Wajahnya memerah dan gairah di tubuhnya bertambah.

“Kyuhyun ah, ayo pulang!”

“Changmin ah~ kau gagah sekali! Cium aku~,”

“Najis. Kau mabuk berat Kyu.. gawat aku akan dijadikan Changmin panggang oleh Ahra..”

Changmin pun mengambil ponselnya dan mulai menelpon sahabatnya, Seohyun. Mungkin saja ia bisa membantu dirinya untuk menjelaskan pada Ahra dan Yoona tentang Kyuhyun yang mabuk berat saat ini. Setelah menjelaskan panjang lebar pada Seohyun ia terus duduk sambil mendengarkan godaan jahil Kyuhyun yang terdengar tidak masuk akal.

“Changmin! Mana Kyuhyun?” Seohyun pun akhirnya sampai ditempat.

Pandangan Seohyun langsung menuju seorang namja yang sudah ambruk di meja. Dengan meminta bantuan sang supir, Changmin dibantu supir milik Seohyun mengangkat tubuh Kyuhyun ke dalam mobil. Walau Changmin juga mabuk tapi setidaknya ia masih bisa berpikir dengan benar dan berdiri dengan tegap. Changmin pun membiarkan Kyuhyun berada di dalam mobil Seohyun dan dirinya menggunakan mobil sport Kyuhyun. Dengan mengikuti mobil Seohyun, Changmin yakin dapat pulang dengan selamat.

Ting Tong~

Yoona duduk khawatir di meja makan sambil memandang makanan yang ia buat dengan bantuan Ahra dan eomma Kyuhyun. Eomma Kyuhyun sudah tak sanggup menunggu Kyuhyun dan Changmin yang tak kunjung pulang. Bahkan Hyunil selaku ayah dari Kyuhyun, juga sudah lelah menunggu anaknya yang tak pulang pulang.

“Aish, itu pasti dia! Yoona cepat buka, kepalaku sudah sakit..”

Yoona pun mengangguk mendengar ucapan Ahra. Ia belari pelan dan membuka pintu rumah Kyuhyun.

“Kyu..” ucap Yoona terhenti melihat dua orang didepannya.

“Yoona ya…”

“Seohyun kenapa Kyuhyun bisa dengan mu….?”

TBC

Makasih sudah mau menunggu FF ini, sampai akhirnya FF ini keluar. Maaf ya kalau masih ada typo diatas sana. Comment sama Like ya~ bagi yang mau nanya nanya bisa follow twitter aku @haena918 😀

21 thoughts on “Lens [ Part 9 ]

  1. widy says:

    Author daebak ya daebak 😀
    Suka bget sma ff ini thor, semakin kesini semakin bnyak konflik ya?muehehe
    Kpan dilanjutin author?pliss jangan lama – lama ya author.aku selalu menunggu :”)

  2. Haretami - Park Hae Yeol says:

    aduh eonni aku ga bisa ngomong lagi, selama perjalanan (?) aku ngebaca ff ini ff paling daebak di tambang lagi ada abang nemo aku,, huweeeeee
    aduh, feelnya daebak, konfliknya juga paling bnyk di part ini dan ini juga lebih panjang, memuaskan… lanjutinnya cepat ya eonni ^_^

  3. Yoon Ri Chan says:

    waduhh…
    Yoona eonnie bisa salah paham tuh!!
    tpi sapa ya yeoja yang foto.in Hyukppa ma Taeyeon eonnie tdi???

  4. gsigmaawp says:

    DAEBAK eonni 🙂 konfliknya krasa, feelnya juga, eonni bakat bnget jdi pnulis, pnantianku dan mentions2ku gk sia sia :’)

  5. KyuNaSifany says:

    Astaga, jadi eunhyuk-jessica-hyoyeon, taeyeon-donghae, kyuhyun-yoona-seohyun._. Konflik baru lagi eon._. Semoga kyuna,dll bersatu._. Gaada seokyu, amin._.

  6. vidya says:

    author ff nya keren thor ><
    beneran deh aku nunggu ini ff berasa nunggu sinetron setiap minggu thor
    nga sabar buat baca setiap partnya yg jalan ceritanya nga bisa diduga 🙂
    author pliss jangan tamatin ini ff cepet2 author 😦

  7. Katy Yoona says:

    Huuaaa.. konflikny kayaknya dimulai ini. aku suka kalo udah masuk konflik gini. hihi.. moment TaeHae So sweet bgt. Kyuna jg.. Huuaaa…Eunhyuk ama sicanya marahan. huhuhu. .

  8. Aliah says:

    Pliiiiiiiiiiissss………… Jgn blg klo yoona eon salah phm am kyu oppa and seo eon, smoga yoona eon ga salah phm deh#amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s